High School Love Story

High School Love Story
S2#35


__ADS_3

Di alam bawah sadar Gia.Saat ini Gia sedang berada di taman yang sangat indah,tapi dia hanya sendirian.Gia tersenyum bahagia melihat tempat indah itu.


Tetapi kemudian,ada seorang pria yang sangat tampan datang menghampirinya.Dia tersenyum sangat manis kepada Gia,membuat Gia terperangah melihatnya.


"Giana,keponakan om." Ujar pria itu,sementara Gia menatapnya bingung.


"Anda siapa." Tanya Gia.Tetapi orang itu tidak menjawab dia hanya tersenyum dan berkata,


"Tempat kamu bukan di sini,kamu masih harus kembali ke keluarga kamu nak.Lihatlah banyak orang yang sangat menyayangimu dan menunggumu kembali." Ujar pria itu sambil menunjuk ke arah belakang Gia.Gia menoleh dan di sana sudah ada keluarganya dan juga Devan yang tersenyum dan melambai ke arah Gia.


"Tapi Gia suka di sini." Seru Gia.


"Kamu akan kembali ke sini tapi untuk sekarang kamu harus kembali dengan orang-orang yang menyayangi kamu."


Setelah mengucapkan itu,pria itu tersenyum dan menghilang.


##


Sudah hampir Lima bulan Gia tidak bangun dari tidurnya membuat keluarga Raymond yang awalnya bahagia kini telah kehilangan putri kecil yang mewarnai keluarga mereka.Begitu juga Devan,sudah tidak ada senyuman lagi di wajah Devan setelah kejadian itu dia menjadi sangat datar dan dingin kepada semua orang.


Tapi tidak jika bersama Gia,Devan setiap hari selalu menyempatkan diri untuk menemani Gia.Devan bertekad untuk menjaga Gia dan merawat Gia sampai sembuh.Devan bukan orang lain yang akan meninggalkan seseorang hanya karena mempunyai penyakit yang mematikan.


Hari ini hari libur,Devan ingin menemani Gia seharian di rumah sakit.Tidak lupa juga setiap hari Devan membawa buku dan bunga kesukaan Gia sehingga di dalam ruangan Gia sangat harum karena bunga yang dibawa Devan maupun Kenzo setiap harinya,sementara Gio sekarang disibukkan dengan posisi CEO pengganti di kantor Gavin.


Gavin sengaja menempatkan Gio di kantornya,supaya dia bisa lebih fokus dengan kesembuhan Gia.


Di rumah sakit.


Devan masuk ke dalam ruangan Gia,di sana masih ada Gavin dan Dea yang menjaga Gia.Devan melihat kondisi mereka berdua yang sepertinya sangat kelelahan.

__ADS_1


"Om sebaiknya kalian pulang saja biar Devan yang menjaga Gia di sini." Seru Devan menatap sedih keluarga kekasihnya itu.


"Tapi nak,om masih ingin menjaga Gia sampai Gia sadar." Jawab Devan.


"Apa om tidak lihat bagaimana kondisi tante Dea saat ini." Ujar Devan,membuat Gavin memandangi istrinya.Dea yang sedang tertidur dengan raut wajah yang sangat kelelahan.


"Ya ampun,om benar-benar baru menyadari nya." Pekik Gavin.


"Mendingan sekarang om bawa tante Dea pulang,biar Devan aja yang jagain Gia di sini,sekarang kan hari libur jadi Devan bisa seharian berada di sini.Nanti juga akan ada Ansel sama Iffy om." Jelas Devan.


"Baiklah om pulang dulu,om titip Gia sama kamu nak." Ujar Gavin menepuk pundak Devan,Devan pun mengiyakan.


Setelah itu Gavin menggendong Dea untuk pulang ke rumah,membuat hati Devan tersentuh dengan perilaku Gavin kepada Dea.


"Setelah kita menikah nanti dan punya anak,kita harus seperti orang tua kamu Gi." Seru Devan lirih sambil mencium kening Gia.


Sering juga Devan menangis saat menjaga Gia,dia selalu berharap agar Gia cepat sembuh dan berdebat lagi dengannya.


"Lo gak mau kita adu bac*t lagi,lo gak mau ngatain gue ketan lagi.Lo gak mau kita jalan bareng lagi.Apa lo gak mau ganggu gue pas lagi main game." Seru Devan tanpa sadar dia kembali menangis.


"Gue kangen dengan segala tingkah aneh dari lo Gianaa." Sambung Devan.


"Aku rindu kamu sayang." Ujar Devan lirih di telinga Gia membuat Gia yang ada di alam bawah sadarnya terharu mendengar Devan yang setiap hari selalu ada buat Gia.


"Tapi kalau lo gak mau bangun,gue akan pergi jauh dari lo.Gue gak akan mau ketemu sama lo lagi dan gue akan membenci lo seumur hidup gue." Ujar Devan pasrah.


Tiba-tiba Gia menggerakkan tangannya berusaha membuka mata.Devan yang mengetahui itu merasa kaget sekaligus bahagia.Tapi tidak lama setelah itu jantung Gia kembali melemah dengan segera mungkin Devan berlari keluar dan memanggil doker.


Setelah itu Gia di periksa dengan Devan yang masih harus menunggu di luar.Tidak berapa lama kemudian,dokter keluar dan Devan segera menghampirinya.

__ADS_1


"Bagaimana dok." Tanya Devan berharap cemas.


"Syukurlah sebuah keajaiban,nona Gia sudah sadar dari komanya.Sekarang kondisinya juga sudah mulai stabil tapi jangan membebani dia dengan pikiran yang menganggu kesehatannya dulu.Nanti setelah nona Gia sembuh total kita akan melakukan kemo terapi terhadap nona Gia." Jelas Dokter itu,Devan mengangguk pasti.


"Maaf nona Gia tadi mencari sesorang yang bernama Devan silahkan hubungi orang itu." Sambung Dokter itu.


"Baik Dokter,terima kasih banyak." Ujar Devan dan segera masuk ke dalam.Pandangan Devan tertuju kepada gadis yang sudah merombak hatinya sedalam itu,pandangan mereka berdua bertemu.


Selang oksigen yang Gia pakai sudah di lepas,Devan bisa melihat kembali dengan jelas mulut bar-bar si Gia.Gia memandang Devan dengan tatapan sendunya.


"Ada yang sakit hmm." Tanya Devan dengan lembut.


Gia menggeleng pelan,dia masih belum kuat untuk berbicara.Devan yang terlupa menghubungi keluarga Gia,segera mengambil ponsel dan menghubungi Gavin memberitahukan kalau Gia sudah sadar.


"Ha-us Dev." Seru Gia terbata,dengan sigap Devan segera mengambil air dan membantu Gia untuk minum.


"Coba aja dari awal gue ngancem mau ninggalin lo biar lo sadar." Seru Devan mengingat ucapannya yang tadi dan berhasil membuat Gia sadar dari koma nya.


"Segitu gak maunya lo ditinggal gue sampai lo bangun.Tapi gue bersyukur itu tandanya lo cinta sama gue." Sambung Devan secara reflek dia mencium kening Gia,membuat Gia sejenak memejamkan matanya merasakan hembusan nafas Devan.Lalu Gia berusaha tersenyum menatap Devan.


"Gu-e.." Ucap Gia terbata tapi langsung dihentikan oleh Devan.


"Udah mendingan lo gak usah banyak bicara dulu supaya lo cepet pulih dan segera pulang.Nanti di sekolah kita adu bac*t lagi." Seru Devan mengusap kepala Gia.


Gia yang mendapat perlakuan itu menatap dalam ke arah mata Devan,Gia mencari sebuah ketulusan di dalam mata Devan.Tapi Gia tidak mau Devan mencintainya terlalu dalam.


Jangan pernah mencintai gue dengan rasa yang dalam,karena gue pasti akan pergi dari hidup lo. ~Giana Zafra.


.

__ADS_1


.


__ADS_2