
Sementara di lain tempat.
Gia dan Zea sadar dari pingsannya karena di siram air dingin.Zea yang tidak sadar dirinya saat ini berada di mana sementara Gia yang masih pusing karena obat bius tadi.
Sampai akhirnya mereka berdua sadar.
"Woy lepasin gue kenapa diiket gini sih emang kambing di iket segala." Cerocos Gia tanpa tau bahwa dirinya saat ini dalam bahaya.
"Gi lo lupa kalau tadi kita di culik." Seru Zea takut,tapi dia juga merasa kesal terhadap Gia.Bisa-bisanya Gia masih bercanda dalam situasi genting saat ini.
"Udah bac*t nya." Bentak gadis bertopeng itu.
"Dasar bit*h." Sambung gadis bertopeng yang satunya.
"Kalian siapa,bisa-bisanya bilang kita berdua bit*h.Kalau berani buka topeng kalian terus kita berantem satu lawan satu." Tantang Gia. Sementara Zea merasa kalau Gia tidak bisa menahan emosinya di saat seperti ini.
"Dasar wanita tidak berguna." Bentak salah satu dari mereka.
Plakkk
Plakkk
Dua tamparan di pipi Gia,membuat pipi Gia memerah dan mengeluarkan darah dari sudut bibirnya.Sementara Zea kasihan melihat Gia yang ditampar seperti itu.
Shit!! gue berdarah.Seru Gia lirih.
"Dasar lo pengecut beraninya nampar orang yang terikat begini.Cih merasa direndahkan gue sebagai kaum perempuan." Ujar Gia santai menahan rasa sakit di pipinya.
Cetarrrr
Mereka berdua mencambuk Gia sebanyak tiga kali membuat Gia kali ini benar-benar tidak berdaya karena cambukan itu.Rasa pusing dan sesak sudah menjalar di dalam tubuhnya,Zea memandang Gia dengan pandangan iba sementara Gia berusaha tersenyum untuk memberitahukan Zea bahwa dia baik-baik saja.
"Gue mohon lepasin kami." Teriak Zea karena tidak tahan melihat Gia yang terus di pukul dan di cambuk.
__ADS_1
"Woy anak panti,mending lo diem karena urusan kita bukan sama lo tapi sama perempuan manja dan tidak berguna ini." Ucap gadis bertopeng itu.
"Yaps benar,dan lo hanya kami jadikan alat untuk memancing mangsa yang sebenarnya untuk datang ke sini." Sambung gadis bertopeng satunya.
"Kalau kalian hanya mengincar gue,lepasin sahabat gue jangan sakitin dia." Seru Gia dengan nada lemahnya tapi dia berusaha kuat agar tidak membuat Zea khawatir.
"Gia lo masih kuat kan." Tanya Zea yang berada di samping Gia.
"Gue gak papa Ze,lo tenang aja." Jawab Gia tersenyum. Tib-tiba ada darah yang keluar dari hidung Gia membuat Zea panik dan menangis.
"Gia,giana lo mimisan lagi." Pekik Zea.
"Gue mohon sama kalian berdua bantuin Gia bawa dia ke rumah sakit.Gue yang akan gantiin posisi dia di sini." Pinta Zea memelas.
"Wow sahabat yang sejati,tapi sayang nya kita tidak sebaik yang lo pikir.Mau dia mati sekalian di sini kita gak perduli dan lebih bagus lagi kalau kamu mau nyumbangin nyawa kamu juga." Ujar gadis bertopeng itu.
"Lo tenang aja Ze,gue gak papa lo mendingan diem gue gak mau lo di sakitin juga." Seru Gia menatap Zea dengan tatapan sendunya.
"Cih murahan,kalau lo jijik kenapa lo gak lepasin kita." Jawab Gia dengan lantang mencoba menahan semua rasa sakit di tubuhnya.
Plakkk
Plakkk
Mereka berdua kembali menampar Gia dengan keras membuat Gia hampir hilang kesadarannya,tapi sebisa mungkin dia berusaha tetap kuat.
Sementara Zea menangis karena tidak tega melihat keadaan Gia yang kacau seperti sekarang.Tubuhnya yang lemah wajah penuh luka dan tamparan dan juga darah segar yang keluar dari punggung Gia akibat cambukan tadi.Darah itu menembus pakaian seragam Gia,seragam yang awalnya berwarna putih kini berubah karena campuran darah.
"Ze mendingan lo cepet cari cara buat lepas dari sini dan lo segera pergi." Seru Gia.
"Lo gila,mana mungkin gue mau ninggalin lo dalam keadaan seperti ini.Gak gue gak mau kalaupun kita harus kabur dari sini,kita harus kabur sama-sama." Tolak Zea keras,Zea dari tadi selalu berdoa agar ada yang membantu mereka.
"Plis Ze lo harus pergi gue gak papa di sini,gue gak mau lo terluka biarin gue di sini sendirian. Lo harus pergi dari sini dan bilang sama keluarga gue buat selametin gue."
__ADS_1
"Gue yakin sebentar lagi mereka datang." Ujar Zea percaya diri.
Di lain tempat.
Anak buah Devan saat ini sudah sampai di lokasi,mereka melihat sekitar dimana banyak pria berpakaian hitam yang menjaga di sekitar rumah tak berpenghuni itu.
"Tugas kalian semua membantu gue dan bang Gio untuk masuk ke dalam rumah itu.Nanti akan ada anak buah tuan Raymond yang membantu kita." Jelas Devan dan diangguki oleh semua anak buahnya.
Devan sangat takut akan terjadi apa-apa dengan Gia. Devan juga merasa sangat bersalah karena lalai mengawasi Gia.Sementara Gio memikirkan dua orang terpenting dalam hidupnya,bagaimana tidak dia baru beberapa hari yang lalu bertemu kembali dengan gadis kecilnya dan sekarang malah membuat kekasihnya dalam bahaya.
Setelah itu mereka semua mengatur strategi untuk melumpuhkan semua penjaga yang ada di sana.Sampai akhirnya anak buah Devan menyerang semua penjaga yang ada di sana dengan sadis,Devan dan Gio menyempatkan keadaan itu untuk masuk ke dalam.
Devan dan Gio berpencar mencari Gia dan Zea di dalam rumah itu.Sementara di salah satu ruangan dua gadis bertopeng itu mendapat informasi jika ada yang menyerang anak buah mereka di luar.Mereka berdua segera bersembunyi karena tidak mau diketahui oleh Gio dan Devan.
Karena tujuan utama mereka menghabisi Gia dan Gio dan menjadikan Zea sebagai alat.Tanpa mereka berdua sadari kalau mereka berhadapan langsung dengan mafia terbesar di dunia.
Setelah berhasil masuk ke salah satu ruangan yang diduga tempat Gia dan Zea di sekap,Devan segera mendobrak paksa pintu tersebut sampai akhirnya hancur tidak berbentuk.
Brukkkk
Setelah pintu itu terbuka pandangan pertama yang mereka lihat adalah Gia dan Zea yang sedang terikat di atas kursi dengan kondisi Gia yang sangat mengenaskan.
"Giooo,Devan." Teriak Zea.Sementara Gia yang awalnya menutup matanya,kini membuka mata dan melihat ke arah Gio dan Devan dengan pandangan sendunya. Gio dan Devan kaget melihat keadaan Gia seperti itu.
"Ya ampun Giana." Teriak Gio menghampiri adiknya.Sementara Devan mengepal kuat melihat kondisi gadisnya saat ini.Devan bersumpah akan membunuh semua orang yang terlibat di dalam perencanaan penculikan ini.
Gia tersenyum nanar menatap mereka berdua bergantian.
"Akhirnya kalian berdua datang juga." Seru Gia lirih sambil tersenyum.Padahal saat ini dia sedang menahan semua kesakitan di tubuhnya.
.
.
__ADS_1