
Nadya berjalan ke lapangan basket dengan tergesa-gesa. Untung saja upacara hari Senin itu belum dimulai. Nadya segera memakai topinya dan berbaris di barisan kelasnya yang paling belakang. Sudah jam tujuh lebih lima belas menit tapi upacaranya belum dimulai, biasa molor. Pak Yogi guru sejarah naik ke podium dan terlihat membetulkan mikrofon. Matahari sudah naik. Kalau sudah panas terik begini biasanya banyak anak yang pingsan kepanasan. Anak-anak mulai resah.
“Tes… Tes… Tes… satu dua tiga dicoba.” kata Pak Yogi mengetes suara.
“Upacara segera dimulai. Harap tenang dan berbaris dengan rapi.” lanjutnya.
Upacara pun dimulai. Pembawa acara membawakan acara dengan sangat baik. Pemimpin upacara bersikap tenang namun tegas. Pembina upacara hari itu adalah Pak Yogi. Saat memberi pidato semangatnya meluap-luap, tentu saja karena beliau guru sejarah. Begitu pula saat membacakan Pancasila. Seperti Bung Karno saat memproklamasikan kemerdekaan. Keren!
Tiba saatnya pengibaran bendera merah putih. Tiga orang yang terdiri dari dua cowok satu cewek berjalan bak paskibra sejati. Ketiganya memiliki postur tubuh yang tinggi dan mengenakan seragam paskibra. Mereka adalah Beta, Odis, dan Dini. Semuanya dari kelas 1-2. Dini yang berada di tengah Beta dan Odis, bertugas sebagai pembawa sang merah putih. Yussi dari kelas 1-6 sudah bersiap-siap di depan pianonya. Saat bendera siap dikibarkan, Dini membentangkan bendera dengan yakin.
Alamak! Bendera yang direntangkan Dini ternyata terbalik menjadi putih merah seperti bendera Polandia. Sang pemimpin upacara pun dengan cepat tanggap membalikkanankan seluruh pasukan. Beberapa anak tertawa kecil. Dimulai dari Tito yang mengajak bicara Azhiim di sampingnya. Mereka kemudian memprovokasi teman-teman mereka yang kemudian ikut tertawa.
Anak-anak itu bukannya menertawakan bendera yang terbalik. Melainkan sebuah benda yang menyangkut di pagar kawat yang terpasang di atas tembok tinggi di depan mereka. Benda itu entah dari mana asalnya sampai bisa tersangkut di sana. Sebuah bra yang lusuh itu tertempel di sana. Pak Salma yang mengetahui hal itu segera mengambil tongkat panjang dan mengambil benda itu. Suara tawa semakin terdengar ketika Pak Salma berjalan dengan tersenyum geli.
Pasukan pun dibalikkanankan lagi. Bendera merah putih sudah terbentang lagi dan siap ditarik ke atas tiang. Yussi mulai memainkan jari-jarinya di atas piano dan terdengarlah lagu kebangsaan Indonesia Raya yang juga dinyanyikan oleh kelompok paduan suara. Rani juga terlihat ikut dalam anggota paduan suara itu.
Kini upacara hampir selesai. Tinggal menunggu satu acara terakhir, yaitu pengumuman. Pak Yogi memberikan pengumuman tentang acara bulan bahasa yang akan diadakan bulan Oktober nanti, tiga bulan dari sekarang. Beliau berpesan agar setiap kelas mempersiapkan bazaar yang unik dan menyiapkan wakil-wakilnya untuk lomba-lomba yang diselenggarakan nantinya. Lombanya macam-macam, ada futsal dangdut, cerdas cermat, dance, fashion budaya, dan paduan suara.
Pak Yogi berbicara sekitar sepuluh menit. Padahal matahari sudah ada di posisi cukup tinggi. Beberapa anak sudah mulai tumbang, pingsan kepanasan. Ada juga yang jongkok di bawah bayangan pohon. Nadya mulai lesu, ia menutup mukanya dengan topi sambil tangannya disilangkan di depan dadanya. Dia sudah mulai keringetan. Panas! Ditengah-tengah panas begitu anak-anak kelas 1-2 yang baris di sebelah barisan kelas Nadya masih sempat-sempatnya bergurau. Beberapa dari mereka mulai berbisik-bisik. Kini mereka mulai ribut. Nadya mendengar keributan itu sambil tetap dengan wajah yang tertutup topi.
Nadya mulai bisa mendengar bisik-bisik anak kelas 1-2, tapi tidak begitu jelas dan ia tidak begitu mengerti. Dan ia pun tidak ingin mengerti. Panas ini membuatnya tidak bisa berpikir. Tiba-tiba ada yang menyenggolnya sampai hampir jatuh. Nadya menghela nafas panjang. Usil banget sih! Sebuah suara tiba-tiba memperingatkan Nadya untuk minggir.
“Awas, Nad! Jangan nginjek itu!” Suara Ineke mengagetkannya. Nadya melompat ke arah Ineke dengan sedikit terkejut. Lalu melihat ke bawah, di lantai lapangan itu ada air yang bening. Tapi hanya sedikit. Nadya heran dari mana jatuhnya air itu. Panas-panas begini mana ada hujan juga, pikirnya. Ineke membisikkan sesuatu ke telinga Nadya.
“Hah? Yang bener?” Nadya sontak kaget. Soalnya Ineke bilang anak kelas 1—2 yang namanya Elfin mengompol barusan dan sekarang dia pingsan. Mungkin karena malu? Atau emang kepanasan?
“Kok nggak ijin aja sih ke toilet?” tanya Ineke dengan tatapan sinis ke Anjuna.
__ADS_1
“Mungkin aja dia takut kan?” ujar Nadya.
“Bisa jadi. Tapi kok udah SMA masih ngompol gitu? Duh malu deh!” sekarang Anjuna yang menyahut.
Dan sepanjang perjalanan menuju kelas, Ineke dan Anjuna menggosipkan anak bernama Elfin itu. Emang dasar duo gosip!
Panas siang itu membuat Nadya kehausan. Cewek itu bergegas menuju kantin Bu Dwi. Sesampainya di kantin Nadya tidak bisa langsung mengambil botol minuman. Ia harus berjuang dulu di tengah kerumunan siswa yang membanjiri kantin Bu Dwi. Nadya terhimpit diantara anak-anak yang saling berebut untuk membayar, mengambil tempat duduk, mengambil makanan yang dipesan ataupun hanya sekedar pengen bersesak-sesakan.
Suasana kantin saat itu benar-benar penuh sesak. Nadya tidak bisa bergerak sama sekali. Baru berjalan dua langkah, sudah ada yang menghimpitnya dari belakang. Kerumunan itu seperti tidak bisa bergerak. banyak sekali anak yang datang membuat kantin jadi semakin penuh. Belum lagi ada yang ingin keluar dari kantin tapi tidak bisa, karena terhalangi kerumunan siswa. Nadya pasrah.
Tinggal satu langkah lagi Nadya sampai ke depan lemari es Bu Dwi, ketika di depannya Gilang mencoba membalikkan badannya. Ternyata Gilang melempar sebuah botol minuman untuk Fantoni yang berada di luar kerumunan. Nadya kesal sekali, dengan Gilang melempar botol minuman itu, Nadya menjadi semakin merasa terhimpit. Cowok itu bergerak terlalu banyak. Tahu begini ia juga mau menitip pada Gilang daripada berenang di lautan siswa seperti ini.
Akhirnya Nadya sampai juga di depan pintu kulkas, tapi percuma. Ia tidak bisa membuka pintu kulkas, karena terhalangi beberapa anak yang berdiri terhimpit di situ. Beberapa anak melonggarkan ruang untuk Nadya agar bisa membuka pintu kulkas. Nadya membuka pintu kulkas dengan cepat. Belum sempat mengambil botol minuman, pintu kulkas terdorong oleh kerumunan siswa dan tertutup lagi. Nadya pasrah lagi. Untung saja tangannya tidak terjepit.
Nadya merasa tidak sabar lagi menghadapi situasi itu. Kebetulan ada seorang pegawai Bu Dwi yang membawa nampan berisi dua mangkuk bakso panas. Pegawai itu dengan lantang berseru, “Awas panas! Awas panas!” Anak-anak melonggarkan lagi kerumunannya memberi jalan pegawai Bu Dwi. Nadya mengambil kesempatan untuk membuka pintu kulkas dan mengambil sebotol minuman. Akhirnya dapat juga!
“Perhatian temen-temen! Mumpung gurunya belum datang, kita mau bahas tentang bulan bahasa nih. Yuk, duduk yuk semuanya!” seru Mario yang menjadi ketua kelas saat anak-anak ramai di kelas. Semua anak duduk di kursinya. Tito terlihat akan keluar kelas.
“Mau kemana, To? Kita bahas ini aja dulu!” cegah Mario.
“Mau ngajak main Salma. Ikut nggak?” kata Tito santai.
“Salma anak kelas berapa? Nggak bisa ditunda dulu apa?” kata Mario.
Mario yang tidak begitu mengerti omongan Tito segera diberi tahu temen-temennya. Mereka bilang kalo Salma yang dimaksud Tito itu bukan siswa melainkan Pak Salma guru Pkn mereka. Mario kesal pada anak kurang ajar itu, meski sempat tertawa setelah mengetahui maksudnya. Tito pun duduk di kursinya dengan terpaksa, nggak jadi main sama Salma!
“Pertama-tama kita bahas paduan suara dulu, ya. Di sini tertulis pesertanya adalah semua anggota kelas. Jadi jangan ada yang bolos waktu hari-H. Kalo enggak nanti kita kena denda.” ujar Mario sambil membaca secarik kertas di meja guru.
__ADS_1
“Lagu yang dinyanyiin nanti bakal dipilihin secara random oleh juri. Jadi kita harus ngehapalin semua lagu.” lanjut Mario. Rani mengacungkan tangannya ingin bertanya, “Lagunya lagu apa?”
“Lagunya lagu kebangsaan kita dong.”
“Tapi kan lagu kebangsaan banyak?” Rahma menimpali.
“Makanya kan aku bilang kita harus ngapalin semuanya. Dan untuk itu kita perlu latihan. Kalo bisa yang sering. Mumpung masih beberapa minggu lagi lombanya. Rani, kamu kan anggota ekskul paduan suara, jadi kamu yang ngatur tentang lomba ini. Kostum, posisi, pembagian suara, de el el kamu yang ngurus. Oke?”
“Oke.”
“Nah, paduan suara udah deal nih. Sekarang kita bahas fashion budaya. Di sini syaratnya peserta dari masing-masing kelas ada lima orang. Itu minimal. Jadi yang punya bakat-bakat jadi model silahkan ikut, ya. Oh ya, dicatet aja ya namanya sekarang.” Mario meminta Rahma selaku sekretaris kelas untuk mencatat. Suasana kelas mulai ramai. Beberapa cewek sepertinya ingin ikut fashion budaya. Pertama-tama Ineke dan Anjuna mencalonkan diri mereka. Lalu Renny, cewek manis yang mirip Luna Maya. Dan yang terakhir, Dea yang nggak kalah tinggi dari Renny. Renny dan Dea diajukan teman-temannya.
“Ayo, siapa lagi nih yang ikut? Kok cuma segini?” kata Mario resah. Semuanya diam dan menoleh ke sana sini. Mereka saling mengajukan satu sama lain. Agak lama kemudian Mario melihat ke arah Rahma yang ada di sebelahnya. Anak itu lumayan tinggi dan imut.
“Ma, kamu ikut sana gih!” ujar Mario. Rahma kaget dan hampir salah tingkah. Bukannya nggak mau tapi kalau ditantang begitu dia jadi ciut.
“Udah ikut aja!” Mario mencatat nama Rahma di kertas catatan milik Rahma. Tidak ada alasan untuk menolak.
“Eh, kamu tuh yang rambutnya pendek ikut juga yah!” ujar Mario pada Nadya. Sontak Nadya menolak habis-habisan. Dia kan paling nggak bisa tampil di muka umum. Malu! Lagian dia pake kacamata dan model rambutnya juga nggak fashionable menurutnya, culun malah! Mario emang sengaja godain cewek mungil itu.
“Ketua kelas, aku yang makeup mereka aja gimana?” tantang Nadya.
“Emang kamu bisa?”
“Bisa dong. Mamanya kan punya salon.” kata Rani kemudian.
“Yaudah. Trus kalo udah nggak ada yang daftar lagi kita ke masalah bajunya yaa.”
__ADS_1