
Setelah kepergian Gio,terjadi keheningan di antara mereka berempat.Dea yang diam karena juga merasa kecewa dengan Gavin,Gia yang marah dengan Dad nya dan juga Gavin yang sangat merasa bersalah.
"Gi gue pulang dulu ya." Bisik Devan.
"Lo pulang atau gue pastiin besok lo gak liat gue lagi." Ujar Gia mengancam sambil menatap Devan dengan tajam. Seketika juga Devan menjadi diam,karena dia tidak mau membuat Gia emosi dan berpengaruh pada kesehatannya.
"Dad,Gia kecewa sama Daddy. Seharusnya Dad tidak melakukan hal ini tanpa memikirkan perasaan orang banyak, Gia tau Dad pasti dipaksa seseorang tapi Gia mohon cukup ini terakhir kalinya Dad begini.Gia gak mau Dad bersikap seperti ini lagi Gia pergi dulu ,Gia gak mau ngelampiasin emosi Gia di sini dan nantinya akan nyakitin Daddy." Ujar Gia dengan nada dingin. Entahlah kalau menyangkut orang-orang tersayangnya Gia paling sensi dan akan menjadi orang lain.
Gavin yang mendengar hal itu semakin merasa bersalah,karena saat ini putri kesayangannya sedang marah besar kepadanya. Gavin menatap Gia sedih,tapi Gia berusaha menghilangkan emosi yang ada di kepalanya.
"Ayo Dev." Ajak Gia menarik tangan Devan tanpa memperdulikan Gavin dan Dea.
Setelah kepergian Gia dan Devan,tinggalah Dea dan Gavin di ruangan itu.
"Aku juga kecewa sama kamu Al,kamu sudah menyakiti perasaan putraku. Aku juga berharap ini yang terakhir kalinya untuk keluarga kita." Seru Dea berlalu meninggalkan Gavin.
Gavin frustasi karena istri dan putrinya sangat marah dengan keputusannya.
Awas saja kau Richardo.Batin Gavin kesal,kalau saja Rico tidak meminta hal ini pasti saat ini Gavin tidak akan di jauhi keluarganya.
Setelah itu Gavin menghubungi Rico untuk memberitahukan keputusan Gio.Kemudian,Gavin menyusul istrinya ke dalam kamar untuk membujuk nya.
Sementara Gio.
Saat ini Gio membawa mobilnya dengan kecepataan di atas rata-rata,dia memikirkan perasaan gadisnya.
"Sayang aku mohon jangan pergi lagi." Gumam Gio frustasi.
Saat melewati persimpangan jalan Gio tidak menyadari adanya lampu lalu lintas,dia menerobos tanpa melihat kalau lampu itu menandakan harus berhenti. Karena pikiran yang kacau Gio menerobos begitu saja,tanpa dia sadari dari arah samping ada truck besar yang melaju kencang.
Brakkkkk
Boomm.
Terjadilah kecelakaan maut di susul dengan suara ledakan yang sangat keras. Seketika banyak orang datang berkerumun untuk menolong korban kecelakaan.
Beruntung saat kecelakaan Gio terpental keluar dari mobil ke arah bahu jalan dengan kondisi Gio yang mengenaskan. Semua orang membantu Gio untuk di bawa ke rumah sakit.
Di lain tempat.
Saat ini Gia dan Devan berada di sebuah danau tempat kesukaan Gia. Tapi tiba-tiba Gia mengeluh kesakitan di dadanya membuat Devan khawatir.
"Awww." Ringis Gia memegangi dadanya
__ADS_1
"Kenapa Gi." Tanya Devan cemas.
"Gak tau Dev,dada gue tiba-tiba sakit dan sekarang perasaan gue gak enak." Seru Gia.
"Lo yakin gak papa,apa perlu gue bawa lo ke rumah sakit."
"Udah gue gak papa, tapi kenapa perasaan gue jadi gak enak gini ya." Seru Gia.
"Mungkin cuma perasaan lo aja."
"Semoga saja." Ujar Gia berusaha berpikir positif.
Sementara Zea saat ini berada di atas atap pantinya, dia mengenang kembali pertemuannya dengan Gio saat dia masih kecil dan saat Gio kembali dengannya. Tapi tiba-tiba bingkai foto Gio yang Zea pegang terjatuh ke bawah membuat Zea kaget.
"Kenapa perasaan tidak enak begini." Gumam Zea lirih. Setelah itu Zea turun ke bawah untuk mengemasi barangnya. Zea berencana ingin pulang ke surabaya dan meneruskan sekolah di sana setelah pengumuman kenaikan kelas XII minggu depan.
Gavin dan Dea.
"Sayang aku minta maaf atas kejadian tadi." Ujar Gavin menggenggam tangan Dea.
"Aku maafin kamu tapi aku masih kesal." Seru Dea.
"Iya aku tau,maafin aku .Aku janji kejadian ini tidak akan terulang lagi." Ucap Gavin dan menarik Dea ke dalam pelukannya.
"Mungkin hanya perasaanmu saja." Jawab Gavin.
"Tapi ini tidak seperti biasanya Al."
"Semoga tidak ada apa-apa."
Dea berusaha menyangkal perasaannya,tapi ikatan batin seorang ibu dan anak membuat Dea merasa gelisah.
Tuhan li**ndungilah putra dan putriku .Batin Dea .
Sesaat kemudian,suara telepon rumah berbunyi dan langsung disambungkan ke kamar Dea.
"Halo apa benar ini dengan keluarga Giofandi Raymond." Ujar seseorang di seberang telfon sana.
"Iya benar."
"....."
"APA!!." Pekik Dea seketika telepon yang dipegangnya terjatuh. Setelah itu Gavin mencoba bertanya dengan Dea secara pelan-pelan,Dea berteriak seperti orang kesetanan.
__ADS_1
"Al putraku,putraku kecelakaan dia berada di rumah sakit dia kritis Al putraku Giofandi." Teriak Dea histeris.
"Sayang tenang dulu. Sekarang pelan-pelan kamu jelasin ada apa." Ujar Gavin menenangkan Dea.
"Ini semua salah kamu,kalau saja kamu tidak membebani pikiran Gio,Gio ku tidak akan kecelakaan karena mencari kekasihnya." Seru Dea sambil memukul Gavin. Gavin kaget mendengar putranya kecelakaan,dan yang lebih menyakitkan wanita yang amat dicintainya saat ini menangis karena ulahnya sendiri. Apalagi nanti kalau Gia tau,sudah lengkap penyesalan Gavin membuat dua wanita yang dicintai dan disayanginya terluka .
Setelah itu Gavin berusaha menghubungi Gia berkali-kali tapi tidak ada jawaban dari Gia. Kemudian Gavin berusaha menghubungi Devan,sampai akhirnya Devan menjawab panggilannya.
Gavin memberitahu Devan kalau Gio kecelakaan,Devan tersentak kaget. Devan sendiri juga bingung memberitahu Gia karena saat ini emosi Gia belum stabil apalagi Gia sedang menjalani pengobatan yang tidak boleh membuat Gia terlalu banyak beban pikiran.
Setelah memutus sambungannya dengan Gavin,Devan berusaha berbicara dengan hati-hati kepada Gia.
"Sayang." Panggil Devan.
"Ish tumben-tumbenan sok manis." Jawab Gia,tapi tidak diperdulikan oleh Devan yang ada di pikiran Devan saat ini adalah bagaimana memberitahu kabar dari Gavin tadi kepada Gia,tapi dengan catatan tidak akan mempengaruhi kondisi Gia.
"Gue mau ngomong tapi lo janji satu hal dulu sama gue." Ujar Devan.
"Mau ngomong ya tinggal ngomong aja kali Dev gak usah pake janji-janji segala." Seru Gia.
"Gak mau lo harus janji dulu sama gue,kalau enggak gue marah." Ujar Devan berusaha tegas dengan Gia.
"Oke oke gue janji."
"Lo janji,lo bakal tetap tenang setelah gue kasih tau apa yang mau gue katakan."
"Iya sayang,Giana janji." Seru Gia melihat keseriusan di mata Devan,dia takut Devan akan benar-benar marah dengannya.
"Bang Gio kecelakaan sekarang dia kritis di rumah sakit."
Jlebb.
Gia mematung mendengar penuturan Devan,tapi sebisa mungkin dia menenangkan pikirannya karena sudah janji dengan Devan. Melihat Gia diam,Devan menjadi cemas.
"Gi lo gak papa."
"Ayo kita ke rumah sakit sekarang." Ajak Gia berusaha menahan air matanya.
Setelah itu Devan mengantar Gia ke rumah sakit tempat Gio di rawat,di sepanjang jalan Gia hanya diam dengan pikirannya yang ada dimana-mana. Devan tidak pernah melepas pegangan tangannya terhadap Gia,Devan juga merasa cemas dengan keadaan Gio.
Sebelum sampai di rumah sakit,Devan sempat menghubungi Zea menggunakan ponsel Gia.Tapi Zea juga tidak menjawab panggilan dari Devan,sampai akhirnya Devan berhenti menghubungi Zea.
Di rumah sakit###
__ADS_1
.