
Anak-anak menurut saja. Mereka kemudian membahas baju yang akan dipakai dalam fashion budaya itu. Bajunya harus bertema Indonesia. Mau baju adat mau batik ataupun yang lainnya pokoknya harus Indonesia. Masalah baju diserahkan juga ke Nadya karena dia punya kenalan seorang penari yang punya persewaan baju.
“Selanjutnya kita bahas dance.” Anak-anak mulai semangat. Mereka antusias sekali masalah lomba yang satu ini. Terutama yang cewek.
“Dance-nya paduan antara modern dance dan tradisional. Harus sekreatif mungkin. Untuk lomba ini kita semua kelas satu yang ada tujuh kelas digabung dan hanya ada satu grup dancer.”
“Jadi kita ngelawan kakak kelas?” tanya Tito.
“Yap! Perwakilan dari tiap kelas cuma dua nih guys maksimal.” Yah! Anak-anak kecewa berat. Mereka kira bakal bisa lebih dari itu perwakilannya. Dan setelah dimusyawarahkan, akhirnya Lisivia yang menjadi wakil dari kelas 1-3. Sebenarnya Billy juga dicalonkan, tapi dia nggak mau. Dia lebih milih ikut bazaar.
“Oke sekarang kita bahas futsal! Perwakilan tiap kelas tujuh orang. Lima pemain inti dua cadangan. Cowok semua nih.” Cowok-cowok di kelas itu langsung bangkit lagi semangatnya. Beberapa sudah ada yang maju mengajukan diri. Ada Tito, Azhim, Gilang, Fantoni, Dias, Johan, dan Argo. Merasa sudah full team, Mario protes, “Lho, aku juga ikut dong. Dias! Kamu ikut Billy aja ke bazaar.”
“Enak aja! Ketua kelas mending jadi wasitnya aja!” kata Dias tak terima.
“Johan sama Argo mending kalian jualan di bazaar! Ngapain ikut futsal segala. Udah, bazaar aja!” ujar Mario memaksa. Tapi dua sejoli itu nggak mau dipindah ke bazaar. Kalo merangkap futsal dan bazaar sih mereka masih mau. Akhirnya tidak ada yang mau mengalah untuk Mario.
“Oke. Sekarang kita…” Mario baru akan melanjutkan membahas lomba cerdas cermat, tapi guru sudah datang. Semuanya kalang kabut kembali ke tempat duduk semula. Pelajaran siang itu pun dimulai.
Jam dua siang. Bel tanda pulang sekolah berbunyi nyaring. Anak-anak mengemasi barang-barang mereka dan bersiap pulang. Ketua kelas memimpin doa dan salam kepada guru. Sang guru keluar dari kelas. Anak-anak juga bersiap keluar, tapi dihadang oleh ketua kelas.
“Ayo, temen-temen kita lanjutin bahas bulan bahasa sebentar yaa.” ujar Mario. Kalau ketua kelasnya seganteng Mario, siapa yang mau nolak dan pulang? Yaa paling cowok-cowoknya aja. Azhim dan Tito sudah tak semangat lagi. mereka sudah tewas tertidur di jam pelajaran terakhir hari ini.
“Ayo-ayo cepet-cepet!” ujar Tito sudah tak sabar lagi. Beberapa cewek masih ngerumpi dengan asyiknya. Tito kesal, “Ibuk-ibuk, ntar aja yaa PKK-nya. Sttt!! Diem!” Cewek-cewek itu pun diam.
“Kita mau bahas tentang cerdas cermat dan bazaar. Oke siapa aja yang ikut cerdas cermat?”
“Nadya, tuh.” ujar Gilang yang tahu bahwa Nadya memang otaknya encer.
“Neni? Rahma?” ujar yang lain. Mereka saling mengajukan Neni dan Rahma. Azhim dan Tito malah mencalonkan mereka sendiri.
“Azhim! Azhim!” ujar Tito. Azhim pun nggak mau kalah.
“Tito! Tito!” Wah! Kisruh! Akhirnya Neni yang terpilih, Rahma tidak mau ikut dengan alasan kurang pede.
“Kurang satu orang lagi. Siapa nih?” kata Mario sambil memutar pandangan ke seisi kelas.
“Gimana kalo kamu aja. Bukannya kamu satu ekskul sama Nadya?” ujar Billy yang duduk paling depan. Seisi kelas rupanya mengamini perkataan Billy, bukannya sependapat kalo Mario otaknya encer juga, melainkan supaya cepat selesai pertemuan siang itu. Usulan Billy pun berakhir dengan catatan Rahma atas nama Mario.
“Ayo dong bahas bazaar!” ujar Billy tidak sabar. Billy memang ingin ikut bazaar. Anak ini ternyata hobi masak. Nggak tanggung-tanggung di sekolah dia ikut ekskul tata boga. Dan banyak juga yang tahu kalau dia ternyata ikut kursus masak di luar sekolah.
“Oke. Sekarang untuk bazaar. Satu tim ada lima orang. Aku sudah dapet nama di sini. Ada Billy, Johan, dan Argo. Kurang dua orang lagi.”
“Rani sama Rahma katanya suka masak, kan?” kata Nadya tiba-tiba. Mario bertanya lagi kepada teman-temannya yang ingin ikut bazaar. Ternyata Ayu mengacungkan tangan. Dia ingin ikut bazaar karena di es em pe dulu dia sering ikut. Akhirnya Rani dan Ayu yang terpilih untuk ikut bazaar. Rahma nggak mau ikut lomba banyak-banyak katanya.
Mario mengakhiri pertemuan siang itu dan berterima kasih kepada teman-temannya. Setelah itu seisi kelas berebutan ingin keluar duluan. Duo Tito-Azhim dan Johan-Argo yang paling semangat kalau disuruh pulang. Mereka yang paling depan menuju lapangan parkir.
Nadya pulang bersama Rani siang itu. Rumah mereka tidak jauh dari sekolah. Mereka berjalan sambil bergandengan tangan. Gandengan tangan itu sesekali berayun. “Nad. Menurutmu Mario itu ganteng nggak?” ujar Rani tiba-tiba. Nadya menghentikan langkahnya dan menatap wajah Rani. Cewek mungil itu berpikir sebentar lalu berjalan lagi. Rani heran dengan sahabatnya yang diam saja itu.
__ADS_1
“Dari kemaren kamu ngomongin anak itu terus, Ran.”
Muka Rani memerah seperti kepiting rebus. Kali ini giliran Rani yang diam saja, tapi senyum-senyum sendiri.
“Bener, kan! Jadi kamu suka ya sama Mario?” Nadya menghentikan langkahnya sambil menuding Rani yang tersipu-sipu.
“Bukannya kemaren-kemaren aku udah bilang aku naksir dia Nad? Kamu nggak nyimak sih!” ujar cewek gendut itu.
“Tapi jangan bilang yang lain ya? Just you and me. Ok!” kata Rani senang.
“Oke!” ujar Nadya sambil membulatkan jari-jarinya di depan matanya. Kedua sahabat itu lalu tertawa dan berjalan bersama sambil bergandengan tangan lagi. Setelah sampai di persimpangan jalan dekat rumah Rani mereka berpisah. Nadya kemudian berjalan sendirian menuju rumahnya yang tinggal beberapa meter lagi.
Baru beberapa menit Nadya rebahan di kasurnya, ada telepon dari Rani.
Nadya : Apa Ran?
Rani : Nad. Kata Dea Mario udah punya pacar, Nad!
Nadya : Oh. Trus?
Rani : Pacarnya itu Tara, Nad! Temen kita pas es em pe itu lho! Yang pinter itu!
Nadya : Iya. Trus?
Rani :Ya, gimana ya? Kamu tahu kan, Nad kalo Tara itu langsing banget! Nggak
Nadya : Trus?
Rani : Menurutmu apa aku harus diet?
Nadya : Apa Ran? Diet? Ngapain sih? Mending kamu belajar aja, Ran! Nggak usah mikirin yang gitu-gitu. Kamu kan masih remaja.
Nadya mulai resah dengan sahabatnya ini. Macam-macam saja kelakuannya.
Rani : Tapi, Nad. Selain itu kayaknya aku juga harus perawatan wajah biar tambah
kinclong.
Nadya : Hahh?! Nggak usah Ran! Kamu kok jadi aneh gini! Udah nggak usah
mikirin Mario. Dia kan udah punya pacar. Cari cowok yang lain aja!
Nadya bangkit dari kasurnya lalu duduk di meja belajar.
Rani : Siapa Nad? Aku udah terlanjur kesengsem sama cowok ganteng itu.
Kayaknya nggak ada cowok yang lebih ganteng lagi.
__ADS_1
Nadya : Em… Billy!
Rani : Apa Nad? Billy? Cowok banci itu? Nyebelin banget kan. Kayak kamu nggak
tahu aja!
Nadya : Em… Menurutku dia lumayan.
Rani : Nad. Dia itu judes banget, Nad! Aku kenal sama mantannya, Nad. Namanya
Kiki. Mereka putus gara-gara Billy si cowok judes itu. Masa pas mereka
jalan si Billy bilang gini, ‘kamu kok kucel gitu sih!’ Parah nggak tuh, Nad?
Masak ke cewek bilang gitu?
Nadya : Yaa… mungkin dia emang kucel kali.
Rani : Aduh, Nad pokoknya jangan jodoh-jodohin aku sama Billy. Aku nggak suka
sama dia. Aku naksirnya cuma ama Mario seorang. Titik!
Tut. Tut. Tut. Telepon di seberang diputus begitu saja oleh Rani. Yah… Terserah deh…
“Nad, ayo ganti baju, Nad. Salon rame nih!” kata mama Nadya saat melihat Nadya masih berseragam sekolah siang itu.
“Oke, Ma.”
Mama Nadya memang punya salon di rumahnya. Bukan salon yang besar, tapi banyak sekali pelanggannya karena mama Nadya memang professional dan ramah. Nadya pun didapuk jadi pegawai tetap di salon itu. Jadi selain belajar, Nadya juga bisa melakukan pekerjaan-pekerjaan di salon.
***
Keesokan harinya di sekolah.
Para siswa digegerkan dengan sebuah berita di koran. Berita itu tentang siswa SMAN 2 Batu yang membuat film dokumenter. Setiap siswa penasaran dengan berita itu. Mereka berebutan koran untuk membaca tulisan yang ada di sana. Kelas 1-3 tak luput dari kegegeran itu. Rani membaca dengan keras di kelas supaya temen-temennya ikut menyimak.
“Batu. Libur sekolah bukan berarti harus libur belajar. Masih ada kegiatan lain yang bisa dilakukan para siswa untuk mengisi waktu luang mereka. Seperti yang dilakukan para siswa es em a en dua Kota Batu.” kata Rani.
“Wooo…” seru seisi kelas. Mereka lalu menyimak lagi.
“Siswa es em a ini memanfaatkan waktu libur sekolah dengan membuat film dokumenter. Beberapa siswa ini membuat film pendek berjudul Pelangi. Sepintas judul film ini terdengar sederhana. Tapi itulah sebuah karya seni yang tidak mengenal batas ruang dan waktu.
Apapun judul filmnya, kata Garin, sang penulis naskah cerita, yang terpenting karya tersebut layak untuk dinikmati dan ditonton. Memang aneh judul film yang saya buat. Naskah ceritanya kita susun selama dua minggu. Kata Garin yang duduk di kelas satu ini…” lanjut Rani.
Apa?! Nadya kaget bukan kepalang. Ia mencermati kalimat yang dibaca Rani barusan. Garin sang penulis naskah cerita? Yang bener aja si Garin itu! Orang yang mencari judul itu Nadya! Naskah cerita kita susun selama dua minggu? Nggak gila apa anak itu?! Nadya juga yang menyusun naskah cerita itu sendirian, dalam sehari lagi! Dasar pembohong!
Nadya kesal. Namanya juga nggak disebutin sama sekali dalam berita itu. Tapi yaudahlah. Nadya juga nggak terlalu butuh namanya disebutin. Nadya pun nggak mau bergabung lagi dalam pembuatan film itu. Mending dia belajar aja di rumah. Sebel!
__ADS_1