High School Love Story

High School Love Story
S2#42


__ADS_3

Sudah tiga hari Gio belum sadar juga,dengan setia Zea setiap hari menemani dan selalu berusaha berkomunikasi dengan Gio meskipun tidak ada respon apa-apa,Zea terus tetap berusaha.


Hari ini hari ke empat Gio berada di rumah sakit,Zea akan mengunjungi Gio di siang hari karena masih ada acara di panti.


Di rumah sakit sudah ada Rheina yang sejak pagi berada di ruangan Gio. Beberapa hari ini sudah cukup Rheina mengalah dengan Zea untuk menunggu Gio,saat ini waktu yang tepat menemani Gio.


"Bang Gioo, maaf Rheina baru bisa datang sekarang." Gumam Rheina sambil memegang tangan Gio.


Kemudian Rheina mengelus kepala Gio memandangi wajah orang yang amat dicintainya itu,tapi sayang karena terbutakan oleh cinta membuat Rheina menjadi salah jalan.


"Maafin Rhein udah bikin bang Gio seperti ini, Rhein salah karena terlalu memaksakan keinginan Rhein. Tapi Rhein cuma mau bang Gio sama Rhein bukan sama Zea. Bang Gio gak marah kan Rhein , Bang Gio gak mungkin benci Rheina kan?." Gumam Rheina.


Setelah itu Rheina terdiam memandangi wajah Gio yang masih nyaman dengan tidurnya,tanpa Rheina sadari Zea berada di balik pintu ruangan itu dan mendengar semua ucapan Rheina kepada Gio serta juga perlakuan manis Rheina terhadap Gio.


Zea memang baru sampai ke rumah sakit karena acara di panti juga sudah selesai sejak tadi,dia bergegas ke rumah sakit karena ingin menemani Gio. Zea tau hari ini tidak ada yang menemani Gio di rumah sakit karena Dea,Gavin,dan Devan sedang mengantarkan Gia berobat ke rumah sakit Krismantara rumah sakit yang berbeda dengan tempat Gio di rawat.


Zea kemudian berbalik dan beranjak pergi,dia tidak mau mengganggu Rheina dan juga Gio. Sampai di lobi depan Zea berpapasan dengan Gia dan juga Devan.


"Eh Ze mau kemana buru-buru banget." Tanya Gia.


"Mau balik ." Jawab Zea asal.


"Tumben banget jam segini udah balik,biasanya balik nya malem."


"Iya lagi ada urusan di panti."


"Yaudah hati-hati kakak ipar." Ujar Gia tersenyum,Zea mengangguk dan bergegas pegi.


Kembali ke Rheina.


Saat Rheina menggenggam tangan Gio,tiba-tiba jari Gio bergerak dengan cepat Rheina memanggil dokter. Setelah diperiksa ,Gio dinyatakan sadar dan sudah melewati masa kritisnya. Setelah kepergian dokter,Rheina mendekat ke arah Gio.


Sementara Gio mencari keberadaan sosok wanita yang sangat dirindukannya,tapi yang ada hanyalah perasaan kecewa di hati Gio. Sebegitu tidak pedulikah Zea terhadapnya sampai-sampai orang yang dilihat Gio saat pertama kali sadar adalah orang lain yang jelas-jelas biang masalah di dalam hubungannya sendiri.


Apa kamu sudah tidak mau bertemu denganku lagi sayang. Batin Gio sambil mengingat wajah gadisnya yang sangat menyejukkan hati itu.


"Bang Gio udah sadar,ada yang sakit bang." Tanya Rheina tetapi hanya dibalas gelengan kepala oleh Gio membuat Rheina sedikit merasa tidak enak hati.

__ADS_1


"Maafin Rheina ya bang,ini semua gara-gara masalah perjodohan kita yang secara tiba-tiba itu." Ujar Rheina,membuat Gio mengernyit heran kenapa bisa-bisa Rheina mengetahui masalah perjodohan itu padahal semua keluarganya hanya menduga saja ini semua ulah Rheina.


"Kenapa kamu bisa tau masalah pertunangan itu." Tanya Gio.


Degggg.


Rheina mematung mendengar pertanyaan Gio,kenapa dia bisa dengan bodohnya bunuh diri dengan ucapannya sendiri.


"Ah itu kemarin Rheina denger dari Gia sama Iffy,iya denger dari mereka." Ujar Rheina gelagapan membuat Gio semakin curiga bahwa ini memang benar-benar ulah Rheina.


"Sudah kuduga ini semua ulah lo Rhein." Ujar Gia membuat Rheina juga Gio kaget dengan suara Gia yang tiba-tiba. Gia datang bersama dengan Devan,Gia memandang Rheina dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. Gia sudah mendengar pembicaraan Rheina dan abangnya tadi sebelum masuk ke dalam.


Setelah kepergian Zea tadi,Gia dan Devan menuju ke ruangan Gio. Sesampainya di sana Gia dikagetkan dengan keberadaan Rheina yang sedang berbincang dengan Gio.


"Maksud lo apa Gi,gue gak ngerti." Ujar Rheina pura-pura.


"Ah sudahlah mau bagaimanapun lo gak bakalan ngakuin kesalahan yang udah lo perbuat."


"Jangan asal ngomong kalo gak ada bukti." Sengit Rheina.


"Gak akan ada asap kalo gak ada api." Balas Gia dengan tatapan tajamnya. Karena kesal dengan perkataan Gia,Rheina akhirnya pamit pergi.


"Sudah sayang Rheina udah pergi,wajahnya gak usah seperti itu jelek tau." Goda Gio membuat Gia mengalihkan pandangannya dan melupakan emosinya yang tadi berganti dengan rasa bahagia karena Gio sudah sadar.


"Abanggg,syukurlah abang udah sadar." Seru Gia.


"Iya,abang sudah kangen dengan kebawelan adik abang yang satu ini."


"Iyalah Gia kan selalu ngangenin,buktinya Devan nempel mulu nih sama Gia udah kek lem." Ujar Gia tertawa,membuat Devan memutar matanya malas.


"Gue ngikutin terus juga karena gak mau nanti kalo lo lagi jalan tiba-tiba jatuh di depan banyak orang kan gak lucu." Goda Devan.


"Denger Gianaa , Devan nganggep kamu bocah." Sambung Gio.


"Emang lo pikir gue anak kecil apa,abang lagi pake ikut-ikutan Devan segala." Kesal Gia.


"Canda doang Gi,gitu aja baperan." Ujar Devan mencubit pipi Gia dengan gemas.

__ADS_1


"Sumpah Dev,muka Gia kalo lagi kesel pengen gue kasih selai coklat terus gue makan." Seru Gio tertawa.


"Diem bang,nanti anaknya ngambek belum sempet beli balon soalnya." Sambung Devan.


Bangg Gioo


Devannnnn.


Teriak Gia kesal menatap mereka berdua bergantian.


"Terus aja terus dzolimi anak baik ini,nanti kalian berdua kena azab." Ujar Gia.


"Pantesnya kalau kena azab judulnya apa ya Dev." Tanya Gio.


"Jawab lagi lo gue gantung di depan rumah sakit ini." Sarkas Gia kasar menatap Devan dengan tajam.


Devan tersenyum dan mengapit kedua pipi Gia yang menurutnya sangat lucu itu. Devan akhirnya diam dan tidak melanjutkan kejahilannya lagi dengan Gio.


"Yaudah abang minta maaf." Ujar Gio .


"Humm Gia maafin,tapi bang Gio harus beliin Gia sepuluh novel yang baru cetak setelah bang Gio pulang dari sini." Ujar Gia dengan keputusannya yang mutlak dan tidak bisa diganggu gugat. Sementara Devan tertawa kecil melihat Gio yang diam setelah mendengar permintaan dari Gia. Melihat Devan tertawa membuat Gia tersenyum miring menatap Devan,Devan sudah merasa ada hawa-hawa tidak enak yang keluar dari tubuh Gia.


"Kenapa lo ketawa juga,jangan pikir lo bisa dapet maaf dari Gue." Sungut Gia.


" Siapa juga yang mau minta maaf." Seru Devan malah menggoda Gia.


"Depannnn." Teriak Gia siap menerkam Devan hidup-hidup.


"Hahhaha oke oke kalem Girl,gue bercanda gue minta maaf." Ujar Devan mengalah.


"Oke gue maafin,tapi lo harus beliin gue juga sepuluh pack susu youghurt rasa strawberry." Ultimatum Gia sambil tersenyum miring kepada Devan. Sementara Devan menelan ludahnya kasar dan menatap wanitanya itu dengan tatapan yang tidak bisa diartikan,membuat Gio tertawa memandangi Devan.


"Mati lo sepuluh pack. Hahahhaa." Goda Gio.


"Mending Gue,lo novel yang harganya wow sekali setiap satu bukunya." Balas Devan membuat Gio malu sendiri.


.

__ADS_1


.


__ADS_2