
Siang ini adalah jadwal chek up Gia,Gia sudah bersiap-siap menunggu Gio.
"Bang cepetan lah,udah mepet ini." Teriak Gia di depan kamar Gio.
"Iyaya bentar bawel." Jawab Gio dari dalam.
"Ngapain sih bang dandan lama-lama gak akan yang liat juga." Seru Gia kesal,dan tidak lama Gio keluar dari kamarnya dengan senyuman tanpa dosa.
"Maaf tadi masih nyari jam tangan dulu."
"Sudah kuduga." Ujar Gia mencibir Gio.
Memang abang satunya itu tidak akan pernah merasa lengkap tanpa jam tangan,dia suka mengkoleksinya tetapi itu tidak dipakai semua hanya sebagai pajangan.
Beberapa menit kemudian mereka sampai di rumah sakit, dan Gia yang sudah memiliki janji langsung diperiksa. Setelah diperiksa dokter sedikit terkejut dengan hasil dari pemeriksaannya. Melihat dokternya seperti itu membuat Gia takut kalau penyakitnya bertambah parah.
"Mohon maaf bagaimana perkembangan kondisi adik saya dok." Tanya Gio.
"Sebelumnya saya mohon maaf tetapi saya harus mengatakan hal ini. Leukimia yang diderita nona Gia hanya berkurang sekitar dua puluh persen dari kemo terapi selama beberapa tahun ini,dan juga beberapa pengobatan yang nona Gia jalankan tidak dapat diterima dengan baik oleh tubuhnya."
Degg...
Gia mematung berusaha mencerna semua ucapan dokter itu. Sedangkan Gio berusaha tetap tenang di depan Gia karena dia tidak mau Gia semakin takut.
"Terus apa yang harus kami lakukan dok." Tanya Gio lirih.
"Cepat atau lambat penyakit Leukimia itu akan semakin parah jika kita menghentikan pengobatannya,dan apabila kita terus melakukan pengobatan lagi tubuh nona Gia tidak akan bisa menerima obat sebanyak itu. " Penjelasan dokter cukup membuat Gia merasa takut dan mulai pasrah.
"Jika saya menghentikan pengobatannya apa yang akan terjadi dok." Tanya Gia.
"Kemungkinan anda hanya akan bertahan satu sampai dua tahun kedepan,tetapi itu semua kehendak Tuhan saya hanya bisa memprediksinya. Kita hanya bisa berharap kepada sang pencipta,nona Gia harus terus semangat berusaha saya akan membantu pengobatan anda dengan sebaik mungkin."
"Apakah rambut saya akan rontok seperti yang saya lihat di internet dok? Apa saya bisa bertahan beberapa tahun kedepan, saya masih mempunyai tanggung jawab untuk calon suami saya." Pertanyaan beruntun dari Gia membuat dada Gio berdesir,betapa kalutnya seorang Giana saat ini.
"Kemungkinan itu semua akan terjadi,dan saya berharap selamanya anda bisa tetap hidup."
"Kalau memang sekarang saya melakukan pengobatan lagi dan hasilnya akan sia-sia,sudah cukup sampai di sini saja dok pengobatannya. Buat apa saya melakukan hal yang hasilnya akan sia-sia." Jelas Gia dan berlalu pergi meninggalkan ruangan itu.
Gio awalnya ingin mengejar Gia,tapi Gio pikir Gia butuh waktu sendiri.Setelah berbincang mengenai penanganan Gia,Gio pamit dan langsung pulang ke rumah dia sudah tidak bisa fokus jika kembali ke kantor.
Sementara Gia.
__ADS_1
Gia saat ini berada di taman kesukaannya bersama Devan,Gia menangis sejadi-jadinya. Dia sendiri berpikir tidak ada gunanya untuk melakukan pengobatan lagi toh juga semua hanya akan sia-sia.
Tiba-tiba Gia dikagetkan dengan panggilan dari Devan,Gia berusaha tenang terlebih dahulu sebelum mengangkatnya.
"Iya halo sayang."
"Bagaimana pemeriksaan kamu,semuanya berjalan lancar?"
"Iya sayang semuanya baik,dan kemo terapi yang aku lakukan berhasil."
"Syukurlah aku sangat senang mendengarnya,sekarang kamu dimana aku jemput."
"Aku lagi di taman."
"Lima belas menit lagi aku sampai tunggu oke . Love you sayang." Ujar Devan di seberang telfon dan langsung mematikan sambungan telfonnya.
"Me too." Seru Gia lirih dan kembali menangis.
"Beberapa waktu kedepan rambut aku akan rontok,dan tubuh aku akan berubah. Tuhan izinkan aku lebih lama lagi bersama keluargaku dan juga Devan,aku ingin disaat-saat terakhirku bisa bersama mereka." Gumam Gia lirih.
Gia kaget saat melihat darah keluar dari hidungnya,sesegera mungkin dia menghilangkan sebelum Devan datang. Gia berusaha baik-baik saja karena dia tidak mau kalau Devan sampai mengetahuinya.
Beberapa menit kemudian Devan sampai di taman sambil membawa es cream kesukaan Gia.
"Hm,tapi tunggu bentar kenapa muka kamu pucat.?"Tanya Devan heran
"Eh iya gimana meeting kamu lancar.?" Tanya Gia berusaha mengalihkan pertanyaan Devan.
"Iya lancar,nanti malam kami akan makan malam bersama apa kamu mau ikut.?"
"Ah tidak,aku tidak terlalu cakap dengan masalah bisnis yang ada nanti disana hanya menjadi penonton bayaran." Ujar Gia membuat Devan tertawa gemas dengan gadisnya.
"Yasudah mau pulang sekarang atau masih mau di sini."
"Anterin ke salon dulu ya mau potong rambut."
"Bentar dulu kenapa tiba-tiba mau potong rambut hm,bukannya dulu kamu pernah bilang lebih suka rambut panjang."
"Iya dulu,tapi sekarang pengen yang beda aja gak papa kan."
"Asal kamu senang sayang,ayo."
__ADS_1
Setelah itu Devan mengantar Gia ke salon langganan Mom Dea,tidak ada rasa curiga sedikitpun dari Devan karena Devan percaya Gia akan selalu jujur kepadanya.
Dua puluh menit kemudian mereka selesai dan Devan langsung mengantar Gia pulang,sesampainya di rumah Gia.
"Sayang gak mampir dulu.?" Tanya Gia.
"Udah sore juga,besok aja aku ke sini sekalian hari libur kamu bersih-bersih terus istirahat ya."
"Hmm yaudah kamu hati-hati nanti kasih kabar kalau udah sampai."
"Baiklah. See you honey."
Setelah itu Devan pergi meninggalkan rumah Gia,Gia masuk ke dalam rumahnya dengan perasaan sedih memikirkan perkataan dokter di rumah sakit tadi. Syukurlah ada Devan yang sedikit menghiburnya.
Gia masuk ke dalam dan melewati ruang keluarga tanpa menyadari semua keluarganya ada di sana karena Gia sedang melamun. Mereka sedikit kaget melihat perubahan rambut Gia yang pendek padahal Gia sangat menyukai rambut panjang.
"Gianaa." Panggil Gavin lembut.
Seakan sadar dari lamunannya Gia berhenti dan berbalik,dia menatap semua keluarganya satu persatu. Gia sudah tidak bisa lagi menahan kesedihannya dan langsung berlari ke pelukan Mom nya.
"Mom,Giana takut." Seru Gia sesegukan.
Setelah itu Gia berpindah ke pelukan Gavin.
"Dad,Gia harus apa."
Gavin memeluk putrinya itu dengan erat,dia merasakan betapa sakitnya menjadi putrinya. Gavin juga memikirkan menantunya bagaimana nanti jika Devan kehilangan Gia.
"Sayang Mom tanya sama kamu,kenapa kamu tidak mau melakukan pengobatan lagi." Tanya Dea lembut sambil mengusap kepala Gia sayang,Dea berusaha kuat agar tidak membuat Gia semakin takut.
"Apa kamu tau,kami semua menyayangi kamu kami semua mencintai kamu. Terutama Devan orang yang selama ini selalu berharap kesembuhan kamu,kenapa kamu memilih menyerah?." Kali ini Gavin bertanya.
"Buat apa Gia melalukan hal yang hasilnya akan sia-sia Mom,Dad. Lebih baik kita tunggu ketetapan Allah saja,kalau memang Gia ditakdirkan untuk terus bersama kalian semua Gia tidak akan pergi dan juga sebaliknya."
"Dan Gia mohon sama kalian,jangan sampai Devan mengetahui hal ini. Kalau itu sampai terjadi Gia akan sangat kecewa dengan kalian." Sambung Gia dan pergi masuk ke dalam kamarnya.
Setelah kepergian Gia,hanya keheningan yang ada di ruang keluarga itu. Mereka semua larut dalam pikiran masing-masing.
.
.
__ADS_1
.
🥳