
"Hmm sebuah perjodohan." Gumam Gavin lirih.
##
Hari ini Gavin berencana ingin membicarakan permintaan Rico kemarin,Gavin menghubungi Gio untuk segera pulang karena saat ini Gio sedang izin pergi jalan bersama Zea. Di rumah hanya ada Dea dan Rheina sementara Gia pergi jalan bersama Devan.
Setelah menghubungi Gio untuk segera pulang,Gavin memanggil Dea ke ruang keluarga.Dea tidak tau ada hal apa yang akan dibicarakan oleh Gavin sementara Rheina berada di dalam kamar sambil tersenyum senang dia sudah membayangkan hal apa yang akan terjadi sebentar lagi.
Beberapa saat menunggu Gio,akhirnya Gio sampai di rumah dia membawa Zea karena Gio juga akan meminta restu hubungannya dengan Zea. Awalnya Zea menolak karena belum siap,tapi karena tidak mau mengecewakan Gio akhirnya Zea mau bertemu dengan keluarga Gio.
"Gio kamu masuk duluan saja,aku masih mau merapikan make up dulu." Seru Zea.
"Astaga sayang,kamu tanpa make up sudah sangat cantik."
"Akh gombal." Ujar Zea tersipu.
"Yaudah nanti langsung masuk ke dalam,aku tunggu di dalam." Seru Gio.
"Siap sayang." Jawab Zea semangat.
Akhirnya Gio meninggalkan Zea masuk lebih dahulu ke dalam rumah.
Setelah sampai di ruang keluarga,Gavin menyuruh Gio duduk.
"Dimana Zea." Tanya Dea.Kalau Dea sudah tau hubungan Gio dengan Zea dari Gia. Dea tidak melarang Gio karena itu adalah pilihan Gio sendiri,selagi Gio bahagia Dea akan mendukungnya.
"Zea masih di mobil Mom,bentar lagi nyusul." Jawab Gio dan dibalas anggukan oleh Dea.
"Daddy mau bicara denganmu." Seru Gavin dengan nada serius,membuat suasa di ruangan itu seketika berubah.
"Gio siap mendengarkan apapun yang akan Dad katakan." Ujar Gio menatap Daddy nya.
"Kamu harus bertunangan dengan Rheina."Seru Gavin spontan.
Degggg.
Baik Gio maupun Dea merasa kaget mendengar penuturan Gavin. Gio masih berusaha mencerna ucapan Daddy nya,sementara Dea hanya diam karena tidak mau mencela ucapan Gavin.
"No Dad,Gio tidak bisa. Lagian Rheina itu saudara spupu Gio,Gio gak mungkin bertunangan dengan nya." Ujar Gio sopan.
__ADS_1
"Daddy tidak mau tau,kamu harus secepatnya bertunangan dengan Rheina.Karena Dad sudah merencanakannnya saat kalian masih berada di dalam kandungan." Seru Gavin .
"Dad,sekarang sudah gak zaman lagi main jodoh-jodohan. Gio mau dengan pilihan Gio sendiri,Gio tidak pernah menyukai Rheina.Gio punya pilihan sendiri,dia gadis yang Gio cari selama bertahun-tahun ini." Ujar Gio mulai emosi.
"Sayang kenapa kamu tiba-tiba mau menjodohkan putra kita dengan Rheina." Tanya Dea pelan,dia tau kalau sekarang suaminya sedang beradu argumen bersama putranya.
"Apa aku salah menginginkan pendamping hidup yang baik buat Gio." Seru Gavin menatap Dea kesal.
"Iya aku paham,tapi anak kita sudah mempunyai pilihannya sendiri.Gio sudah mempunyai Zea yang sangat dicintai Gio ,apa kamu mau memaksakan kebahagiaan anak kita yang bertolak belakang dengan hatinya." Jelas Dea berusaha mencairkan hati Gavin. Sementara Gavin menatap Dea bingung.
Gavin memang dari dulu tidak pernah mau menjodohkan anak-anaknya tapi mengingat permintaan Rico kemarin, Gavin merasa banyak berhutang budi dengan keluarga Rico jadi mau tidak mau Gavin harus menjodohkan Gio dengan Rheina. Tapi kalau seandainya Gio tetap bersikeras bersama Zea,Gavin tidak bisa memaksanya.
Flashback...
"*Tuan,apa kau sedang sibuk." Tanya Rico di seberang telfon.
"Ada apa menghubungiku."
"Aku mempunyai satu permintaan."
"Katakanlah."
"Apa aku tidak salah dengar."
"Tidak,kali ini aku benar-benar serius aku meminta atas Bella adik mu dan Rheina putriku."
"Tapi aku tidak mau menjodohkan anak-anak ku."
"Aku harap kau bisa membujuk Gio untuk bersama Rheina."
"Baiklah akan aku usahakan,tapi aku tidak berjanji kalau Gio akan menerimanya,karena anak itu sangat keras kepala."
"Baiklah akan aku tunggu kabar baik nya*."
Flash on...
"Dad,Gio mohon kali ini biarin Gio nentuin pilihan Gio sendiri.Gio mencintai Zea,dan Gio menganggap Rheina sama seperti Gia adik Gio sendiri." Ucap Gio memelas, Dea mengusap punggung putranya itu berusaha menenangkan Gio.
"Kamu bisa mencobanya dulu nak,pelan-pelan kamu membuka hati untuk Rheina, Dad yakin kamu pasti bisa."
__ADS_1
"Maaf Dad,Gio tetap tidak bisa karena selamanya hanya akan ada Zea di hati Gio."
Gavin terdiam mendengar ucapan anaknya,dia tidak bisa lagi memaksakan perasaan Gio terhadap keinginannya. Sementara di balik dinding pembatas,Zea mendengar semuanya Zea merasa sangat sakit hati. Jadi ini alasan kenapa orang tua Gio menyuruh nya pulang,dan juga ini yang Rheina maksud .
Zea yang awalnya tadi ingin masuk ,akhirnya berbalik dan keluar dari rumah itu dengan menangis. Saat sampai di pintu Zea bertemu dengan Gia dan Devan,Zea langsung memeluk Gia sambil menangis kencang.Gia berusa berkali-kali bertanya tapi hanya ada suara tangisan yang terdengar dari Zea.
"Kakak ipar,lo kenapa." Tanya Gia bingung. Tapi tidak ada jawaban dari Zea,kemudian Gia dan Devan saling pandang mereka sama-sama tidak mengerti hal apa yang terjadi di dalam.
"Gue permisi." Seru Zea dan berlalu pergi,Gia yang sempat mengejar Zea akhirnya berhenti setelah melihat Zea menaiki sebuah taxi.Setelah itu Devan mengajak Gia untuk masuk ke dalam dan menanyakan kepada Gio.
Saat masuk ke dalam rumah,Gia mendapati Gio yang sedang diam seribu bahasa begitu juga Gavin. Sementara Dea menatap Gia dengan tatapan meminta bantuan.
"Mom,Dad,ini ada apa." Tanya Gia. Tapi tidak ada yang menjawab pertanyaan Gia.
"Dad,bilang sama Gia ini ada apa." Ujar Gia ,tapi juga tidak ada jawaban dari Gavin.
"Bang,jawab Gia kalian semua ini kenapa." Teriak Gia kesal,Devan mencoba menenangkan Gia yang sedang emosi.
"Daddy mau menjodohkan bang Gio dengan Rheina." Ujar Dea membuat Gia membelalak kaget.
"Whattt,are you seriously Mom?." Tanya Gia masih belum percaya. Dea membalasnya dengan anggukan.
"Astaga Daddy ini kenapa. Kenapa Daddy tiba-tiba mau menjodohkan bang Gio dengan Rheina,Daddy tau sendiri bang Gio sudah punya Zea. Gia tidak habis pikir dengan Dad,bagaimana bisa Daddy melakukan hal ini tanpa memikirkan perasaan bang Gio." Cerocos Gia, sementara Devan masih berusaha menenangkan emosi Gia yang meletup-letup.
Gavin masih diam mendengar ocehan putri kesayangannya. Kali ini Gavin benar-benar merasa bersalah.
"Sayang kamu tenang dulu,biarkan Daddy memikirkannya kembali." Seru Dea berusaha menenangkan emosi Gia.
"Gimana Gia bisa tenang,tadi Gia melihat Zea keluar dari sini dengan keadaan yang menyedihkan. Gia gak mau ada yang menyakiti sahabat Gia siapapun itu." Ujar Gia dengan nada sedikit meninggi sambil melirik Dad nya.
" Ya ampun, aku lupa kalau ada Zea di depan." Seru Gio beranjak dari tempat duduknya.
"Mendingan sekarang bang Gio kejar Zea,Gia gak mau sahabat Gia kenapa-kenapa." Ujar Gia menarik tangan abangnya,tapi suara Gavin menghentikan langkah Gio.
"Maafkan Daddy,tadi Daddy egois. Daddy hanya mentingin perasaan Daddy. Kejarlah Zea jangan sampai kamu kehilangannya nak." Seru Gavin menghampiri Gio dan menepuk pundak Gio.
"Terima kasih Dad." Balas Gio dengan pelukan.
.
__ADS_1
.