High School Incident

High School Incident
Bulan Bahasa - 2


__ADS_3

Jam dua siang.


Babak final cerdas cermat segera dimulai. Kelas Nadya tentu saja masuk. Kali ini hanya ada tiga grup yang ditandingkan. Kelas 1-3 mendapat grup B. Mereka melawan kelas 3 Alam 2 dan 2 Sosial 1. Para siswa dan guru yang menonton semakin banyak jumlahnya. Mereka memang senang menyaksikan perlombaan adu pintar. Para peserta sudah menempati tempat mereka masing-masing. Pembaca soal kali ini adalah guru matematika, Bu Wiwik.


Bu Wiwik mulai membaca soal pertama tentang matematika.


“Luas sebuah persegi empat adalah delapan puluh satu sentimeter persegi. Berapa keliling…” belum selesai Bu Wiwik membaca soal sampai selesai, Nadya memencet bel dan dipersilahkan menjawab.


“Yak, grup B.”


“Tiga puluh enam sentimeter.” jawab Nadya sangat yakin.


“Poin untuk grup B.” kata Bu Wiwik sambil tersenyum senang. Penonton bersorak kagum.


“Soal kedua. Jika bilangan ketiga suatu barisan angka adalah dua puluh tujuh dan bilangan ke lima adalah dua ratus empat puluh lima. Maka berapakah jumlah bilangan pertama ditambah bilangan kedua?”


Bel grup B berbunyi lagi. Seperti tadi, peserti lain belum sempat mulai memegang bolpoin mereka, Nadya sudah bisa menebak hasilnya.


“Dua belas.”


“Poin untuk grup B.” Tepuk tangan semakin keras terdengar. Para penonton berdecak kagum pada cewek berkacamata satu ini.


“Soal berikutnya. Apakah lawan kata dari pasca?”


Mario memencet belnya. Nadya dan Neni menoleh pada cowok berkacamata itu, Nadya agak kesal karena ia sendiri masih belum terpikir jawabannya. Tapi Bu Wiwik sudah mempersilahkan mereka menjawab. Mario tidak mau menjawab, ia menyerahkannya pada Nadya. Nadya melihat tim juri dan terlontar begitu saja jawaban dari mulutnya.


“Pra.” Sekali lagi jawaban benar. Suporter kelas 1-3 semakin ramai bersorak.

__ADS_1


“Soal berikutnya. Tanggal berapakah diperingatinya hari Kebangkitan Nasional?” Grup A, B, dan C saling berebutan membunyikan bel.


Pertandingan cerdas cermat berakhir dengan kemenangan kelas 2 Sosial 1 dan kelas 1-3 sebagai juara dua. Kelas 1-3 sangat bangga dengan kemenangan mereka dalam beberapa perlombaan memperingati bulan bahasa ini. Pertandingan selanjutnya mereka jadi lebih semangat untuk berpartisipasi. Seperti Rani dan Billy yang begitu antusias kala itu merencanakan masakan apa yang akan mereka tampilkan di bazaar nanti. Bersama Ayu, Johan, dan Argo mereka berdiskusi di dalam kelas siang itu. Lomba bazaar akan dilaksanakan esok hari, jadi sekarang mereka harus bergegas mencari bahan-bahan yang dibutuhkan.


“Besok karena ada lomba dance, fashion dan pengumuman pemenang lomba-lomba, pasti banyak yang dateng. Belum lagi kalo ada band undangan sama penonton dari luar. Kayaknya kita harus bikinnya masing-masing seratus biji.” kata Billy sambil menghitung-hitung di kertas catatannya. Ia mencocokkan juga dengan modal mereka yang didapat dari patungan teman-teman sekelas.


“Apa nggak kebanyakan, Bil? Mending lima puluh aja.” kata Ayu.


“Enggak. Acaranya kan sampe sore. Lagian kalo kita bikin yang enak-enak kan banyak yang beli juga.”


“Bener kata Ayu. Kita jangan bikin banyak-banyak. Entar modalnya nggak cukup. Mending bikin sedikit tapi laku.” kata Rani membela Ayu. Billy paling nggak seneng kalo Rani yang ngomong. Ia cuek.


“Aku mau bikin brownies aja.” seru Johan. Anak bermata sipit itu emang paling bisa masak brownies sama Argo. Anak yang lain setuju-setuju aja, mereka tahu brownies memang makanan yang paling disukai di sekolah mereka.


“Kalo aku usul kita juga bikin yang seger-seger aja, kayak salad buah atau rujak manis.” kata Ayu sambil memutar pensilnya.


“Es cincau udah ada yang mau bikin, kelas 1-2.” ujar Rani.


“Mereka bikin es cincau hitam. Kita bikin yang ijo aja. Rasanya lebih seger.” sambung Billy.


Diskusi itu berlangsung lama. Sambil duduk di lantai bagian belakang kelas, mereka mencatat barang-barang apa saja yang harus dibeli. Johan dan Argo ditugasi membuat brownies mereka. Ayu diberi tugas membuat dekorasi meja bazaar. Sedangkan Billy dan Rani bertugas membeli bahan-bahan di pasar untuk es cincau dan rujak manis.


Sebenernya Billy dan Rani ogah banget pergi berdua. Bukan masalah mereka saling benci, tapi mereka saling ribut tentang buah apa yang bakal dibikin rujak. Rani pengen buah bengkuang, mentimun, belimbing, dan mangga, tapi Billy bilang kurang variasi buah. Jadi Billy ngotot tetep beli apel, nanas, dan pepaya. Akhirnya belanjaan mereka banyak banget. Rani yang ngebawa sampe capek gara-gara Billy masih ngajak muter-muter pasar beli ini itu.


“Udah, Bil. Mau beli apa lagi, sih? Emang uangnya cukup?” kata Rani sambil meletakkan belanjaannya. Billy cuma menoleh bentar banget. Rani udah kesel banget, dia sebenernya pengen cepet pulang.


“Sini.” Billy mengangkat belanjaan Rani. Semuanya! Dia angkat sendiri. Rani kaget dan kelimpungan.

__ADS_1


“Lho? Apaan Bil?”


“Nih, beliin gula jawa!” perintah Billy pada cewek bongsor itu sambil memberi selembar uang sepuluh ribuan.


Billy dan Rani sudah pulang dari pasar. Mereka kini ada di rumah Nadya. Billy ada di ruang tamu sambil meminum jus jeruknya. Rani dan Nadya melihatnya dari dapur dengan bengong. Nadya memukul pundak Rani dengan serbetnya. Pukulan itu cukup membuat cewek itu meringis kesakitan.


“Masak aku ngajak dia ke rumahku? Aku juga nggak mungkin ke rumahnya terus masak cuma berdua aja kan?” ucap Rani pada Nadya yang sedang mengupas bengkuang.


“Kenapa kalian nggak masak bareng berlima aja? Sekalian bikin dapurku pecah?” kata Nadya kesal.


“Sori Nad. Johan sama Argo maksa bikin masakan mereka sendiri. Kamu tau kan mereka itu nggak terpisahkan. Ayu juga bikin dekorasi meja aja. Jadi tinggal aku sama cowok judes ini.”


Nadya masih mengupas bengkuang dengan kesal. Rani ikut mengupas nanas.


“Kalian kenapa?” kata Billy tiba-tiba mengejutkan kedua cewek berkacamata itu.


“Bil, kamu sama Rani kalo mau masak, masak aja. Aku nggak mau bantuin. Kalo udah selesai beresin dapur, oke?” kata Nadya seraya pergi dari dapurnya yang berantakan. Tinggal Rani dan Billy di sana berdua. Suasana jadi hening. Tapi beberapa menit kemudian dapur itu udah ribut-ribut lagi. Billy lagi buat cincau di panci, saat itu Rani lagi mau manasin bumbu rujaknya. Semua kompor dipake Billy, jadi Rani mesti nunggu giliran kalo mau pake kompor.


Keributan itu berlangsung sampai jam lima sore. Setelah semua masakan selesai Billy dan Rani kerja bakti bersihin dapur Nadya. Billy cuci piring Rani ngepel lantai. Billy bilang dia nggak percaya kalo Rani yang cuci piring, bisa-bisa semuanya dia pecahin. Makanya Rani dikasih pekerjaan yang ringan-ringan aja. Misalnya ngepel.


“Ringan apaan?” omel Rani ketika ia dipaksa Billy mengepel lantai.


Nadya masuk ke dapur saat semuanya udah beres dan rapi. Ia lalu mencomot mangga ke dalam bumbu rujak. Ia meringis saat merasakan mangga itu begitu asam. Nadya juga mencoba es cincau dalam segelas besar. Hampir saja kepalanya dipukul Billy dengan serbet.


“Itu nyicipin apa kalap?” kata Billy sewot.


“Yee! Biarin aja. Kalian kan pake dapurku, jadi ini cuma sedikit bayaran aja. Belum lunas semua, ya!” ujar Nadya lalu menikmati es cincau buatan Billy yang segernya minta ampun. Rasa cincaunya kenyal-kenyal gimana gitu! Billy dan Rani jadi pengen minum juga.

__ADS_1


__ADS_2