High School Incident

High School Incident
Kebenaran yang terungkap - 2


__ADS_3

Hari terakhir sebelum UTS. Odis bukannya belajar malah main game sama Johan. Mereka lagi main game di warnet langganan Odis. Parahnya mereka pesen paketan lima jam. Gila nggak tuh! Odis dan Johan bermain dengan serius. Lagi seru-serunya main, Johan malah ngajak ngobrol Odis.


“Argh! Dikit lagi. Dikit lagi!” seru Odis saat permainannya kacau karena nggak konsen.


“Bentar, Jo. Bentar!” lanjut Odis.


“Jadi gimana? Setelah tahu Nadya pacaran sama Mario, kamu udah nyerah, Dis?” tanya Johan usil. Ia sebenernya pengen gangguin Odis biar nggak konsen mainnya.


“Kata siapa mereka pacaran? Enggak kok!” kata Odis konsen main.


“Lho, bener kok. Aku tahu dari sumber yang terpercaya! Dari pacarnya Nadya langsung!” kata Johan.


“Mario?” Odis menghentikan permainannya.


“Iya. Dia bilang sendiri. Masak nggak percaya?” kata Johan sambil terus asyik main.


“Kapan dia bilangnya?”


“Kapan, ya? Lupa.”


“Apa sebelum gosipnya nyebar?”


“Iya kali. Lupa aku. Hush! Itu bukan gosip tapi fakta!” kata Johan. Odis tiba-tiba beranjak dari tempat duduknya. Ia akan pergi menemui Mario saat itu juga.

__ADS_1


“Lho, Bray! Ini mainnya belum selesai kok ditinggal? Dis! Odis!” panggil Johan. Johan yang panik langsung menyusul Odis. Dia sebenernya sedih ninggalin paketannya yang masih sisa empat jam lebih.


Odis : Dimana?


Mario : Lagi futsal di tempat biasa. Kenapa?


Odis : Oke. Tunggu di sana. Jangan kemana-mana!


Mario : Oke.


Setelah menelpon Mario, Odis tancap gas bersama Johan menuju tempat futsal Mario. Sampai di tempat futsal itu Odis langsung mencari Mario. Begitu ketemu, Odis dengan emosi memukul wajah Mario. Mario sampai tersungkur ke tanah. Johan yang melihat kejadian itu segera menenangkan Odis. Ia menahan cowok yang lagi emosi itu. Mario meringis kesakitan.


“Kamu yang ngaku-ngaku pacaran sama Nadya, kan?” kata Odis emosi.


“Gara-gara gosip murahan yang nggak bener itu Nadya jadi kehilangan sahabatnya. Gara-gara cowok kayak kamu!” Odis makin emosi. Johan terus menahannya.


Mario menatap Odis dengan marah. Tapi dia nggak mungkin bales pukulan Odis. Dia nggak hobi berantem. Lagipula di sana banyak orang yang ngeliat. Odis dan Johan pun pergi dari tempat itu meninggalkan Mario dengan pipi yang membiru. Geng Ratoe Gembels yang lagi nongkrong di sana melihat kejadian itu. Rani lalu tersadar ia telah salah menuduh Nadya. Padahal biang keroknya sendiri adalah cowok yang ia sukai, Mario. Setelah hari itu Rani pun resmi keluar dari geng Ratoe Gembels. Resmi juga nggak suka sama ketua kelasnya itu.


***


Hari Senin.


Semua siswa melaksanakan UAS I yang sudah ditunggu\-tunggu sekian lama. Nadya mengerjakan semua soal Bahasa Indonesianya dengan lancar. Tapi terkadang kesulitan juga, soal Bahasa Indonesia memang gampang\-gampang susah, jawabannya sulit ditebak. Nggak kayak soal matematika yang udah pasti jawabannya.

__ADS_1


Seminggu kemudian UAS pun berakhir. Para siswa lega ujian telah mereka rampungkan dengan sebisanya. Ada hari libur selama seminggu sebelum hari\-hari belajar berlangsung lagi seperti biasa. Dan itu dimanfaatkan anak kelas 1\-3 untuk piknik di taman sekolah mereka. Nggak jauh\-jauh. Sekalian ngecat kelas mereka dengan warna baru.


Hari itu nggak seperti biasanya. Ratoe Gembels nggak sirik sama sekali sama Nadya maupun Oppy. Rani juga sekarang sendirian aja. Biasanya ngumpul sama Ratoe Gembels. Nadya sedang mengecat bagian pintu kelas. Rani melihat Nadya sedang sendirian juga. Rani memberanikan diri mendekati mantan sahabatnya itu.


“Nad.” kata Rani datar sambil mengecat tembok di sebelah pintu.


“Apa, Ran?” kata Nadya sambil masih mengecat pintu kelas. Ia tidak menoleh pada Rani.


“Aku salah, Nad. Maaf aku udah jahat ke kamu.” ujar Rani dengan mata berkaca\-kaca. Keduanya lalu menghentikan aktivitasnya dan saling berhadapan.


“Enggak, Ran. Aku yang salah. Maaf aku juga jahat ke kamu. Kamu jadi salah paham.” kata Nadya memegang pundak Rani.


“Enggak, Nad. Aku salah banget soalnya udah ngomong kata\-kata yang jahat ke kamu.” Rani mulai meneteskan air matanya.


“Enggak, Ran. Aku yang salah banget soalnya aku juga ngomong kata\-kata yang kasar ke kamu.” Nadya juga mulai berkaca\-kaca.


“Aku yang salah, Nad. Aku udah ninggalin kamu karena masalah sepele.” Rani mulai sesenggukan.


“Enggak. Aku lebih jahat karena mutusin persahabatan kita, Ran” Nadya mulai sesenggukan juga.


“Aku yang salah, Nad! Aku minta maaf.” tangis Rani mulai menjadi.


“Aku juga salah, Ran. Aku juga minta maaf!” Nadya juga mulai menangis.

__ADS_1


Kedua sahabat itu pun menangis berdua sambil berpelukan. Meski saling berebutan meminta maaf dan menyalahkan diri sendiri, toh mereka pada dasarnya mulai membangun hubungan lagi. Mereka menangis lama sekali. Melihat kedua sahabat itu, anak\-anak kelas 1\-3 terharu. Oppy, Rahma, Billy, bahkan Ineke terlihat berkaca\-kaca. mereka seakan ikut merasakan ikatan persahabatan Nadya dan Rani yang mulai terajut kembali. Ah! Indahnya persahabatan…


__ADS_2