
Mario lagi galau.
Udah lama sejak dia nggak lagi ngobrol sama Nadya. Mario sering banget sms Nadya, tapi sering juga nggak dibales. Nadya cuma bales kalo Mario sms hal yang kiranya penting banget, misalnya tentang pe er atau ulangan atau masalah pelajaran. Kalau Mario sms yang bunyinya ‘hai’ atau ‘lagi ngapain, Nad?’ pasti nggak dibales.
Pas di sekolah juga Mario nggak pernah disapa sama Nadya. Maksudnya Nadya nggak pernah nyapa duluan. Cewek satu itu emang super cuek. Kalo ngomong pun irit banget, nggak kayak dulu pas awal-awal masuk sekolah. Mario bahkan curiga kalau Nadya nggak mau deket-deket sama dia gara-gara udah banyak yang tahu kalau Rani suka sama dia. Rani sama Nadya kan temen akrab.
Tapi galaunya Mario cuma sebentar aja. Pas tahu kalo bakal ada olimpiade se-kota Batu, Mario udah ngira kalau dia sama Nadya bakal ditunjuk ngewakilin sekolah. Hal ini bisa dijadiin kesempatan buat ngedeketin cewek itu lagi. Eits! Mario bukannya udah punya pacar? Tara temen es em pe Nadya? Oh, ternyata mereka emang masih pacaran. Trus kenapa Mario pengen deketin Nadya?
Entahlah!
Dan hari itu di sekolah, Mario dan Nadya duduk berhadapan di depan kelas mereka. Kedua anak itu sedang belajar untuk persiapan olimpiade matematika yang akan diadakan beberapa minggu lagi. Mario nggak konsen belajarnya dan terus ngeliatin Nadya. Lain halnya dengan Nadya, cewek mungil itu setia banget sama bukunya. Dari tadi membaca sambil menulis-nulis sesuatu.
“Apa?” kata Nadya ketika Mario ketahuan ngeliatin dia. Mario jadi gelagapan.
“Enggak apa-apa, Nad.” ujar Mario berusaha kalem.
Sempat lewat beberapa cewek dari kelas lain dan ngomongin Nadya yang lagi berduaan sama Nadya. Mereka berbisik-bisik sambil tertawa-tawa kecil. Nadya jadi risih dan membereskan buku-bukunya.
“Lho, mau kemana, Nad?” tanya Mario resah.
“Aku mau belajar buat UAS.”
“Di mana?”
“Di kelas.” ujar Nadya kaku.
Seorang cowok kurus lewat di depan mereka. Cowok itu menyapa Mario dengan genit, “Hai Mario…” sambil senyum-senyum nggak jelas.
Nadya heran, ada aja makhluk aneh kayak gitu. Nadya segera bergegas masuk ke dalam kelas. Mario tertegun melihat cewek itu. Ia juga ikut masuk ke dalam kelas dan duduk di tempatnya. Dari belakang ia melihat Nadya yang serius belajar. Mario merasa nggak punya kesempatan ngedeketin Nadya kalau gini caranya.
Keluar istirahat Mario nongkrong dengan Tito dan Azhiim. Johan dan Argo yang habis jualan brownies datang juga duduk-duduk bersama mereka. Ini kesempatan Mario untuk menyebar berita kalau dia dan Nadya sedang dekat. Mario merencanakan ini supaya akhirnya Nadya mau melihatnya dan sadar kalau Mario lagi pedekate.
__ADS_1
“Kalian pacaran?” tanya Argo penasaran.
“Ya semacam itulah.” kata Mario bohong.
“Pantesan tadi kalian berduaan.” kata Tito.
“Udah berapa lama?” tanya Argo. Johan risih melihat Argo yang penasaran banget itu.
“Baru aja kok.”
Jadilah cowok-cowok kelas 1-3 siang itu bergosip ria. Mario senang rencananya berhasil. Sebentar lagi bakal ada rumor yang tersebar di sekolah kalau Mario dan Nadya pacaran. Dan benar saja. Dalam beberapa hari topik pembicaraan di sekolah itu adalah seputar Mario dan Nadya. Ada yang senang ada juga yang benci.
Anak-anak yang senang soalnya mereka pikir Mereka berdua sama-sama pinter, jadi kalau pacaran mungkin nggak apa-apa sih. Anak-anak yang benci tentu aja golongannya Ineke and the gank. Mereka malah menyebut Nadya itu cewek genit dan menusuk sahabat sendiri. Sedangkan yang paling sedih diantara gosip-gosip itu tentu saja Rani.
Rani kaget saat mendengar berita itu dari Ineke. Ia jadi nggak napsu makan beberapa hari. Males tidur, males belajar, tapi tetep aja nempel sama Nadya. Nadya yang digosipin sendiri kayaknya belum tahu tentang gosip ini. Cewek itu konsen banget sih sama bukunya. Soalnya beberapa hari ke depan kan ada UAS I dan olimpiade. Nadya nggak mau gagal lagi kayak kemaren. Dia pengen lolos dan mewakili kotanya sampai ke tingkat nasional kalau bisa.
Waktu istirahat siang itu banyak yang masuk kelas 1-3 untuk beli kripiknya Fabi ataupun browniesnya Johan. Ada juga yang cuma sekedar pengen tahu siapa yang namanya Nadya pacar Mario. Garin memaksa Oppy menunjukkan siapa itu Mario. Sebenernya Oppy nggak masalah kalau Garin cuma mau tahu siapa itu Mario, masalahnya kalau ada gosip begitu Oppy jadi nggak enak sama Nadya.
“Iya.”
“Nadya itu nggak cantik-cantik amat. Biasa aja malah. Kok bisa sih Mario yang ganteng itu pacaran sama dia?” kata Garin.
“Udah, Rin. Ayo ke kelas kamu aja. Bukannya nanti ada rapat OSIS?” ajak Oppy.
Oppy mulai kesal pada Garin yang menjelek-jelekkan Nadya. Setahu Oppy, Nadya itu anaknya setia kawan, nggak mungkin Nadya pacaran sama Mario yang disukai sama sahabatnya sendiri kan? Lagian Nadya nggak mungkin kalau pacaran, cewek itu serius banget sama masa depannya. Tiap hari nggak di sekolah nggak di rumah bawaannya ya buku. Jadi Oppy setengah percaya setengah nggak percaya sama gosip yang bahkan belum diketahui kebenarannya ini.
“Ran, ke kantin, yuk!” ajak Nadya saat penat belajar.
“Biar aku tambah gendut gitu? Biar Mario sukanya sama kamu aja yang tetep langsing?” kata Rani sewot.
“Apaan sih, Ndut? Kok tiba-tiba marah gitu?” ucap Nadya kalem.
__ADS_1
“Kalo kamu emang pacaran sama Mario ngomong aja terus terang, Nad. Nggak usah pura-pura diem.” Rani mulai marah beneran. Nadya bengong Rani jadi begitu.
“Pacaran? Apaan sih?”
“Iya. Aku udah tahu kok, Nad. Aku udah ngerasa sejak kamu satu ekskul sama dia dan sering ngobrol sama dia. Kamu kok nggak mikirin perasaan aku sih, Nad? Kamu tahu kan kalo aku suka sama dia?”
Anak-anak sekelas mulai diam, mereka melihat pertengkaran dua sahabat itu dengan khusyu’.
“Iya, aku tahu kamu suka sama Mario. Trus apa masalahnya?”
“Udah kamu ngaku aja kalo lagi pacaran sama Mario. Nggak usah backstreet segala. Lama-lama kita semua juga bakal tahu kok!”
“Pacaran apa sih, Ran? Aku nggak pacaran sama siapa-siapa!” Nadya mulai menanggapai serius ucapan Rani. Dia membanting dompetnya ke atas mejanya.
“Pantes aja, Nad kamu nggak punya ayah dan kamu nggak bisa sekolah di Smaba. Hati kamu emang busuk, Nad!” Rani juga membanting dompetnya.
“Hah?”
“Aku nyesel sahabatan sama kamu, Nad.” Rani beranjak pergi dari bangkunya.
“Ngapain kamu bawa-bawa masalahku segala? Kamu ini kenapa sih, Ran? Aku nggak ngerti!”
“Aku juga nggak ngerti sama kamu, Nad!”
“Ya, kamu emang nggak ngerti kan! Kenapa aku nggak punya ayah dan harus sekolah di sini? Kamu tahu kan waktu itu aku ada masalah. Gara-gara itu aku jadi nggak bisa masuk ke Smaba. Sedangkan kamu? Kamu waktu itu lagi tes masuk, kan? Tapi kamu nggak ngerjain tes itu dengan sungguh-sungguh. Makanya kamu nggak bisa masuk ke Smaba.”
“Hei! Itu bukan urusan kamu, ya!” Rani mulai marah sambil menunjuk-nunjuk Nadya. Mario yang jadi biang kerok semua masalah jadi kaget beneran. Ia nggak menyangka masalahnya jadi akan seperti ini. Dia cuma pengen pedekate sama Nadya, bukannya memecah persahabatan Nadya dan Rani. Dea menengahi pertengkaran kedua cewek itu. Tapi suasananya emang panas banget antara keduanya.
“Dasar egois!” maki Rani.
“Apa? Aku egois? Bukannya kamu juga egois?! Kamu mikirin diri kamu sendiri. Masalah cowok kayak gini aja kamu udah marah ke aku! Emang yang suka sama Mario kamu doang? Gimana kalo orang lain yang pacaran sama Mario? Apa kamu juga marah ke mereka? Mulai sekarang kita putus persahabatan aja, Ran!” kata Nadya yang mulai berkaca-kaca. Anak-anak yang sebenernya juga suka sama Mario jadi merasa tersindir dengan omongan Nadya.
__ADS_1
“Oke! Fine!” kata Rani sambil mengambil tasnya dari bangku sebelah Nadya dan meletakkan tasnya di bangku sebelah Lisivia. Cewek gendut itu lalu pergi meninggalkan ruang kelas. Nadya mulai menangis dan pergi juga dari ruangan kelas. Cewek itu pergi ke kamar mandi dan merenungi semuanya sendiri.