High School Love Story

High School Love Story
S2#34


__ADS_3

Saat ini keluarga Krismantara,Raymond dan Abraham tengah berada di rumah sakit.Dea tidak henti-hentinya menangis ketakutan karena kondisi Gia saat ini. Gavin merasa tidak tega sekaligus marah karena kejadian ini membuat istri tercintanya bersedih.


Aku bersumpah akan menghancurkan keluarga kalian berdua.Batin Gavin.


Di ruangan Zea.


Sekarang Zea sudah melewati masa kritisnya,pendarahan akibat tembakan itu sudah berhenti dan kondisi Zea pun sudah cukup stabil.Sementara di ruangan Gia.


Sampai saat ini dokter masih belum bisa menghentikan pendarahan dari dalam tubuh Gia. Apalagi Gia yang mempunyai penyakit yang bisa dibilang sangat berbahaya.


Di depan ruangan Gia dan Zea semua keluarga menunggu cemas dengan keadaan mereka berdua.Dokter yang menangani Zea keluar dari ruangannya.


"Maaf permisi keluarga Zea." Ujar Dokter itu.


"Saya ibu asuhnya Zea dok." Jawab ibu panti,sementara Gio hanya mendengarkan pembicaraan mereka.


"Syukurlah pasien sudah melewati masa kritisnya sekarang tinggal menunggu dia sadar." Seru dokter itu dan berlalu pergi.


Tidak lama kemudian dokter yang menangani Gia keluar dari ruangan dan menghampiri keluarga Gia dengan cemas.


"Maaf pendarahan yang dialami nona Gia tidak bisa berhenti sehingga kami membutuhkan donor darah Rhesus A- yang cukup banyak."Ujar dokter itu,membuat semua yang ada di sana terkejut.


"Ambil darah saya saja dok,saya Daddy nya." Seru Gavin tegas,akhirnya dokter itu menyuruh suster untuk memeriksa Gavin ke lab.


Sementara di markas DEV'S DEVIL'S.Devan menyiksa Kana dan Sharen dengan tangannya sendiri.


"Gue gak nyangka kalian berdua bisa berbuat hal sekejam ini,padahal yang gue tau kalian gak pernah ganggu Giana di sekolah." Seru Devan dengan tatapan membunuhnya.


"Tapi yang jelas gue gak mau tau apa alasan kalian melakukan hal ini kepada Gia,yang gue tau kalian udah berani melukai gadis gue." Sambung Devan dengan senyuman devil nya.


Setelah itu,Devan menjambak rambut mereka berdua dengan kasar.Tapi bagi Devan itu tidak sebanding dengan apa yang sudah mereka lakukan terhadap Gia.Tidak berhenti di sana,Devan juga berkali-kali mencambuk dan menampar mereka dengan kejam. Sampai akhirnya.


"Gue rasa,penyiksaan dari tuan Raymond dan juga dari gue masih belum sebanding dengan apa yang kalian lakukan kepada Gia.Pesan terakhir sebelum kalian pergi ke neraka." Seru Devan sambil mempersiapkan pistolnya.


Mendengar itu Kana dan Sharen memucat seketika,mereka tidak pernah berpikir sampai sejauh itu tentang Devan.Devan lebih kejam daripada Gavin,itu yang Kana dan Sharen tau.


"Plis Dev,gue mohon jangan bunuh gue.Semuanya cuma salah paham." Mohon Kana terisak.

__ADS_1


"Iya Dev,kami di jebak orang tua kami sendiri." Sambung Sharen.


Devan tidak memperdulikan ucapan mereka.


Dorr


Dorr


Dua tembakan tepat mengenai jantung Kana dan Sharen,Devan tersenyum puas karena berhasil menghabisi dua wanita yang sudah membuat gadisnya sekarat.Tempat itu sekarang sudah dipenuhi darah dari Kana dan Sharen.


Tiba-tiba ada panggilan masuk dari Gio.


*Halo bang


"...."


Oke gue kesana sekarang*


Setelah itu Devan dengan terburu-buru kembali ke rumah sakit,tapi sebelum itu.


Beberapa saat kemudian,Devan sampai di rumah sakit.Dia terheran karena keluarga Gia yang menangis semua,sampai akhirnya Gio menghampiri Devan.


"Bang,ini ada apa." Tanya Devan cemas.


"Kita butuh donor darah untuk Gia,Daddy tidak bisa mendonorkan darahnya karena dia mempunyai hipertensi.Sementara golongan darah gue sama seperti Mom" Seru Gio lirih.


"Memang apa golongan darah Gia." Tanya Devan.


"Rhesus A-."


"Biar gue aja yang donorin darah buat Gia,golongan darah gue sama seperti Gia." Seru Devan tiba-tiba membuat semua yang ada di sana menoleh ke arah Devan.


Tanpa menunggu lama,Devan segera meminta suster untuk mengambil darahnya supaya Gia bisa secepatnya di tolong.Setelah beberapa saat kemudian,Devan telah selesai mendonorkan darah kepada Gia.Dia kembali menghampiri keluarga Gia.


Tiba-tiba Gavin memeluk Devan mengucapkan banyak terimakasih karena sudah mau menolong putri kesayangannya itu.


"Om harus membalasnya dengan apa nak." Seru Gavin.

__ADS_1


"Om tidak harus membalas,yang terpenting Gia bisa segera pulih." Jawab Devan berusaha tenang.


Setelah itu Dea juga memeluk Devan,dia sangat berterimakasih kepada Devan.


"Semoga cinta kalian selamanya akan abadi nak." Seru Dea menangis.Devan menganggukkan kepalanya,dan yang terakhir Gio.Dia juga sangat berterima kasih kepada Devan.


"Gue tau lo emang pantes buat adek gue." Seru Gio menepuk pundak Devan,Devan tersenyum kecil merespon ucapan Gio.


Tidak lama dari itu,Dokter yang menangani Gia keluar dari ruangan.Semua keluarga Gia berkumpul untuk mengetahui kondisi Gia.


"Syukurlah pendarahan nona Gia sudah berhenti,dan kita bisa mendapatkan donor darah itu secepatnya.Tapi untuk saat ini nona Gia masih dalam keadaan koma,meskipun pendarahan akibat tembakan itu sudah bisa di tangani tapi efek dari peluru itu membuat penyakit Leukimia nona Gia menjadi lebih parah apalagi jantung nona Gia yang lemah tubuhnya tidak mampu menahan semua itu,tapi kembali lagi kepada yang di atas semoga nona Gia segera sadar."


Degg.


Penjelasan dokter itu mampu membuat semua yang ada di sana kaget.Apalagi Devan yang dari awal tidak pernah tau tentang penyakit Gia.


Leukimia,lemah jantung itu penyakit yang sangat serius Giana.Batin Devan mengingat kembali saat beberapa kali dia memergoki Gia sedang menyembunyikan rasa sakitnya.Seketika ucapan Ansel waktu itu terus terngiang-ngiang di kepala Devan.


"Bagaimanapun caranya saya harap anda bisa menyembuhkan anak saya." Seru Gavin berusaha tetap tegar sambil merangkul istrinya yang menangis histeris.


"Kita harus segera melakukan Kemoterapi terhadap nona Gia,tapi itu kemungkinannya sangat kecil.Namun kita harus tetap melakukanya agar penyakit itu lambat laun bisa sembuh." Jelas dokter setelah itu dokter meninggalkan keluarga Gia.


Brukkk.


Dea pingsan di pelukan Gavin.Gavin membawa istrinya ke sebelah ruang rawat Gia.Setelah kepergian Gavin dan Dea saat ini hanya tersisa Gio,Devan,Ansel dan Iffy. Sementara Rheina dan Kenzo masih berada dalam perjalanan.


Devan melamun sendirian di salah satu kursi tunggu yang ada di sana.


"Jadi ini yang lo bilang,gue gak boleh terlalu dalam mencintai lo.Lo takut lo pergi ninggalin gue,kalau memang benar sekarang gue merasa sangat takut kehilangan lo Gi,gue takut bahkan kalau bisa gue akan gantiin penyakit lo itu." Seru Devan lirih dengan mata yang berkaca-kaca.


Gio dan Ansel memandang Devan dengan iba.Setelah itu Gio menuju ke ruangan Zea untuk melihat kekasihnya,karena untuk saat ini dia masih tidak bisa melihat keadaan adiknya.


Sementara di alam bawah sadar Gia.


.


.

__ADS_1


__ADS_2