High School Love Story

High School Love Story
S2#37


__ADS_3

Hari ini,Gia sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit.Kondisi Gia juga sudah sehat seperti biasanya,tapi Gia nanti tetap harus menjalankan kemo terapi itu.


Devan mengantar Gia pulang ke rumahnya,begitu juga dengan Zea,Iffy,dan Ansel.Di dalam perjalanan Gia sudah bisa ceria lagi bahkan dia sudah mulai beradu bac*t dengan saudari sepupunya itu.


"Gue kangen sama lo Gi." Seru Iffy.


"Gue enggak." Jawab Gia ketus.


"Bisa gak sih lo itu yang lembut dikit sama gue." Sungut Iffy kesal.


"Lagian gue gak pernah nyuruh lo buat kangen ke gue."


"Lo seharusnya seneng ada yang kangen sama lo bukannya malah gini."


"Yaudah sih kenapa jadi ngegas gitu."


"Gak ngengas biasa aja."


"Ransel,bini lo ngambekan." Goda Gia.


"Bini palalo peyang,gue masih belum kawin sama Ansel jangan aneh-aneh deh." Ujar Iffy menatap Gia malas.


"Wuihhh kode nih kode,minta di kawinin." Seru Gia tertawa.


"Parah lo Gi,gue gak ada ya minta seperti itu." Ujar Iffy.


"Ah elah bercanda doang,baperan lo Stepi."


"Dasar gigi hidup." Teriak Iffy.


"Wuihhh kalem girl,telinga gue masih bisa berfungsi dengan baik."


"Lo tuh ngeselin banget ya Giaanaa." Ujar Iffy setengah emosi.


"Jangan lupa,gue juga ngangenin."


"Bodoamat gak denger."


"Serah." Seru Gia.


Iffy menatap Gia dengan tajam,seakan ingin menelan sepupunya itu hidup-hidup.


"Apa liat-liat gue cantik kan? Jelas lah Giana." Seru Gia.


"Idihh amit-amit cantik dari mananya,yang ada lo itu buluq tau gak." Jawab Iffy.


"Iri lo?."


"Ngapain iri sama gigi hidup kek lo."


"Astaga kalian berdua bisa diam apa engga sih." Seru Dea yang mendengar perdebatan mereka dari tadi sehingga telinganya terasa panas.

__ADS_1


Sementara Gavin hanya tersenyum,sifat seperti ini lah yang dia selalu rindukan dari sosok putri kesayangannya.Gavin tidak pernah marah atas sikap Gia selagi itu tidak melewati batas.


"Iffy duluan Mom bukan Gia." Seru Gia tidak terima.


"Enak aja,lo juga kali yang ngajak ributm."


"Lah lo nya duluan yang cari masalah."


"Kok jadi gue,lo tuh."


"Lo."


"Lo."


"Lo."


"Lo."


"Ya ampun Gia,Iffy kalian bisa stop berdebat tidak. Mom pusing dengerinnya,kalian gak capek setiap ketemu harus beradu mulut terus." Ujar Dea menatap mereka berdua bergantian.


"Ya kalau beradu ikan ****** kan gak pantes Mom." Ceplos Gia.


"Gianaaa." Ujar Gavin karena sudah berani mencela ucapan Mommynya.


"Sory Dad,Gia bercanda." Seru Gia meminta maaf kepada Mommy dan Daddynya.


"Gue minta maaf,gue salah." Seru Iffy.


"Selalu saja seperti itu." Ujar Dea menatap Gavin suaminya,kemudian mereka berdua tersenyum melihat tingkah putri dan keponakannya.


Sedangkan di belakang mobil Gavin ada Gio,Devan,Ansel,dan juga Zea.Kenzo dan Rheina tidak ikut menjemput Gia ke rumah sakit karena akan menyambut Gia di kediaman Raymond.


##


Beberapa saat kemudian mereka sampai di rumah Gia.Gia di bantu Gavin untuk turun dari mobil.


"Ya ampun Daddy,Giana gak papa Gia udah sehat gak perlu seperti ini juga." Seru Gia menatap Daddy nya itu.


Gavin yang mengerti pun hanya pasrah dan membiarkan Gia bertingkah semaunya.Setelah itu mereka semua masuk ke dalam,di dalam sudah ada Kenzo dan Rheina yang menyambut Gia.


"Selamat datang kembali Giana Zafra." Ujar Kenzo sambil menyerahkan bunga mawar kesukaan Gia.Gia tersenyum dan memeluk Kenzo.


"Semoga selalu sehat seperti ini ya." Sambung Rheina sambil memberikan bunga juga,Gia dan Rheina juga saling berpelukan.


"Yaudah Gia,masuk ke kamar dulu istirahat." Ujar Gavin,sementara Dea berlalu ke kamar mandi karena sudah tidak bisa menahan panggilan alamnya.


"Tapi Dad,masih ada teman Gia biarin Gia temenin mereka dulu." Seru Gia.


"Lo istirahat gue sama yang lain izin pamir dulu,gak ada bantahan." Seru Devan menatap penuh penekanan terhadap Gia,membuat Gia akhirnya menuruti permintaan Devan.


Setelah itu Devan,Ansel,dan Zea pamit pulang di antar Gio.Sementara Iffy masih ingin tinggal di sana di keluarga Mamanya itu.Setelah kepulangan Devan.

__ADS_1


"Dasar,giliran sama Devan nurut." Goda Gavin.


"Yah bukan gitu Dad,Gia juga nurut kok sama Daddy tapi Gia gak mau ngecewain Devan karena Devan udah mau berjuang buat Gia.Gia juga gak mau ngecewain Dad." Jelas Gia.


"Iya sayang Dad mengerti,memang perjuangan Devan sangat besar.Kamu tau yang donorin darah buat kamu saat kamu koma itu adalah Devan,dan juga orang yang telah menyelamatkan nyawa kamu.Daddy berhutang banyak dengannya." Ujar Gavin.


"Dia memang beda Dad,tapi Gia takut menyakiti hati Devan nantinya."


"Kamu percaya cinta,takdir,jodoh,dan kematian.Kamu harus percaya dengan Devan,kalau kalian ditakdirkan untuk berjodoh kalian akan bersatu.Tapi sebaliknya kalau takdir kalian adalah kematian,kalian akan terpisah." Jelas Gavin sambil mengusap kepala Gia.


"Hum Gia mengerti Dad,terima kasih sudah mau menerima Devan."


"Semua untuk putri kecil Daddy."


Sementara di mobil Gio.


Gio terlebih dahulu mengantar Devan dan Ansel pulang.Tinggalah sekarang hanya Zea dan Gio berdua.


"Aku seneng banget,Gia udah sehat lagi." Seru Zea tersenyum.


"Iya aku juga,dia udah bisa ceria seperti dulu lagi." Jawab Gio.


"Oh ya,kenapa kamu gak nginep di rumah aja." Tanya Gio.


"Lain kali aja ya sayang,hari ini aku capek banyak tugas di sekolah.Dan juga aku harus membuat salinan tugas buat Gia kasihan dia harus tertinggal materi yang lumayan banyak." Seru Zea tersenyum.


Bagaimana mungkin aku berada di sana aku tidak enak hati dengan Rheina karena semenjak aku datang ke rumah sakit bersamamu.Rheina sudah sangat berbeda terhadap aku.Batin Zea melamun,sehingga mencuri perhatian Gio.


"Sesayang itu kamu sama Giana." Tidak ada jawaban dari Zea,Zea masih sibuk dengan pikirannya sendiri sampai Gio mencubit pipi Zea gemas.


"Ihh Gio,sakit." Seru Zea.


"Kamu kenapa melamun." Tanya Gio.


"Gak papa lagi mikirin rumus aja.Emang ada apa." Ujar Zea,sementara Gio berusaha mempercayainya.


"Aku tanya sama kamu sayang ,sesayang itu kamu sama Gia kamu sangat peduli sekali dengannya."Seru Gio,Zea sejenak menarik nafas dan menjawab pertanyaan Gio.


"Semua orang yang kenal dengannya pasti akan merasakan hal yang sama.Sifatnya yang selalu apa adanya,gesrek dengan segala tingkah lakunya.Giana orang yang baik dan juga humble ke semua orang,tapi dia paling gak suka kalau ada orang yang diam-diam menyakiti sahabatnya.Dan yang yang paling penting Giana kamu sudah bisa berpikiran dewasa dan mengambil keputusan yang tepat disaat ada masalah,dia bisa menyikapinya dengan sangat baik.Aku kagum dengan dia walaupun dia selalu bikin aku naik darah,tapi aku sayang sama Giana sebagai sahabat,saudara,dan calon adik ipar." Ucap Zea panjang lebar,membuat Gio yang mendengarnya merasa tertegun.


"Terima kasih." Ujar Gio,membuat Zea mengernyit heran.


"Untuk apa." Tanya Zea.


"Udah mau menyayangi Giana,aku minta kamu jaga dia."


"Tanpa kamu minta,aku sudah pasti akan menjaganya dengan sangat baik."


"Iya karena dia kalau sama kamu nurut,entah apa yang dipikirkan anak itu." Seru Gio membuat Zea tertawa.Dengan gemas Gio mengacak rambut kekasihnya itu ,tidak lupa juga Gio sempat mencuym kening Zea.


Setelah itu Gio mengantarkan Zea pulang ke panti.

__ADS_1


.


__ADS_2