
Satu tahun kemudian.
Hari ini tepatnya di rumah sakit keluarga Krismantara, semua keluarga besar Gia tengah berkumpul karena hari ini Gia akan melahirkan anak pertamanya. Di dalam kamar,Gia sudah ditemani dengan Devan suaminya.
Mengenai pasangan Gio dan Zea,satu bulan yang lalu mereka melahirkan seorang anak laki-laki yang diberi nama GALANG ADLEY RAYMOND. Dan rencananya mereka berdua ingin mempunyai anak lagi.
Sementara Iffy tengah mengandung anak pertamanya yang berusia delapan bulan.
Back Gia.
Devan selalu menggenggam tangan Gia yang sedari tadi merasa kesakitan. Devan menjadi tidak tega sendiri bagaimana perjuangan seorang Gia selama satu tahun ini mempertahankan bayi mereka,di sisi lain Gia juga melawan penyakit ganasnya.
Flashback..
Saat itu Gia dan Devan memeriksakan kandungannya yang berusia tujuh bulan ke dokter. Gia merasa akhir-akhir ini tubuhnya sangat lemas,dia tidak ingin itu sampai berdampak dengan bayinya .
"Jadi gimana keadaan istri dan kandungannya dok.?" Tanya Devan.
"Begini,kandungan nyonya Gia cukup sehat. Tetapi di sisi lain penyakit nyonya Gia yang lumayan parah memaksakan bayi itu untuk segera di ambil. Kita tidak mungkin menunggu sampai waktu lahiran nyonya Gia,karena itu akan sangat berdampak besar bagi nyawa nyonya Gia."
Degg.. Devan mematung di tempatnya seakan sebentar lagi dia akan kehilangan Gia.
"Jadi apa yang harus saya lakukan dok.?" Tanya Gia.
"Saya hanya bisa menyarankan agar nyonya Gia mau melakukan operasi untuk bayinya,walaupun nantinya bayi itu akan prematur tapi saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk anda dan bayinya. "
"Tapi saya ingin bayi saya lahir dengan normal dan sesuai dengan waktu seperti pada umumnya. Saya yakin saya bisa sampai hari itu tiba,saya mohon saya ingin anak saya lahir dengan normal dan sehat." Jelas Gia.
"Tapi sayang,ini sangat berbahagia dengan kesehatan kamu." Ujar Devan.
"Sayang,percaya sama aku semuanya akan baik-baik saja." Ucap Gia seraya memegang tangan Devan.
"Baiklah kalau itu keinginan anda nyonya,saya akan selalu memantau kesehatan nyonya."
Flash off..
Devan kembali teringat dengan ucapan dokter waktu itu,sebuah ketakutan besar sedang dihadapi oleh seorang Devan saat ini.
"Sayang, kenapa kamu menangis.?" Tanya Gia di sela-sela kesakitannya.
"Aku takut kehilangan kamu sayang,aku takut kita tidak bisa merawat anak-anak kita nanti." Jelas Devan,runtuh sudah pertahanan Devan yang dia tahan dari tadi.
Sementara Gia tersenyum dan menarik kepala Devan untuk memeluknya.
"Jangan takut,kita akan terus bersama-sama dengan keluarga kecil kita daddy." Seru Gia. Devan menatap istrinya itu dengan penuh cinta.
"Mommy janji akan selalu ada buat kalian." Sambung Gia.
"Iya mommy,daddy percaya." Ujar Devan tersenyum.
Setelah itu persalinan Gia di mulai karena bayi nya sudah tidak sabar untuk keluar. Gia berteriak menahan rasa sakit di seluruh tubuhnya,sementara Devan memegang tangan Gia sambil terus mencium pipi Gia.
"Aku gak kuat lagi Dev." Seru Gia menahan rasa sakitnya.
"Sayang,dengerin aku. Kamu jangan menyerah,ingat perjuangan kamu selama ini mempertahankan baby kita." Ujar Devan dengan nada bergetar. Gia merasakan semangatnya penuh kembali dan berusaha yang terbaik untuk anaknya.
Sampai akhirnya,bayi mungil itu keluar dengan tangisannya. Devan dan Gia tersenyum mendengarnya,Devan mencium wajah Gia sambil mengucapkan terima kasih.
__ADS_1
"Sayang,aku aku minta sama kamu untuk jagain dia. Dia buah cinta kita jangan sampai ada orang yang menyakitinya apalagi membuatnya menangis."
"Iya kita akan sama-sama merawatnya dan membesarkan dia bersama-sama." Seru Devan bahagia,sementara Gia tersenyum melihat kebahagiaan yang terpancar di wajah suaminya.
Sesaat kemudian,ada seorang suster yang menghampiri mereka sambil menggendong seorang bayi ditangannya.
"Selamat tuan,nyonya bayi anda berjenis kelamin perempuan." Ujar suster itu menaruh bayinya di samping Gia, dan setelah itu pergi.
"Aku masih tidak menyangka dia buah cinta kita sayang. Dia persis seperti kamu." Ujar Devan sambil mengelus pipi putrinya itu.
"Iya,dia mirip sama aku tapi mata dan mulutnya sama seperti kamu sayang." Seru Gia memandangi putrinya.
"RANIA SIFABELLA ZANITHA REEGAN. Putri yang cantik,anggun,lembut, bahagia dan sempurna. Seperti mommy kamu sayang." Ujar Devan sambil mencium putrinya.
"Nama yang bagus,kita panggil dia Rania. Halo Rania,putri mommy yang lucu selamat datang di dunia nak. Kelak mommy berharap kamu bisa menjadi seorang anak yang berguna bagi orang banyak." Seru Gia.
"Lihat sayang,dia menggeliat seakan mengerti ucapanmu." Seru Devan.
Tiba-tiba Gia merasakan sakit yang luar biasa di kepalanya,tetapi dia tahan karena tidak mau membuat Devan khawatir. Tetapi itu tidak berlangsung lama,Gia tidak bisa menahan rasa sakit yang menyerang di kepalanya.
"Sayang ,Gia kamu keanapa.?" Tanya Devan panik.
"Akhhh,sakit Dev." Pekik Gia memegang kepalanya.
Devan beranjak ingin memanggil dokter,tetapi tangannya di tahan oleh Gia. Gia berusaha tersenyum sambil memegang erat tangan Devan.
"Sayang,kamu mau dengerin aku kan.?" Ujar Gia dengan nada yang lembut,Devan mengangguk tetapi dia sudah menangis.
"Aku minta,kamu jaga anak kita seperti kamu menjaga diri kamu sendiri dan aku. Sayangi dia selalu karena cinta pertamanya adalah kamu. Bahagiakan dia,jangan pernah tinggalin Rania jangan pernah membentak apalagi memarahinya. Dia perempuan mempunyai hati yang sangat lembut sama seperti aku. Aku harap kamu janji sama aku." Jelas Gia sambil tersenyum .
"Terimakasih atas semuanya sayang,aku mencintaimu dan sangat mencintaimu sekarang tugasmu adalah membahagiakan dia putri kecil kita. Jangan sampai dia bersedih dan merasa sendiri aku percaya kamu akan selalu membahagiakannya.jangan pernah bersedih atas takdir sayang,aku percaya kamu kuat I love you Devan Septian Reegan." Seru Gia tersenyum sambil menutup matanya,perlahan pegangan tangannya melemah di tangan Devan.
Devan panik,dan berteriak memanggil nama Gia dia langsung keluar dan memanggil dokter sementara semua keluarga yang ada di depan ikut panik melihat Devan seperti itu.
Sampai akhirnya dokter memeriksa kondisi Gia .
"Suster siapkan alat pemacu jantung." Ujar dokter.
Setelah beberapa saat mencoba,dokter itu menyerah dan mencabut semua selang oksigen di tubuh Gia.
"Maaf tuan,kita tidak bisa menyelamatkan nyonya Gia." Seru dokter itu,seketika Devan ambruk di lantai.
Pikiran dan hati Devan kacau,mendengar semua kenyataan ini ditambah dengan tangisan putrinya seakan-akan dia juga ikut kehilangan mommynya.
Setelah itu dokter keluar dan suster menyerahkan Rania kepada Zea. Semuanya masuk ke dalam kamar Gia dan melihat Devan yang bersimpuh di lantai dengan tangisannya.
Semua keluarga Gia juga ikut menangis,dia juga merasa kehilangan Gia tapi mereka juga tidak bisa melawan takdir. Gio menghampiri Devan untuk menguatkannya.
"Kenapa kamu ninggalinn aku sama Rania sayang,kamu udah janji untuk merawatnya bersama-sama. " Seru Devan sambil menangis.
"Lo yang tenang Dev,adik gue udah tenang di sana . Kami semua mengikhlaskan Gia,dia sudah tidak merasakan sakit lagi." Ujar Gio seraya menepuk pundak Devan.
"Nak,kamu harus kuat. Kami semua di sini kehilangan Gia,terutama anak kalian. Apa kamu tidak ingin melihat Gia senang di sana? Gia sudah tenang nak,sekarang kamu harus melanjutkan hidup kamu bersama putri kamu." Jelas Dea,Dea sama hancurnya seperti Devan karena dia adalah seorang ibu tapi Dea sudah ikhlas karena dia tidak mau melihat Gia kesakitan lagi.
"Kamu harus kuat nak,putri kamu membutuhkan kamu." Seru Gavin memeluk menantunya itu,Gavin awalnya tidak bisa menerima tapi dia tidak boleh egois karena itu merupakan garis takdir seseorang.
"Lo gak sendirian brother,kami semua ada untuk lo sama anak lo." Seru Ansel menepuk pundak Devan.
__ADS_1
Devan masih berusaha mencerna semua ucapan orang-orang disekitarnya,kemudian memori kenangannya bersama Gia teringat kembali.
Semua orang benar,aku harus menepati janjiku kepada Gia. Batin Devan.
Tiba-tiba,Zea menyerahkan Rania di tangannya. Devan menerima dan memeluk anaknya itu dengan erat seakan dia tidak mau kehilangan cintanya lagi.
"Sayang,mommy sudah bahagia di sana. Nanti kalau sudah besar Rania harus kuat dan tangguh seperti mommy ya nak,jangan kecewakan kami terutama mommymu. Dia adalah wanita hebat yang daddy punya,dia rela melakukan segala hal demi kamu. Daddy janji akan selalu membahagiakan kamu sesuai permintaan mommy." Ujar Devan sambil menangis mencium anaknya. Semua orang yang mendengar di sana ikut tersayat hatinya.
Devan berdiri dan mendekat ke Gia.
"Pergilah dengan tenang sayang aku ikhlas agar kamu tidak sakit lagi,dan aku berjanji akan menjaga Rania dengan seluruh hidup dan nyawa aku." Ujar Devan,setelah itu mengambil tangan Gia untuk mengusap pipi Rania bayi itu hanya menggeliat.
Setelah itu mereka mengurus proses pemakaman Giana Zafra.
Keesokan harinya di kediaman Krismantara.
"Hmm cucu grandpha sudah mandi." Ujar Gavin menggendong cucunya.
"Iya dia sudah wangi dan cantik sekali." Sambung Dea.
"Uncle,Iffy boleh gendong sebentar.?" Tanya Iffy.
"Boleh tapi jangan lama-lama nanti perut kamu tidak nyaman." Seru Dea. Setelah itu Iffy mengambil bayi mungil itu ke dalam gendongannya.
"Ututu sayang,keponakan aunty. Manis banget kamu nak, satu bulan lagi kamu akan mempunyai saudara baru." Seru Iffy.
Setelah itu Iffy memberikan Rania kepada Devan,karena sedari tadi Devan melamun. Devan menerima putrinya dan tersenyum.
"Dad masih belum tau siapa nama cucu Dad itu." Ujar Gavin,Devan tersenyum dan menjawab pertanyaan mertuanya.
"RANIA SIFABELLA ZANITHA REEGAN. " Ujar Devan.
" Wah namanya bagus sekali nak." Ujar Gavin.
"Terima kasih Dad. Dan iya Devan izin untuk membawa Rania tinggal bersama Devan di bandung." Seru Devan.
Semua yang ada di sana kaget mendengar ucapan Devan.
"Kenapa,di sini juga rumah kamu nak." Seru Dea.
"Itu semua rencana Devan sama Gia sebelum Rania lahir mom, Gia ingin Raina tumbuh di sana. " Jelas Devan kembali mengingat almarhumah istrinya.
"Baiklah kalau memang itu keputusan kamu,tapi kamu harus janji sering-seringlah kemari. Di sini rumah kamu dan juga Rania." Ujar Gavin.
Setelah itu,Devan menyiapkan semua barang-barangnya tidak lupa dia membawa beberapa foto Gia. Devan berangkat membawa Rania bersamanya.
Di dalam mobil.
"Kita akan memulai hidup kita yang baru di sana nak, pasti mommy senang melihat kita memenuhi keinginannya." Seru Devan sambil menatap putrinya yang tengah terlelap.
TIDAK ADA YANG BISA MELAWAN TAKDIR,SEMUA SUDAH DIGARISKAN DI DALAM HIDUP MASING-MASING ENTAH ITU JODOH,KEMATIAN,DAN KEHIDUPAN.
End....
Assalamualaikum semua.
High School Love Story sudah selesai. Terima kasih yang sudah membaca sampai sejauh ini,see you❤️
__ADS_1