High School Incident

High School Incident
Friends - 2


__ADS_3

Nadya dan Mario berjalan menuju koridor sekolah seusai ekskul matematika mereka. Nadya membicarakan olimpiade matematikanya besok di salah satu universitas swasta di Malang. Mario menyemangati Nadya dengan tulus. Rani berjalan dari arah koridor sekolah dan melihat Nadya dan Mario berjalan menuju ke arahnya. Saat itu Rani juga telah selesai ekskul paduan suara dengan Anjuna dan Lisivia. Ketiga cewek itu berbisik-bisik.


Nadya menyapa Rani seperti biasa sambil menyunggingkan senyum ramah pada ketiga cewek itu. Ketiganya membalas senyum Nadya, tapi Anjuna dan Lisivia tidak bersungguh-sungguh. Nadya merasakan ketidaktulusan mereka. Nadya khawatir kalau Rani terlalu sering bergaul dengan cewek-cewek tukang gosip itu nanti ia bisa berubah.


Nadya berjalan dengan Mario disampingnya. Hatinya merasakan getaran aneh tentang teman-teman baru Rani. Mario tenang-tenang saja berjalan dengan Nadya. Ia bahkan ikut menyapa Rani dan kawan-kawannya. Tapi Nadya segera sadar kalau dia sering-sering dekat Mario juga mengundang bahaya. Makanya sejak saat itu Nadya nggak mau terlalu deket sama Mario lagi. Takut ada gosip yang macam-macam.


“Ran. Ternyata Mario itu suka anime lho.” ujar Nadya suatu hari saat istirahat. Ia akhirnya bisa menghampiri Rani yang sendirian kala itu. Biasanya Nadya tidak bisa menghampiri sahabatnya itu, karena Rani sering bersama Ineke and the gank.


“Apa? Anin?”


“Anime, Ran. Film kartun Jepang. Khususnya Naruto.”


“Hm. Nad. Mulai sekarang kamu nggak usah ngedeketin Mario lagi deh.” ujar Rani kesal.

__ADS_1


“Maksudnya apa Ran?”


“Maksudku kamu nggak usah nyelidikin Mario lagi, yaa.” kata Rani dengan penekanan pada kata ‘nyelidikin’. Nadya akhirnya menangkap kesalahpahaman pada kata-kata Rani barusan. Nadya ingin menyangkal kesalahpahaman itu, tapi Rani sepetinya tidak mau mendengar kata-kata sahabatnya itu lagi.


“Ran? Kamu kenapa? Maafin aku kalau aku ada salah, ya, Ran.” ucap Nadya. Rani diam saja dan tidak menghiraukan Nadya. Ia pergi meninggalkan Nadya sendiri. Nadya hampir menitikkan air mata. Nadya merasa bersalah karena menyelidiki Mario selama ini. Ia tidak mengira Rani akan salah paham padanya karena ia terlalu dekat dengan cowok yang Rani sukai.


Mario melihat Nadya dan Rani saat itu. Ia juga tahu mata Nadya berkaca-kaca sekarang. Mario merasa kasihan pada dua sahabat itu. Sepertinya mereka berdua sedang bertengkar. Mario memutuskan ingin mendekati Nadya saat pulang sekolah nanti.


Baiklah. Mario akan mengikuti Nadya yang berjalan pulang sendirian saja. Lebih aman baginya daripada di kelas dengan tatapan tukang gosip di sudut kelas. Nadya berjalan seperti biasa menuju rumahnya, ia tidak tahu Mario mengikutinya dari belakang. Mario melihat cewek pintar itu dari belakang. Ia memantapkan hati untuk berbicara dengan Nadya. Sepanjang jalan memantapkan hati.


Kala itu Nadya sudah sampai di depan rumahnya. Nadya akan berjalan masuk ke pelataran rumahnya. Mario sudah kehabisan waktu memantapkan hati. Tidak ada cara lain. Mario memanggil Nadya dengan hati berdebar.


“Nadya!”

__ADS_1


“Mario?” Nadya kini berhadapan dengan Mario. Cewek itu menundukkan kepalanya. Ia jadi ingat Rani yang membencinya karena Nadya terlalu dekat dengan Mario. Nadya ingin menangis lagi, tapi ia tahan karena ada Mario di depannya.


“Ada apa?”


“Nadya, jangan sedih, ya.” ujar Mario dengan tegas. Nadya kaget setengah mati. Mati setengah kaget. Ia kira ketua kelasnya itu akan menembakknya. Ternyata ia salah paham. Mario lalu tersenyum pada Nadya sebelum ia berbalik pergi meninggalkan Nadya.


“Itu saja?” ujar Nadya dalam hati. Jantungnya masih berdetak kencang. Ia memejamkan matanya memikirkan kejadian hari itu.


Sekejap saja Nadya sudah berdiri di atas ayunan. Ia takut jatuh. Tiba-tiba Rani memanggilnya, “Nad!” Tak lama Mario juga memanggilnya, “Nadya!” Nadya merasa ia berada di alam mimpi. Bagaimana tidak? Mana mungkin ia berdiri dia atas ayunan sementara ayunan itu tidak mempunyai tiang penyangga. Dan lagi Rani yang mulai memusuhinya memanggilnya. Begitu pula Mario kenapa memanggilnya? Kenapa kedua orang ini memanggilnya. Kemana Nadya harus pergi? Ke arah Rani atau Mario?


Nadya lalu melompat dari ayunannya. Bukk!


Nadya jatuh dari kasurnya. “Nadya! Ada teman kamu tuh!” ujar mama Nadya sambil tertawa kegelian melihat Nadya jatuh dari tempat tidur. Nadya masih berusaha untuk sadar. Benar-benar mimpi! Mimpi yang amat buruk! Bagaimana mungkin Rani memusuhinya? Mimpi yang panjang dan melelahkan! Nadya lalu berusaha berdiri dan berjalan ke ruang tamu. Seorang cewek berambut panjang duduk di sofa ruang tamu. Itu Oppy, teman sekelas Nadya yang terkenal jarang masuk sekolah. Ada apa ia ke rumah Nadya malam-malam begini?

__ADS_1


__ADS_2