
Oppy membawa tiga gelas jus jeruk dan sepiring brownies buatan mama Nadya dalam sebuah baki besar. Nadya dan Mario baru saja menyelesaikan tiga soal matematika. Oppy yang baru saja dari dapur tentu saja kesal. Ia lalu meminta Mario dan Nadya mengajarkannya tentang tiga soal yang mereka kerjakan. Mario dan Nadya bertengkar tentang cara menyelesaikan soal yang paling mudah. Mario punya cara yang cepat, tapi Oppy tidak mengerti karena Mario hanya menebak jawaban akhirnya saja. Sedangkan Nadya punya cara yang terstruktur tapi sangat panjang. Oppy lebih memilih Nadya menjelaskan untuknya, Mario putus asa mengajari Oppy.
Mario meminum jus jeruk yang dibawa Oppy. Ia lalu mengambil sepotong brownies juga. Nadya dan Oppy serius sekali belajar, tapi mereka bahkan belum mendapat satu soal. Mario pun menyantap browniesnya sambil memperhatikan dua cewek di depannya belajar. Mulut Mario dipenuhi brownies, pipinya yang kurus jadi kelihatan gendut sekarang.
“Bukan gitu! Masa lima tambah enam jadi tiga puluh?” kata Mario sambil mulutnya dipenuhi makanan. Hal itu tentu saja membuat Nadya dan Oppy tertawa. Tapi Mario terus mengunyah sambil berbicara.
Mario kesal. Kedua temannya itu menertawakan dirinya, bukannya belajar dengan serius. Mario meminum jus lagi untuk menenangkan dirinya. Nadya dan Oppy malah ngobrol.
“Hei, hei. Ayo kerjakan pe er nya lagi. Malah ngobrol, sih!” ujar Mario kesal. Nadya dan Oppy belajar lagi dengan serius sambil menahan tawa mereka.
“Mario, cita-cita kamu apa?” tanya Oppy tiba-tiba. Mario diam saja, bingung.
“Cita-cita! Nadya cita-citanya pengen jadi penata rambut. Kalo kamu apa?” kata Oppy lagi.
“Hm. Aku pengen punya perusahaan game.” jawab Mario.
“Game? Kamu nggak pengen jadi polisi atau model? Kamu kan ganteng!” kata Oppy polos. Mario seperti tersedak saat meminum jusnya.
“Nggak, ngapain? Jangan jujur-jujur banget dong!”
“Yee! Jadi kamu merasa ganteng?”
“Emangnya cita-cita kamu sendiri apa?” ujar Mario pada Oppy.
“Ibu rumah tangga yang baik!” ujar Oppy cuek sambil menggigit browniesnya. Mario dan Nadya tertawa mendengarnya. Mario sampai menutup kedua matanya karena geli.
***
“Menurutmu kenapa Mario ke rumah Nadya? Padahal biasanya juga dia belajar ke rumahku. Rumahku sama rumahnya lebih dekat daripada rumahnya sama rumah Nadya.” kata Dea pada Rani yang kelihatan bimbang.
“Walaupun Mario yang suka Nadya, tapi tetep aja Nadya yang nggak setia sama kamu, Ran. Sahabatnya sendiri! Kalo dia setia sama kamu tentu dia bakal nolak Mario ke rumahnya. Udah terbukti kalo mereka bener\-bener pacaran.” Lisivia ikut memanas\-manasi suasana pagi itu.
Rani begitu sakit hati saat mendengar Mario pergi ke rumah Nadya. Dia duduk di lantai depan kelas 1\-3 bersama Ineke and the gank. Setelah mendengar penjelasan teman\-teman barunya itu, Rani menjadi semakin benci pada Nadya. Anjuna dan Ineke yang berada di sampingnya lagaknya menenangkan Rani yang kelihatan emosi, padahal mereka juga ikut memanaskan suasana.
Rani mulai menangis. Anak\-anak yang berada di sekitar kerumunan itu melihat Rani menangis menjadi\-jadi. Rani bahkan menyebut mantan sahabatnya, Nadya sebagai wanita tuna susila. Ia benar\-benar murka. Tito dan Azhim yang tahu kejadian pagi itu kasihan pada Nadya yang mulai dibenci teman\-temannya sendiri. Tapi merasa kasihan juga pada Rani yang telah dibutakan oleh egonya sendiri.
__ADS_1
“Kalo cewek patah hati bisa histeris gitu, ya?” kata Tito sambil memandang Rani yang tersedu\-sedu.
“Iya. Kalo kita cowok sih tinggal cari yang lain aja. Patah satu cari lagi yang baru!” ucap Azhim diikuti tawa keduanya.
Nadya masuk ke dalam kelasnya dan duduk di bangku barunya dengan tenang. Rani, Ineke and the gank melihatnya dengan pandangan sinis. Ineke malah punya rencana buruk untuk ngerjain Nadya. Tapi Rani menahannya untuk menunggu sampai pelajaran olahraga saja. Nadya membaca bukunya dengan tenang.
“Heh! Cewek genit lagi belajar, ya?” ejek Anjuna pada Nadya.
“Udah tau nanya!” kata Nadya judes.
“Yee. Judes amat! Kalo judes\-judes ntar cepet tua, lho!” ejek Ineke.
“Masalah buat lo?!” kata Nadya lagi dengan santai. Ia lalu membaca bukunya lagi dengan tenang. Tidak menghiraukan hinaan\-hinaan Ineke and the gank.
Jam pelajaran olahraga tiba.
Siang\-siang panas terik begini olahraga, ini yang bikin anak\-anak kelas 1\-3 males olahraga. Apa lagi Nadya, cewek satu ini emang hobinya duduk\-duduk di bawah pohon rindang kalo pas jam olahraga. Setelah ganti baju olahraga, anak\-anak kelas 1\-3 langsung berangkat ke lapangan basket. Tapi ternyata Ineke and the gank yang sekarang punya anggota baru yaitu Rani masih berada di dalam kelas.
Cewek\-cewek tukang gosip itu ternyata punya rencana jahat pada Nadya. Setelah ******** permen karet, Ineke melengketkan permen karetnya itu di bagian belakang rok Nadya yang disimpan di loker mejanya. Setelah selesai ia kembalikan rok Nadya di tempatnya semula. Beres dengan rencananya Ineke and the gank meluncur ke lapangan basket. Anak\-anak kelas 1\-3 ternyata sudah berbaris rapi bersiap untuk pemanasan.
Hari itu tidak ada aktivitas olahraga. Pak Hary sang guru mengumumkan bahwa sebelum ujian tengah semester akan ada ujian renang. Ujian itu dilaksanakan pada hari Sabtu mulai jam satu siang sampai jam lima sore di kolam renang Songgoriti. Pak Hary sempat menegur Nadya yang jarang ikut olahraga dan kerjaannya duduk saja selama jam pelajaran olahraga, untuk ikut ujian renang itu.
Nadya dan Oppy akan ganti baju di kamar mandi dekat kelas mereka, tapi nggak jadi lantaran Ineke and the gank ada di situ semua. Oppy mengajak Nadya ganti baju di dekat kelas 1\-6 saja, walaupun sedikit jauh yang penting aman dari omongan\-omongan Vampire Energy. Kok Vampire Energy? Iya, Oppy menyebut Ineke and the gank dan orang\-orang yang suka mengolok\-olok itu sebagai makhluk penghisap energi positif orang lain, yang bisa membuat orang itu kehilangan energinya yang berupa semangat dan motivasi.
Kamar mandi tempat ganti Nadya dan Oppy lumayan gelap soalnya ventilasinya kecil sekali. Tapi lebih aman gitu biar nyaman buat ganti baju. Setelah beberapa menit berada di kamar mandi itu mereka berdua keluar dan langsung menuju kantin dekat situ. Oppy dan Nadya kebetulan lagi kelaparan banget, jadi mereka jajannya banyak siang itu.
“Mas, tahu merconnya dua, ya.” kata Oppy kepada pegawai kantin.
“Banyak amat, Op.”
“Iya, Nad. Aku laper banget, nih.”
“Oh. Mas saya juga dua dong!” ujar Nadya. Oppy lalu tertawa melihat Nadya yang memesan sama dengannya.
“Untung kamu masih punya selera makan, Nad.” kata Oppy sambil berjalan keluar kantin.
__ADS_1
“Emang kenapa?”
“Ya kalo aku dulu udah nggak mood makan gara-gara Ineke bully aku.”
“Yaelah, Op. Tenang aja, aku nggak mempan kalo sama vampire energy itu, aku punya imun, kok!” ujar Nadya. Keduanya lalu tertawa sambil berjalan menuju kelas.
“Eh, Op. Rok ku ini kok kayak sempit banget, ya?” kata Nadya sambil membenarkan roknya. Oppy lalu memeriksa rok Nadya.
“Iya, tumben kamu pake rok yang di atas lutut. Apa jangan-jangan kamu tambah tinggi en gendut, Nad?” ujar Oppy.
“Mungkin, Op. Tapi perasaan tadi pagi masih longgar.” Nadya bingung. Tapi akhirnya biasa aja.
“Emang sih tadi kita pemanasan pas olahraga. Tapi masak pemanasan bisa bikin tambah tinggi?” kata Oppy heran. Nadya mengangkat pundaknya. Entahlah, mereka bingung.
Saat tiba di kelas, Nadya dan Oppy melihat Ineke berwajah resah begitu juga anggota ganknya. Nadya dan Oppy duduk santai di bangku mereka sambil memakan jajanan mereka. Ineke sirik abis!
“Kok bisa rok aku yang ada permen karetnya, sih?” kata Ineke kesal.
Setelah dilihat-lihat ternyata yang Ineke pakai itu rok milik Nadya yang tadi ia tempeli permen karet. Sementara rok yang dipakai Nadya adalah rok milik Ineke yang pada dasarnya emang ukurannya agak kekecilan sama Nadya. Tapi Nadya nggak tahu soal itu. Ineke juga diem aja, kalau masalah ini sampai terdengar ke bagian Tata Tertib sekolah, mampuslah Ineke and the gank. Jadi mereka diam aja, meski Ineke harus menahan kesalnya.
Dan sampai pelajaran terakhir hari itu, Ineke nggak mau ke mana-mana. Dia duduk terus di kursinya, nggak berdiri sama sekali. Pas pulang sekolah justru dia kena batunya, roknya nempel sama kursinya gara-gara permen karet itu sudah sangat lengket. Alhasil terjadi tarik-menarik antara Ineke and the gank dan kursi malang yang kena permen karetnya itu. Kasihan…
Sementara itu di rumah Nadya.
“Ma, Oppy mau nginep di kamar aku hari ini. Kita mau belajar buat UAS, Ma.” kata Nadya pada mamanya yang sedang memasak makan siang.
Oke, Beb!” ujar mama Nadya senang.
Malam hari itu Nadya dan Oppy belajar dengan serius di kamar Nadya. Kalau mereka bosan belajar mereka menghidupkan komputer dan ber-Facebook ria. Nadya dan Oppy saling pamer foto mereka di Facebook terutama foto-foto narsis mereka. Ih! Dan entah dari mana datangnya ide konyol mereka malam itu untuk menelusuri tiap-tiap temen es em a mereka dan melihat-lihat foto mereka.
Oppy membuka Facebook Argo dan alangkah terkejutnya ia. Di halaman Facebook cowok berhidung betet itu terdapat foto Andin dari kelas 1-1 yang kocak abis! Tampak dalam foto itu Andin mengurai rambutnya yang berantakan. Cewek asal Madura itu juga terlihat sedang mengenakan kebaya dan menggendong sebuah bakul yang berisi botol. Foto itu juga berisi kata-kata yang menggelikan. Banyak yang memberi jempol dan banyak juga komennya.
Oppy menunjukkan foto kocak itu pada Nadya. Oppy tertawa sampai matanya hilang. Nadya membaca komen-komen yang tertulis di sana. Nadya malah nggak tertawa sama sekali. Ia pikir itu bukan hal lucu. Malah termasuk pelecehan.
“Apa Andin juga merasa fotonya itu lucu? Mungkin sekarang dia malah malu. Liat nih, malah ditag ke gebetannya juga lagi!” ujar Nadya.
__ADS_1
Oppy yang sadar telah tertawa berlebihan menyesali sikapnya. Tapi setelah melihat foto itu lagi kumat lagi deh tawanya. Nadya melempar bantal ke muka Oppy yang tertawa nggak karuan itu. Oppy masih nggak bisa berhenti tertawa meski Nadya udah bermuka sebel. Bahkan mungkin sampai kebawa tidur. Pas Oppy tidur ia terlihat ngelindur dengan tertawa kecil. Nadya sempat mengira itu suara kuntilanak yang ada di film-film. Ternyata Oppy yang lagi mengigau. Ia sampai kaget dan bangun dari tidurnya.
“Ya ampun anak ini.” ujar Nadya sambil terkantuk-kantuk.