High School Incident

High School Incident
Isu-isu di Sekolah - 1


__ADS_3

“Nad! Bangun, Nad! Kamu nggak sekolah?” ujar mama Nadya ketika Nadya masih berselimut jam enam pagi hari Kamis itu.


“Enggak, Ma. Libur tiga hari sampe Sabtu.” jawab Nadya dengan mata masih terpejam.


“Walaupun libur ya tetep bangun pagi, dong. Bantuin nyapu, ngepel, sama nyiram bunga. Bentar lagi ada yang mau ke salon Mama, nih.”


Nadya bangun dari tidurnya. Rambutnya yang pendek acak-acakan. Nadya merapikan kasurnya dengan lesu. Ia lalu masuk ke kamar mandi. Cewek itu mandi dan mencuci rambutnya. Setelah mandi dan berganti baju, ia menyapu lantai rumahnya, mengepel, dan menyiram bunga.


Nadya sedang berada di salonnya sekarang. Ia merapi-rapikan rambutnya sambil melihat cermin. Anak itu menunggu kalau-kalau ada pelanggan datang. Benar juga. Seorang perempuan masuk ke halaman rumah Nadya dan terlihat akan menuju ruangan salon. Nadya seperti mengenal orang itu. Siapa ya? Orang itu masuk ke dalam salon.


“Oppy?”


“Hei, Nad! Aku mau hairmask, nih. Sekalian mau main. Hehe.” kata Oppy ceria lalu duduk di samping Nadya.


“Kamu sendirian, Op?”


“Iya, tapi Rani katanya juga mau ke sini bentar lagi.”


“Rani? Kok dia nggak bilang aku kalo mau ke sini?” ujar Nadya sambil berjalan menuju tempat keramasan. Oppy mengikutinya dan segera berbaring untuk dikeramasi.


“Nggak tahu, Nad. Dia bilang kemaren katanya mau ke sini juga pas aku bilang mau ke sini keramas.”


Nadya mulai membasahi rambut panjang Oppy dan mengoleskan shampo. Setelah lima menit dishampoi rambut itu ia cuci lagi. Setelah selesai dicuci, Oppy duduk di kursi di depan cermin. Nadya mencari krim hairmasknya di etalase. Setelah itu mulai memoleskan krim ke rambut Oppy.


“Mama kamu kemana, Nad?”


“Di dalem, Op.” ujar Nadya kalem. Oppy mengambil majalah dan mulai membaca. Nadya masih mengoles krim.


“Hai, siapa ini?” kata mama Nadya yang tiba-tiba masuk ke ruangan salon.


“Oh, halo Tante. Saya Oppy yang waktu dulu pernah keramas juga di sini.” ujar Oppy sambil mencium tangan mama Nadya.


“Oh, Oppy. Kamu sendirian aja?”

__ADS_1


“Iya Tante. Hehe.”


Mama Nadya lalu masuk ke dalam lagi. Tinggal Oppy dan Nadya di ruangan itu. Oppy lalu memulai obrolan dengan Nadya.


“Nad, kemaren kamu berangkat ke sekolah bareng Mario?” tanya Oppy tiba-tiba.


“Bareng apa?”


“Iya, kata Ineke kamu bareng sama Mario kemaren waktu pagi-pagi.”


“Oh. Enggak, Op. Kita cuma barengan aja masuk ke gerbangnya. Lagian Ineke kok didengerin.” ujar Nadya cuek.


“Yaa aku kan khawatir, Nad. Ntar kamu jadi korbannya Ineke sama kayak aku.”


“Iyaa.”


Rani datang saat Oppy sedang disteamer. Nadya saat itu sedang membaca buku pelajarannya, Biologi.


“Mau ngapain, Ran?” tanya Nadya sambil tetap membaca bukunya. Rani sewot. Buku Nadya ia tutup paksa dan ia lempar ke meja.


“Hm. Liburan gini masih aja belajar. Nad, aku mau potong rambut, nih. Kamu bisa nggak?” ujar Rani sambil melepas ikat rambutnya.


“Kamu ngapain mau potong rambut? Bukannya bagusan panjang gitu. Mending panjangin kayak Oppy gitu.” kata Nadya sambil menunjuk Oppy. Oppy yang lagi diomongin senyum-senyum aja.


“Enggak, Nad. Aku mau potong aja. Udah risih.”


“Aku nggak bisa!” ujar Nadya sambil mengambil bukunya lagi.


“Jahat banget sih!”


“Bukannya gitu! Aku masih belum bisa potong rambut. Mamaku yang bisa.”


“Oh.”

__ADS_1


Hari itu rupanya hari seneng-seneng ketiga cewek itu di salon. Eh, dua deng! Oppy hairmask, Rani potong rambut sekaligus keramas. Rani potong rambut model shaggy sebahu. Sedangkan Nadya belajar terus. Rani jadi sebel liatnya. Kalau Oppy sih biasa-biasa aja.


“Woi, Nad!” teriak Rani membuat Nadya kaget.


“Apaan sih? Kalian pulang aja kalo mau ganggu aku!” Nadya super sewot. Kali ini ia bener-bener pengen belajar.


“Idihh, sewot amat!” Rani lalu membuka-buka majalah dan menemukan artikel yang mengejutkannya.


“Astaga!” teriak Rani heboh. Ia lalu mengajak Nadya dan Oppy melihat isi artikel itu.


“Apa sih, Ran?” ujar Nadya dan Oppy.


“Pemerintah katanya akan mencanangkan tes keperawanan bagi siswa es em a.” kata Rani membaca artikel itu. Nadya dan Oppy menyimak dengan teliti artikel yang dibacakan Rani.


“Nggak masuk akal!” kata Nadya ketika Rani telah sampai pada kalimat terakhir di artikel itu. Oppy pun manggut-manggut setuju dengan Nadya.


“Apa pemerintah segitu nggak punya kerjaannya sampe punya acara buat tes keperawanan kita?” kata Rani memandangi artikel itu.


“Mungkin.” kata Oppy sambil memutar bola matanya.


“Kita sekolah kan cari ilmu. Kenapa harus di tes keperawanan segala? Emang apa hubungannya perawan atau nggak perawan sama prestasi kita di sekolah. Mungkin aja kan temen kita yang udah nggak perawan misalnya udah nikah. Sekarang kan banyak yang nikah muda. Emang negara ini cari penerus bangsa apa calon istri? Aneh-aneh aja!” keluh Rani kesal. Ia lalu meninggalkan artikel itu dan membuka halaman lain.


“Wuoww!!” teriak Rani histeris untuk kedua kalinya. Nadya dan Oppy kaget juga untuk kedua kalinya.


“Apa sih?” Nadya mulai kesal.


“Justin Bieber, Nad. Keren banget!!” kata Rani sambil menunjukkan foto dan artikel Justin Bieber. Cewek yang satu ini memang suka banget sama pelantun Baby itu. Tiap hari dengerin lagu Justin, tiap hari juga ngeliatin fotonya. Update terus soal Justin di Facebook atau sekedar liat-liat artikel tentang Justin di internet.


“Udah nggak usah baca begituan. Mending baca buku pelajaran!” ujar Rani sambil membaca bukunya.


“Yee. Harinya aja libur masak belajarnya nggak libur?” Rani masih asyik membaca artikel tentang Justin di majalah itu. Terkadang berteriak sambil memandang wajah cakep Justin. Nadya yang lagi konsen belajar jadi terganggu.


“Baca di luar aja sono!” kata Nadya saking kesalnya. Rani cuek aja.

__ADS_1


__ADS_2