High School Incident

High School Incident
Kompetisi - 1


__ADS_3

Waktu itu pelajaran Geografi yang cukup membosankan. Tapi karena ada Pak Saiful yang ganteng dan kalem, pelajaran itu jadi nggak ngebosenin sama sekali. Apalagi ada keempat cowok nakal yang lagi berdiri di depan kelas saat itu jadi bikin nggak ngantuk. Ada Argo, Beta, Aldino, dan Aldhiyat yang sekarang tertunduk malu di depan kelas.


Keempat cowok itu dilaporkan Andin ke bagian Tata Tertib sekolah (Tatib) karena menyebarkan foto pelecehan pada Andin. Usut punya usut ternyata foto yang dilihat oleh Nadya dan Oppy beberapa waktu lalu itu dicetak dan disebarkan kepada seluruh anak kelas satu. Memang kalau hal itu udah bener-bener keterlaluan. Pantes aja sampai dilaporin ke Tatib.


Keempat cowok itu didampingi Pak Yudi dan Bu Eny bagian Tatib. Wajah kedua guru Tatib itu serem abis! Nggak usah dibayangin gimana wajah mereka! Cowok-cowok nakal itu menundukkan kepalanya. Pak Yudi kemudian angkat bicara. Beliau berkata kalau keempat cowok itu telah melakukan pelecehan terhadap teman mereka seangkatan. Mereka menyebarkan foto dengan tulisan-tulisan mengejek di media sosial dan menyebarkannya juga di sekolah. Dasar nakal!


Pak Yudi lalu menjelaskan kenapa cowok-cowok itu sampai berada di kelas Nadya waktu itu, mereka berempat dihukum dengan harus meminta maaf kepada semua siswa di depan kelas. Pak Yudi juga menambahkan bahwa keempat cowok itu akan mendapat poin pelanggaran dan surat peringatan. Pak Yudi lalu meminta cowok-cowok itu untuk mulai meminta maaf. Argo membuka mulutnya mewakili teman-temannya yang lain.


“Teman-teman. Perkenalkan nama saya Argo. Saya mewakili Beta, Aldino, dan Aldhiyat untuk meminta maaf atas perbuatan kami, yaitu menyebarkan foto yang berisi kata-kata tidak pantas di media sosial dan di sekolah. Kami menyesal atas perbuatan kami dan tidak akan mengulanginya lagi. Sekali lagi kami minta maaf ya teman-teman…” kata Argo dengan suara lembut yang lucu. Masih sempet-sempetnya cowok itu ngelirik ke Nadya.


“Iyaa…” ucap seisi kelas 1-3 berbarengan.


Beberapa anak tersenyum dan tertawa kecil melihat anak-anak bandel itu bersikap seperti anak kecil yang dimarahi orangtuanya. Keempat cowok itu lalu melanjutkan perjalanan mereka lagi ke kelas lain untuk melaksanakan hukuman mereka. Johan teman akrab Argo hanya bisa tersenyum geli melihat sahabatnya kala itu. Pelajaran Geografi pun dilanjutkan dengan tenang.


Waktu istirahat pertama Nadya dan Oppy tetap berada di dalam kelas. Mereka sedang sibuk membaca buku Biologi dengan serius. Keseriusan mereka berdua mengundang penasaran anak-anak cowok kelas 1-3. Cowok-cowok itu heran dengan kedua cewek itu, yang getol benget belajar. Tidak seperti cewek-cewek lainnya yang hobi ngegosip ataupun dandan.


“Nggak heran ya Nadya pinter. Kemana-mana bawaaanya baca buku terus.” kata Fantoni pada teman-temannya.


“Heh! Cewek kayak Nadya cari aja di Smaba. Banyak cewek macam dia di sana!” celetuk Gilang.


“Iya. Beda banget sama Zefi. Bolosan mulu!” kata Fantoni mengejek Zefi yang sibuk dengan hapenya.


“Ya jelas beda lah! Aku kan emang nggak hobi belajar. Tapi downhill!” ujar Zefi tak terima.


“Kalo kamu bolos terus ntar kamu mau masuk jurusan apa kalo udah kelas dua?” tanya Dias.


“IPA dong!” kata Zefi pede.

__ADS_1


“Idih! Kalo jurusan IPA anaknya kayak Zefi semua, bakalan nggak ada ilmuan atau dokter di negara kita nanti!” ejek Tito.


“Kok bisa?” tanya Dias.


“Iyalah. Bukannya penelitian atau belajar malah sepedahan mulu. Nggak bisa deh, nggak bisa kalo kamu masuk IPA.” kata Tito. Cowok-cowok itu lalu tertawa.


“Nggak masalah! Yang penting kan udah bisa nyari duit sendiri!” kata Zefi membela diri.


“Oh ya. Kamu bakal tanding di mana lagi?” tanya Mario.


“Di hatimu!” kata Zefi nggak serius mengundang tawa teman-temannya.


“Serius nih!” kata Mario lagi.


“Yaa minggu depan sih mau ke Thailand habis itu kalo udah selesai aku ada tanding lagi ke Korea.” ujar Zefi santai.


“Widih kereen!” seru teman-teman Zefi.


“Apaan sih? Nggak bolos kok, tapi ijin. Ijin!” seru Zefi.


“Ijin kok lama amat!” ejek Tito.


“Trus kalo kamu mau tanding di mana?” tanya Zefi pada Mario. Mario yang ditanya begitu nggak mudeng.


“Di hatinya Nadya!” kata Gilang pelan diikuti tawa cowok-cowok itu.


Bel istirahat pertama berakhir, berbunyi. Semua siswa masuk ke dalam kelas mereka masing-masing. Kelas 1-3 waktunya pelajaran Biologi, Bu Feni masuk ke dalam kelas.

__ADS_1


“Anak-anak, hari ini kita mengadakan kuis, ya. Kuisnya tanya jawab saja secara langsung.” kata Bu Feni sambil duduk di kusinya. Wajah bule Bu Feni waktu itu seperti biasanya, tegas dan cantik.


“Hadiahnya apa, Bu?” tanya Tito tiba-tiba.


“Hadiah?” Bu Feni bingung.


“Iya. Kan kalo kuis biasanya ada hadiahnya, Bu.” ujar Tito. Azhiim mencolek anak itu, dasar nggak sopan! Mau kuis minta hadiah segala!


“Em. Apa ya? Oh ya. Hadiahnya nanti ada, pasti saya kasih, kok. Pokoknya yang terbanyak jawab dia yang saya kasih hadiah.” ujar Bu Feni menanggapi serius pertanyaan Tito.


Anak-anak yang lain pun antusias dengan pelajaran Biologi hari itu untuk pertama kalinya. Biasanya juga pada males-malesan. Bu Feni meminta semua anak menutup buku mereka dan tidak berusaha curang. Semua menuruti kata Bu Feni. Kuis pun dimulai. Pertama-tama pertanyaan-pertanyaan yang materinya mudah dan sudah pernah diajarkan di kelas.


Anak-anak berlomba mengangkat tangan duluan. Anak yang sering menjawab waktu itu adalah Nadya. Nadya selalu lebih cepat mengangkat tangannya dari yang lain. Seperti adegan di film Harry Potter pas Hermione Granger mengangkat tangan, secepat kilat! Tito pun sebel soalnya Nadya terus-terusan menjawab dengan benar. Akhirnya Bu Feni memberi kesempatan pada yang lain untuk menjawab pertanyaan-pertanyaannya. Nadya dilarang menjawab sampai Tito berhasil menjawab satu saja pertanyaan Bu Feni.


“Apa nama latin kembang sepatu?” kata Bu Feni membacakan soal.


Seisi kelas hening, tidak ada yang mengangkat tangan. Bahkan Rani dan Mario. Tito tidak tahu jawabannya. Bu Feni menunggu dengan sabar. Nadya sepertinya ingin mengangkat tangan tapi dia tidak diperbolehkan sampai Tito berhasil menjawab satu saja soal. Semua diam membisu. Dan akhirnya Azhiim mengangkat tangan. Tito kaget teman sebangkunya itu mengangkat tangan. Ia jadi semakin berdebar-debar.


“Ya. Azhiim silahkan.” kata Bu Feni mantap.


“Enggak, Bu. Saya mau ijin ke kamar mandi.” kata Azhiim sambil beranjak dari kursinya dan berjalan keluar kelas diiringi sorakan seisi kelas. Kirain mau jawab! Akhirnya nggak ada yang mau jawab satupun. Bu Feni menoleh pada Nadya, siapa tahu anak satu itu agak diberi pencerahan otaknya.


“Ya, Bu. Saya tahu. Hibiscus rosa-sinensis.” jawab Nadya pede. Jawaban yang tepat!


“Duh, kalo pertanyaannya nama latin padi sih aku bisa, Oryza sativa. Giliran buat aku aja susah banget pertanyaannya.” sesal Tito.


Akhirnya Nadya berhasil menjawab pertanyaan paling banyak. Dan ia pun mendapat hadiah dari Bu Feni. Sebuah gantungan kunci berlambang singa yang kata Bu Feni oleh-oleh dari Singapura. Nadya seneng banget dapet hadiah dari guru. Ineke and the gank tentu aja sirik.

__ADS_1


“Gantungan kunci palsu aja kok senengnya minta ampun. Paling belinya di pasar sore deket pos ketan!” ujar Ineke sirik.


Nadya nyantai aja dikatain begitu. Bagi Nadya yang penting bukan harganya atau keasliannya, tapi nilainya yang berharga karena didapet dari seorang guru. Keluar istirahat kedua, Nadya dan Oppy pergi ke Tata Usaha (TU) untuk bayar SPP bulanan. Saat mereka melewati lapangan basket mereka melihat keempat cowok yang tadi dihukum lagi lari kelilingan lapangan bola di sebelah sekolah. Rupanya selain dihukum meminta maaf keliling sekolah, anak-anak nakal itu juga dihukum lari. Kasihan, panas-panas begini lari-lari.


__ADS_2