High School Incident

High School Incident
The incident


__ADS_3

Nadya sedang berada di Coban Talun sekarang.


Cewek itu sedang berkemah dengan Pramuka Nesaba dan teman-temannya seperti Odis, Elfin, dan Rani. Mereka juga ditemani beberapa guru dari Nesaba. Mereka diundang sebagai calon pengajar Pramuka di Nesaba. Mereka sedang mendirikan tenda agak jauh dari sungai. Tenda yang didirikan ada empat buah, tiga buah tenda ukuran besar dan satu tenda ukuran kecil. Setelah mendirikan tenda, anak-anak melaksanakan apel.


“Kawan-kawan. Tujuan diadakan persami ini selain untuk mempererat tali silaturahmi dan menjadikan pribadi kreatif serta mandiri, adalah untuk mengajarkan kita selalu mencintai lingkungan. Oleh karena itu, kegiatan kita pun tidak jauh dari tujuan kita itu antara lain bakti sosial membersihkan lingkungan warga dan sungai dari sampah. Setelah itu diharapkan kita menjadi pribadi yang saling tolong-menolong, menjaga lingkungan, dan pribadi yang berbudi pekerti luhur.” begitu sedikit kata sambutan dari pembina apel pagi itu.


Pagi itu setelah apel mereka makan bersama. Setelah makan bersama mereka membawa alat kebersihan seperti sapu dan kantong plastik lalu menuju pemukiman warga untuk melaksanakan kerja bakti. Dengan berseragam pramuka mereka membersihkan jalan di kampung, membesihkan selokan dari sampah-sampah, dan membersihkan kebun-kebun apel milik warga juga.


Sampai tengah hari mereka akhirnya selesai kerja bakti. Warga desa ada yang berbaik hati memberikan minuman dan jajanan ringan pada para Pramuka itu. Mereka berterimakasih karena dibantu membersihkan lingkungan. Setelah itu anak-anak kembali ke perkemahan dan diberi waktu istirahat sampai jam satu siang. Jam satu siang lebih sedikit anak-anak makan siang bersama lagi di bawah pohon-pohon rindang.


Setelah makan siang, anak-anak melakukan outbond. Mereka bergantian bermain flying fox, panjat jaring laba-laba, bermain tongkat berjalan, stand together, memasukkan air ke dalam batang bambu, de el el. Suasana outbond semakin seru ketika mereka bermain permainan masuk jaring laba-laba. Mereka harus bekerja sama untuk menyeberang ke satu sisi melewati jaring laba-laba dengan berbagai ukuran lubang. anak-anak berusaha membantu teman mereka melewati lubang-lubang itu dengan berbagai cara. Ada yang digendong berbarengan sampai terjatuh-jatuh. Ada juga yang harus diangkat sampai di atas kepala untuk memasukkan ke lubang yang letaknya tinggi. Acara siang itu benar-benar mengasyikkan.


Sore harinya anak-anak kembali melakukan kerja bakti. Kali ini mereka harus membersihkan sungai dari sampah dengan memasukkan sampah-sampah ke dalam kantong plastik yang telah mereka bawa. Nadya, Rani, dan Oppy bersama-sama membawa sekantung plastik besar sampah. Anak-anak yang lain juga tidak kalah semangatnya membawa berkantung-kantung sampah.


Setelah selesai membersihkan sampah anak-anak merasa puas karena sungai kini teerlihat lebih bersih dan aliran air lebih lancar. Sebelum pulang anak-anak juga harus merasakan dinginnya berendam di dalam sungai. Kata pembina mereka itu adalah mandi gratis di Coban Talun yang harus dirasakan setiap anggota. Jadilah mereka mandi dua kali sore itu, mereka mandi lagi setelah direndam di sungai begitu. Iyalah! Air sungai yang berlumpur mengotori rambut dan badan mereka. Jadi mereka harus mandi lagi.


Acara dilanjutkan kembali malamnya. Anak-anak melaksanakan upacara dan menyalakan api unggun. Mereka juga menyaksikan berbagai pertunjukan dari teman mereka sendiri. Ada yang bermain gitar dan menyanyi, ada yang main sulap, ada juga yang stand up comedy. Acara malam itu berakhir pukul sebelas malam ketika hujan tiba-tiba saja turun.


Anak-anak berlarian menuju tenda mereka masing-masing. Angin bertiup kencang dan hujan semakin deras. Tenda anak-anak sedikit bergoyang tapi untungnya tidak bocor. Anak-anak lalu terlelap dalam tidur mereka malam itu. Nadya berada satu tenda dengan Elfin dan Rani di tenda kecil. Mereka masih belum tidur sampai tengah malam. Mereka sedang mengobrol tentang berbagai hal.


“Aku pengen memberanikan diriku. Soalnya aku ini penakut.” kata Elfin pada Nadya.


“Iya. Dulu aku juga pemalu kok. Setelah ikut Pramuka kita bisa jadi belajar tentang berani dan mandiri.” kata Nadya mantap.

__ADS_1


“Oh ya. Rok kamu gimana?” tanya Elfin tiba-tiba.


“Rok apa?” Nadya bingung dengan pertanyaan Elfin.


“Hehe. Dulu aku pernah nuker rok kamu sama roknya Ineke. Odis yang tahu sebenernya sih. Tapi dia minta tolong aku buat nuker rok kalian.” ujar Elfin.


“Ohh. Pantesan aja rok aku yang sekarang pendek banget. Ternyata itu punya Ineke?” Nadya lalu ingat.


“Iya. Kayaknya dia mau ngerjain kamu. Soalnya pas aku liat rok kamu itu ada permen karetnya.”


“Permen karet?” Nadya kaget. Ia lalu tertawa bersama Elfin mengingat kejadian itu. Ia nggak nyangka Elfin sebaik itu.


“Bukan aku tapi Odis.” kata Elfin.


Rani ternyata sudah tidur sejak tadi. Kasihan anak itu mungkin kecapekan aktivitas seharian. Elfin dan Nadya lalu bersenang-senang dengan foto narsis di hape Elfin. Mereka lalu punya ide untuk mengambil foto Rani yang sedang tertidur, ia lucu sekali. Elfin memotret Rani yang sedang tidur. Tapi, ah! Batere hape Elfin habis dan hapenya malah mati sekarang.


“Wah kalo di sini kita nggak bisa ngisi batere hape kamu, Fin.” kata Nadya sambil tersenyum. Setelah lewat jam tengah malam, mereka berdua memutuskan untuk tidur.


Jam setengah tiga pagi.


Hembusan angin sedang kencang-kencangnya. Hujan mulai sedikit reda. Tenda tempat Nadya tidur sepertinya ingin lepas dari tanah. Mungkin penyangganya tidak kuat menahan angin kencang. Penghuni tenda itu masih tidur dengan nyenyak. Beberapa menit kemudian, terdengar suara seperti benda jatuh. Suara itu membangunkan beberapa anak dan guru. Mereka yang penasaran dengan bunyi itu segera keluar tenda untuk memeriksanya.


Astaga!

__ADS_1


Betapa terkejutnya mereka yang melihat situasi di luar tenda saat itu. Tenda kecil tempat Nadya dan teman-teman ceweknya tidur roboh tertimpa ranting pohon yang cukup besar. Anak-anak yang lain segera dibangunkan dan dimintai pertolongannya. Odis yang masih setengah ngantuk segera tidak merasakan kantuk lagi. Ia tertegun melihat tubuh seseorang yang bersimbah darah.


Sirine ambulan terdengar pilu. Sampai di rumah sakit Hasta Brata, ketiga tubuh cewek itu diperiksa oleh tim medis. Beberapa guru dan Odis pun terlihat menunggu dengan cemas di lorong rumah sakit itu. Mereka tidak menyangka akan ada kejadian seperti ini. Mereka merasa bertanggung jawab atas terjadinya kecelakaan tragis ini. Odis pun menyalahkan dirinya. Ia yang pertama kali menawarkan Nadya pada Pak Yudi untuk ikut Persami ini.


Seorang pria dengan baju bersimbah darah menemui orang-orang yang menunggu kabar ketiga cewek itu di lorong rumah sakit. Ia membawa berita bahwa salah seorang dari mereka tidak tertolong dan dua lainnya hanya luka ringan di bagian kepala dan tangan.


“Anak perempuan yang rambutnya pendek sudah tidak ada.” jelas pria itu.


Guru-guru itu terlihat sedih dan menyesal. Beberapa guru wanita terlihat menangis dan tidak terima. Mereka memaksa melihat sendiri keadaan anak-anak itu. Terutama mereka ingin melihat Nadya. Odis tertunduk amat dalam. Anak itu sedang merenungi kepergian Nadya. Ia tampak seperti tidak bisa lagi meneteskan air mata. Hatinya terasa tercabik-cabik, pikirannya berputar teringat wajah Nadya.


Odis menatap wajah datar Nadya.


Cewek itu cantik. Lucu. Meskipun tanpa ekspresi seperti itu, Nadya tetep kelihatan cantik. Wajahnya yang kaku itu tetep indah dengan senyum yang menghias. Odis membelai rambut Nadya yang bersimbah darah. Ia juga menyentuh wajah Nadya yang dingin. Cewek itu diam saja.


“Biasanya kamu marah Nad, kalo aku deket-deket kamu. Tapi kenapa sekarang kamu diam aja?” kata Odis. Nadya diam saja.


“Nad! Aku belum sempet minta ajarin kamu soal matematika yang aku nggak ngerti, Nad.” Odis mulai sesenggukan.


“Nad. Ini Nad soalnya.” Odis membaca sebuah soal matematika yang ada di hapenya dengan gemetaran. Air matanya mengalir deras.


“Nad. Kamu pasti bisa ngerjain soal kayak gini, Nad. Iya kan, Nad?” Odis menatap wajah Nadya dalam-dalam.


“Nad. Jangan pergi, Nad. Nadya!” Odis menangis tersedu-sedu. Ia memegang tangan Nadya yang beku. Iya memohon kepada Tuhan agar Nadya bisa bangun lagi dihadapannya. Tapi Nadya tak kunjung membuka matanya. Nadya telah pergi dari dunia ini, sudah terlambat untuk memintanya kembali lagi.

__ADS_1


__ADS_2