High School Love Story

High School Love Story
S2#41


__ADS_3

Di rumah sakit#


Gia masih dengan mode dingin dan wajah datarnya entah apa yang ada dipikiran anak itu sehingga membuat Devan cemas.


"Giaa lo yakin gak papa." Seru Devan,tapi tidak ada jawaban dari Gia.


Setelah mencari ruang IGD tempat Gio berada akhirnya mereka menemukan Gavin dan Dea dengan wajah cemas di depan ruangan itu. Gavin melihat kedatangan putrinya yang hanya diam tanpa sepatah kata apapun.


"Sayang.-" Ucapan Gavin berhenti saat Gia memotongnya terlebih dahulu.


"Stop Dad,biarin Gia seperti ini dulu. Ini semua gara-gara Daddy kalau saja Daddy tidak egois bang Gio tidak akan seperti ini." Seru Gia berusaha baik-baik saja. Setelah itu hanya ada keheningan di antara mereka.


Tiba-tiba dokter yang menangani Gio keluar dari ruangan IGD,semuanya berkumpul untuk mengetahui kondisi Gio.


"Mohon maaf pasien atas nama Giofandi saat ini masih dalam keadaan kritis,tetapi tadi sebelum kesadarannya benar-benar menghilang dia sempat memanggil manggil nama Zea. Untuk saat ini kita harus terus berdoa dan kalau bisa panggil seseorang yang bernama Zea untuk membantu kesembuhan pasien." Jelas dokter itu. Setelah itu dokter pergi meninggalkan keluarga Raymond.


"Puas Dad sekarang,udah bikin bang Gio sekarat. Lihat betapa cintanya bang Gio dengan Zea sampai-sampai hanya nama Zea yang keluar dari mulut bang Gio sebelum kondisi bang Gio down." Teriak Gia dengan berlinangan air mata, Devan berusaha menenangkan Gia dan menarik Gia ke dalam pelukannya.


"Ini yang kamu mau Al,ini yang kamu mau dari putra kita. Kamu udah bikin anak aku sekarat di dalam,kamu udah bikin dia sakit .Apa kamu sekarang sadar kebahagiaan anakku ada dengan Zea bukan Rheina sadar Al sadar,Gio anak kita kenapa kamu tega melakukan hal ini." Seru Dea menangis histeris.


"Tidak ada seorang ibu yang rela anaknya menderita dan tersakiti seperti ini Al." Sambung Dea,dan tiba-tiba Dea pingsan seketika.


Mom


Sayang


Tante


Teriak mereka bertiga bersamaan. Saat Devan mau membantu Gavin membawa Dea untuk diperiksa,sekarang malah Gia juga pingsan membuat Devan panik.


"Om bawa tante Dea aja,biar Devan yang bawa Gia." Ujar Devan dan diangguki oleh Gavin.

__ADS_1


Gavin dengan segera menggendong Dea ke ruangan lain untuk memeriksa kondisi Dea.


"Sayang maafin aku,aku tidak tau akan terjadi hal ini pada akhirnya." Gumam Gavin lirih dengan nada menyesal.


Devan&Gia*


"Dokter tolong periksa kekasih saya." Ujar Devan kepada dokter yang menangani Gia.


"Mas tenang saja,nona Gia hanya kelelahan dan terlalu terbebani dengan pikiran yang berat. Saya sarankan agar nona Gia jangan dibebankan pikiran yang banyak sehingga bisa memicu kesehatannya bertambah lebih buruk." Jelas dokter itu dan berlalu meninggalkan Devan.


"Gianaa bangun sayang." Seru Devan sambil mengelus pipi Gia pelan. Gia akhirnya sadar dan menatap Devan dengan tatapan sendunya.


"Dev bang Gio gak papa kan." Ujar Gia lirih.


"Lo tenang aja bang Gio pasti gak papa,sekarang lebih baik lo gak usah mikirin hal yang gak penting lagi.Aku gak mau kamu sakit lagi Gi,jangan sakit lagi."


"Humm. Apa Zea sudah bisa dihubungi." Tanya Gia.


"Ayo anterin gue ke bang Gio,gue udah gak papa."


"Yaudah gue akan selalu nemenin lo." Ujar Devan dan menggandeng tangan Gia menuju ruangan Gio.


Dea juga sudah berada di depan ruangan Gio karena dia bersikeras ingin menunggu putranya,Dea juga masih kesal dengan Gavin suaminya.


Gia dan Dea duduk berdua,mereka saling berpelukan satu sama lain. Gia mencoba menguatkan Mom nya tapi malah dirinya juga yang terbawa suasana,sementara Devan menemani Gavin yang duduk di kursi tunggu yang lain.


Tidak berselang lama kemudian,Ansel dan Iffy datang dengan Zea yang berada di belakangnya. Zea langsung menghampiri Dea dan memeluk Dea layaknya seorang anak dengan ibunya.


"Maafin Zea tante,ini semua salah Zea. Kalau Zea tidak pergi tadi mungkin Gio sekarang tidak akan seperti ini tan." Seru Zea dengan nada bergetar. Dia tadi sempat diceritakan oleh Iffy kenapa Gio sampai kecelakaan,dan Iffy mengetahuinya dari Ansel yang juga diberitahu Devan saat menghubunginya tadi.


"Tidak nak,ini bukan salah kamu. Tante minta sekarang kamu temui Gio di dalam,karena tadi dia mencari kamu." Ujar Dea mengelus rambut Zea. Zea mengangguk dan melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruang rawat Gio.

__ADS_1


Pandangan pertama yang Zea lihat adalah kondisi Gio yang menyedihkan dengan berbagai alat bantu di tubuhnya. Zea menangis melihat kekasihnya dengan keadaan yang seperti itu,Zea mendekat dan mencium pipi Gio kemudian Zea duduk di samping Gio.


Zea mengambil tangan Gio dan menggenggamnya.


"Sayang,bangun ya. Aku sakit ngelihat kamu seperti ini." Seru Zea menangis.


"Aku ikhlas kalau memang kamu harus dijodohkan dengan Rheina. Aku tau cintamu besar kepadaku begitu juga aku,tapi kita tidak boleh memaksakan kehendak orang tua kita. Aku tidak mau menyakiti keluargamu karena itu sama saja akan menyakiti hatiku." Sambung Rheina. Memang Rheina tidak tau kalau Gio menolak perjodohan itu dan Gavin sudah membatalkannya. Zea berpikir Gio setuju dengan keputusan Daddynya makanya tadi menurut Zea,Gio mencarinya karena ingin memutuskan hubungannya.


Setelah itu Gia masuk menyusul Zea. Sama seperti Zea,Gia juga merasa sedih dengan keadaan abangnya saat ini.


"Abang gak mau bangun,di sini sudah ada kakak ipar." Seru Gia dengan mata yang berkaca-kaca.


Melihat hal itu Zea menarik Gia ke dalam pelukannya.


"Udah ya,nanti Gio pasti bangun. Kamu jangan lemah seperti ini nanti akan mempengaruhi kesehatan kamu,lebih baik kamu berdoa supaya Gio cepat sadar." Ujar Zea kepada Gia berusaha menenangkan Gia karena Zea tau penyakit yang di derita Gia saat ini. Tetapi Zea juga tidak munafik dia merasa sangat hancur melihat keadaan Gio saat ini.


Setelah itu Gia pamit keluar untuk memberikan ruang kepada Zea dan abangnya.Sebelum itu Gia mencium kening abangnya dan berlalu pergi.


Setelah kepergian Gia,Zea termenung sendirian sambil memandangi wajah Gio dengan sangat dalam.


"Satu minggu lagi,iya satu minggu lagi aku akan melepas kamu untuk kehidupan kamu yang baru." Gumam Zea tersenyum sambil menangis.


Setelah itu Zea beranjak keluar,karena ingin memberi waktu keluarga Gia yang lain untuk melihat keadaan Gio. Giliran Gavin dan Dea yang masuk ke dalam melihat kondisi Gio.


Di luar ruangan juga ada Kenzo dan Rheina yang baru tiba. Gia merasa sedikit kesal terhadap Rheina karena ini pasti ada hubungannya dengan masalah perjodohan Gio. Tapi Gia tidak mau membuat masalah lagi yang terpenting sekarang kesembuhan abangnya. Sementara Rheina merasa sedikit bersalah karena perbuatannya membuat Gio celaka. Ingat hanya sedikit rasa bersalah.


Rheina juga menatap Zea tidak suka karena berada di sana.


Zea membalas tatapan Rheina juga tidak kalah tajam,karena Zea juga merasa Rheina dibalik semua kejadian ini mulai dari masalah perjodohan.


.

__ADS_1


__ADS_2