
Nadya duduk di depan meja belajarnya dengan mata bengkak. Cewek itu habis menangis seharian karena masalah di sekolah dengan Rani. Nadya menghidupkan komputernya dan membuka Facebooknya. Anak itu sedang tidak ingin belajar sekarang. Tapi suatu kesalahan besar ketika ia membuka Facebook. Baru di berandanya ia sudah melihat status-status ejekan dari Ineke, Anjuna, Rani, Lisivia, dan teman-teman yang lain tentang dirinya.
Status-status itu semuanya berbicara tentang ketidak setia kawanan Nadya yang berpacaran dengan Mario. Nadya baru ingat, dia digosipkan pacaran dengan Mario itulah yang membuat Rani marah padanya. Padahal ia tidak pacaran dengan siapapun juga apalagi Mario. Hm. Nadya meneteskan air mata lagi setelah merenungi status-status ejekan di media sosial itu. Siapa juga yang tega menyebarkan kabar bohong itu?
Nadya menutup Facebooknya. Cewek itu mulai membuka bukunya. Ia belajar. Tapi tidak bisa konsen tiap teringat pertengkarannya dengan Rani. Mama Nadya muncul di kamar Nadya tiba-tiba. Mamanya membawakan segelas susu hangat dan roti bakar dengan olesan margarin dan gula kesukaan Nadya.
“Nad?” panggil mama Nadya.
“Apa Ma?” Nadya menoleh ke mamanya dengan menutup sebagian wajahnya.
__ADS_1
“Fighting!!” ujar mama Nadya sambil mengepalkan kedua tangannya. Nadya jadi tersenyum melihat tingkah mamanya itu.
Mama Nadya sebenarnya tahu Nadya sedang ada masalah di sekolah. Mama tahu dari mata bengkak Nadya yang ditutup-tutupi. Tapi mama Nadya nggak mau menegurnya, Nadya pasti belum mau menceritakan masalahnya. Jadi mamanya hanya bisa memberi semangat pada Nadya.
Mama Nadya jadi ingat waktu Nadya kesal kalau mamanya menyalahkan dirinya sendiri gara-gara Nadya nggak bisa masuk ke Smaba. Saat itu Nadya dan mamanya hendak mengembalikan formulir dan dokumen pendaftaran masuk ke sana. Hari itu hari Jumat, hari ketika ratusan siswa melaksanakan ujian masuk. Seseorang di loket informasi di lobi sekolah itu berkata bahwa pendaftaran sudah ditutup sejak kemarin.
Mama ingat betul waktu itu ada seorang ibu yang mendekatinya. Ibu itu bertanya apakah mama Nadya juga ditolak mengembalikan formulir. Mama mengiyakan. Rupanya anak ibu itu juga terlambat mengembalikan formulir dan dokumen. Dengan langkah gontai Mama Nadya berjalan keluar gerbang sekolah itu dan hendak meneteskan air mata, tapi ia tahan sekuat tenaga. Lehernya rasanya tercekat. Semua itu salahnya karena anaknya gagal masuk ke sekolah itu. Gara-gara pertengkarannya dengan papa Nadya, mama Nadya mengajak Nadya keluar kota saat hari pendaftaran ke Smaba. Padahal semua dokumen sudah lengkap dan tinggal mengembalikan saja ke loket pengembalian formulir.
Nadya juga mengingat saat itu di kamarnya. Ia meneteskan air mata saat ingat mamanya kala itu berjuang memasukkannya ke Smaba. Saat itu Nadya tidak mampu berkata apa-apa. Badannya lemas, suara di kepalanya seakan mengoloknya. Impiannya bersekolah di sekolah favorit selama dua tahun dengan masuk kelas akselerasi. Kemudian bisa masuk universitas sebelum usianya tujuh belas tahun. Ternyata tinggal mimpi semata.
__ADS_1
Peristiwa itu benar-benar tidak bisa dilupakan Nadya. Jangankan masuk kelas akselerasi, masuk ke sekolah itu saja tidak. Nadya akhirnya terpaksa sekolah di Audams. Sekolah yang menurut orang-orang adalah tempat bersekolah anak-anak buangan. Anak-anak yang tidak diterima di sekolah lain. Anak-anak dengan nilai rendah, nakal, dan tidak berbudi pekerti yang baik.
Selama beberapa bulan Nadya sekolah di sekolah yang reputasinya buruk ini. Nadya sudah merasakan rasanya belajar di bawah baying-bayang pandangan masyarakat tentang sekolahnya. Ketika tiba hari Rabu, Kamis, Jumat, dan Sabtu, rasa takut dan malu mulai bergentayangan. Ketika orang-orang melihat siswa dengan seragam kotak-kotak hitam atau merah, almamater sekolahnya, mereka akan tahu dengan sekilas bahwa siswa itu adalah siswa es em a ‘buangan’.
Ketika masyarakat menudingnya seperti itu, Nadya merasa tidak punya wajah. Ingin sekali ia hancurkan sekolah itu. Perasaan itu semakin menjadi tatkala pikirannya berkata, “Untuk apa Tuhan mengirimku ke tempat ini? Untuk apa Tuhan membiarkanku di tempat buruk ini? Tuhan selalu punya rencana. Apa kau bisa menebak rencananya?” Ya, Nadya bisa menebaknya. Tuhan mengirim Nadya ke sekolah buruk itu untuk menghancurkan kemudian membangun sekolah yang lebih hebat dari sekolah lain!
Dengan cara itulah Nadya memotivasi dirinya supaya giat belajar selama ini. Untuk memacu dirinya menjadi yang terbaik di kelas, terbaik di sekolah. Untuk mengalahkan mereka yang mengoloknya karena berada di tempat itu. Untuk membuktikan mereka yang menjatuhkannya karena sekolah itu. Nadya akan mengangkat nama sekolah itu, menjadikan sekolah itu sekolah yang terbaik yang pernah ada di kotanya. Dan tidak akan ada lagi anak yang bernasib sama seperti Nadya, yang dihina dan dicemooh karena bersekolah di sekolah yang reputasinya buruk.
Nadya menangis tersedu-sedu memikirkan semua itu. Ia secara tak langsung memotivasi dirinya saat dirinya terjatuh seperti ini. Cewek itu lalu bangkit. Memakan roti panggang buatan mamanya dan menghabiskan susunya. Setelah itu Nadya menyingkirkan semua barang-barang yang tidak penting di atas meja belajarnya dan belajar dengan getol sampai tengah malam.
__ADS_1