
Nggak kerasa udah bulan Oktober aja.
Hari itu adalah hari pertama dalam memperingati bulan bahasa. Beberapa lomba sudah mulai digelar. Seperti yang terlihat di lapangan basket siang itu, para siswa sudah mulai ramai-ramai duduk di pinggir lapangan basket. Sebentar lagi akan dilaksanakan lomba futsal dangdut. Panitia dari kelas bahasa mulai mengumumkan peserta lomba setelah sebelumnya diundi terlebih dahulu.
Kelas 1-2 melawan kelas 2 Sosial 1. Pertandingan pertama sudah mengundang gelak tawa para penonton. Lomba futsal ini bukan lomba futsal macam biasa. Peserta lomba akan bermain futsal seperti biasa dan berlomba memasukkan bola ke gawang lawan, tapi jika musik dangdut terdengar maka peserta harus diam di tempatnya berada dan bergoyang mengikuti irama musik dangdut.
Seperti siang itu, matahari sedang panas-panasnya. Beta dari kelas 1-2 menggiring bola tepat di depan gawang kelas 2 sosial-1. Ketika Beta telah siap mengambil ancang-ancang memasukkan bola ke dalam gawang, musik dangdut dimainkan. Tak terkecuali semua peserta bergoyang mengikuti irama musik. Tendangan Beta tidak meleset, tapi karena kaget ada suara musik terdengar, tendangannya jadi tidak bertenaga. Bolanya ditangkap oleh keeper lawan dengan mudahnya.
Keeper lawan menangkap bola tendangan Beta dengan tenang sambil bergoyang. Para penonton ngakak habis-habisan. Beta menutup wajahnya sambil tertawa karena gagal mencetak gol. Pertandingan dimulai lagi. Keeper melempar bola pada kawannya di dekat gawang milik kelas Beta. Bola menggelinding dekat kaki Odis dari kelas 1-2. Odis menyadari adanya kesempatan untuk menggiring bola, tapi hasratnya gagal setelah musik dangdut dimainkan lagi.
Begitu seterusnya sampai permainan berakhir mengantar kelas 1-2 sebagai juara dengan skor 7-3. Pertandingan berikutnya adalah kelas 1-3 melawan kelas 1-7. Nadya dan Rani yang sudah stand by sejak pagi tadi di bawah pohon di lapangan basket menanti-nanti wakil dari kelas mereka yang belum muncul. Perut mereka dikocok habis-habisan oleh pertandingan pertama tadi. Beta dan kawan-kawannya bukan hanya bermain futsal dengan baik, tapi juga menyuguhkan guyonan yang sanggup mengocok perut penonton.
Nadya dan Rani saling mengipasi satu sama lain karena kepanasan. Mereka berdua celingak-celinguk mencari teman-teman mereka. Hanya Johan dan Argo yang terlihat duduk-duduk di depan gawang. Johan Nampak serius dengan secarik kertas di tangannya, sedangkan Argo mengibas-ngibaskan kaosnya kepanasan. Ternyata Johan sedang menyusun taktik supaya kelas mereka menang. Argo tidak peduli dengan taktik Johan. Malah terlihat suntuk.
“Kita kan cuma main futsal. Kenapa pake taktik segala, sih? Lagian nanti kita juga harus goyang, lho.” ujar Argo kesal.
“Oh, iya! Kalo ada yang kayak gitu sih tambah sulit bikin taktiknya.” Johan pun sadar lalu membuang kertasnya.
Dias, Tito, Azhim, Fantoni, dan Gilang datang berurutan. Mereka mengenakan kaos berwarna oranye yang menyala. Melihat Johan dan Argo yang duduk-duduk di depan gawang mereka berlima heran.
“Jo, kalian ngapain di sini? Pemain cadangan duduk di sana aja.” kata Fantoni sambil menunjuk pinggir lapangan basket. Johan dan Argo kesal. Mereka tidak terima dijadikan pemain cadangan.
“Duh, jadi kita cuma cadangan aja nih?” protes Johan. Fantoni mengiyakan. Argo yang sudah sangat kepanasan menyeret Johan ke pinggir lapangan. Johan masih belum bisa terima.
“Ngeliat mereka jadi pengen makan aja!”
“Udah lah, Jo. Nanti kita juga kebagian main.” kata Argo menenangkan Johan.
“Bukan gitu, Go. Panas-panas gini pake kaos oranye, gila nggak tuh? Dikira jeruk jatuh dari pohon. Pengen makan jeruk aja.” Johan dan Argo ngakak abis! Setelah itu mereka turun ke kantin mencari minuman. Johan jadi beneran pengen makan jeruk.
__ADS_1
Pertandingan sudah dimulai. Kesepuluh cowok berusaha memperebutkan bola dan menggolkan ke gawang lawan. Anak-anak kelas 1-3 yang lain mulai berdatangan. Beberapa duduk bersama Nadya dan Rani di bawah pohon. Billy duduk di sebelah Rani membuat cewek berkacamata itu risih, tau kan Rani paling sebel sama cowok yang ia sebut judes itu.
“Nad, kemaren kok nggak dateng, sih?” tanya Billy dengan melihat Nadya. Ia sama sekali tak menyapa Rani yang duduk di sebelahnya.
“Oh, kemaren aku ada olimpiade, Bil.”
“Oh gitu. Terus gimana hasilnya? Menang?”
“Menang apaan.”
“Oh. Kalah ya.”
“Iya.”
Rani diam saja dari tadi. Nadya jadi nggak enak cuma ngobrol sama Billy. “Ran, ikutan kita juga yuk, kelas masak!” ajak Nadya pada cewek itu. Rani diam saja. Bibirnya dimonyong-monyongkan sambil terlihat menimbang-nimbang. Bukannya nggak suka masak, tapi kalo ketemu cowok judes itu terus rasanya Rani sebel banget.
“Kelasnya enak kok. Kita belajarnya pelan-pelan, jadi gampang ngertinya. Iya, kan Bil?” lanjut Nadya meyakinkan sahabatnya itu. Rani tetep diem aja.
“Kalo mau bunuh diri ntar-ntar aja noh di hutan!” seru Gilang pada Tito. Anak-anak yang lain ketawa aja ngeliat Gilang sama Tito. Tito malah lempeng-lempeng aja dengan wajah tak berdosa.
Pertandingan hampir selesai. Skor sekarang berbalik, kelas 1-3 unggul 6-3. Gilang makin bernafsu menggolkan bola. Dia yang paling aktif mainnya, buktinya semua gol dia yang nyetak. Bener-bener top scorer. Johan dan Argo ikut gabung duduk sama Nadya de ka ka. Mereka habis jajan di kantin. Melihat skor kelas mereka yang unggul mereka jadi semangat dan menyoraki para pemain.
Disoraki begitu Gilang en friends malah risih. Mending yang nyorakin cewek, ini cowok, Johan sama Argo lagi. Temen-temen yang lain ikut menyoraki. Cewek-cewek banyak yang meneriaki nama Gilang yang kala itu jadi bintang mendadak. Gilang pede minta ampun. Pertandingan berakhir dengan skor 6-3 dimenangkan oleh kelas 1-3.
Hari itu pertandingan futsal berjalan sampai jam dua siang. Sampai babak final dimenangkan oleh kelas 2 IPA 1. Kelas Nadya dapet juara dua. Masih lumayan lah dari pada nggak sama sekali. Setelah itu acara dilanjutkan dengan lomba paduan suara. Setiap kelas menunjukkan kemampuan mereka masing-masing.
Kelas Nadya dapet giliran terakhir. Waktu itu udah agak sorean. Anak-anak jadi nggak begitu semangat. Tapi pas tahu mereka dapet lagu Bagimu Negeri dan Hari Merdeka, semangat mereka meluap-luap. Lagu yang pertama mereka kenal sangat sulit urutan liriknya, bisa-bisa kebalik kalau nggak hapal. Tapi mereka kan udah latihan terlalu sering beberapa bulan ini, jadi mereka udah hapal banget.
Kelas 1-3 membawakan dua lagu itu dengan keren. Rani yang melatih mereka telah membagi anak-anak dalam berbagai jenis suara. Hasilnya memuaskan. Rani malah mencanangkan kalau mereka bikin grup paduan suara yang namanya ‘1-3 choir’ aja. Tito malah bilang Rani berlebihan. Mereka kan belum tentu menang dalam lomba itu.
__ADS_1
Esoknya ada lomba cerdas cermat. Nadya, Neni, dan Mario sudah stand by di pinggir lapangan untuk menunggu dimulainya acara. Anak-anak yang lain menyemangati mereka bertiga. Pertandingan yang ditunggu-tunggu pun akhirnya dimulai pukul delapan lebih dikit. Biasa, ngaret! Babak pertama ada empat grup yang tanding duluan, kelas 1-1, 1-2, 1-3, dan 1-4 yang berurutan dapat grup A, B, C, dan D.
Nadya duduk ditengah-tengah Neni dan Mario. Bel dipegang oleh Mario, mikrofon dipegang Nadya dan Neni memegang secarik kertas dan bolpoin. Suasana sangat ramai, banyak sekali yang menonton. Suporter dari masing-masing kelas duduk di belakang peserta. Tampak Bu Feni dan guru-guru lain duduk di bangku juri. Guru Fisika, Bu Eny yang bertugas membacakan soal-soal.
Pertandingan cerdas cermat pun dimulai. Soal pertama tentang kewarganegaraan. “Soal pertama. Apa kepanjangan dari KKN?” Bu Eny mulai membaca soal pertama. Bel berbunyi berbarengan dari empat grup. Juri mempersilahkan grup B menjawab.
“Korupsi, Kolusi, Nepotisme.” kata peserta dari grup B. Jawaban benar. Grup B dapat sepuluh poin. Terdengar tepuk tangan dari penonton.
“Soal kedua. Siapakah yang menciptakan lagu Indonesia Raya?”
Tet! Bel grup C Berbunyi. “Wage Rudolf Supratman.” jawab Nadya yang disambut sepuluh poin dari tim juri. Tepuk tangan penonton terdengar lagi.
“Soal ketiga. Apa makna dari peribahasa berikut: Dipegang ekornya mendongak kepalanya, dipegang kepalanya menjungkit ekornya?” Bel grup A berbunyi.
“Orang yang tidak lagi dapat dipercaya.” jawab seorang cewek bernama Winona menjawab dengan benar dan mendapat sepuluh poin. Tepuk tangan dari pendukungnya terdengar riuh.
“Soal berikutnya. Matematika.” Semuanya tegang, terutama Nadya dan Mario.
“Jumlah a dan b adalah sembilan belas. Jika dikalikan a dan b menghasilkan sembilan puluh. Berapakah a dan b?” Bel grup C berbunyi tepat setelah soal selesai dibacakan. Anak-anak yang lain kaget, mereka bahkan belum mulai menghitung, begitu juga dengan peserta lain. Nadya menjawab dengan yakin.
“Sembilan dan sepuluh.” Dan benar. Grup C kembali mendapat poin. Terdengar sorakan dari suporter, yang paling keras tentu saja suara Rani. Cewek itu senang sekali punya teman yang jenius seperti Nadya. Soal berikutnya dibacakan lagi.
“Soal berikutnya. Berapa hukum-hukum dalam Islam?” Bel grup C terdengar lagi. Tidak ada yang memencet bel selain mereka, mereka dipersilahkan menjawab.
“Lima.” jawab Nadya.
“Sebutkan!” kata guru Agama Islam, Pak Machfud.
“Wajib, sunnah, haram, makruh, mubah.” kata Nadya seraya diiringi hitungan jari pak Machfud. Pak Machfud lalu mengacungkan jempolnya pertanda jawaban Nadya benar. Para penonton bersorak ramai.
__ADS_1
“Pertanyaan selanjutnya. Disebut apakah seseorang yang telah menempuh pendidikan strata satu di bidang ilmu ekonomi?”
“Sarjana Ekonomi.” jawab Dinda dari grup D. Sayang ia tidak memencet bel, jawabannya direbut grup C. Dan grup C mendapat poin. Begitulah pertanyaan-pertanyaan terus dilontarkan sampai mengantarkan grup C sebagai pemenangnya.