
Sudah satu bulan semenjak kepergian Zea. Tidak ada lagi Gio yang hangat dan Gia yang ceria,semuanya berubah. Gio yang memikirkan bagaimana hubungannya dengan Zea dan Gia yang merasa kemoterapinya sia-sia karena masih saja penyakitnya sesekali kambuh.
Saat ini Gia dan Devan tengah berada di taman tempat favorit mereka.
"Dev,kalau seandainya kemoterapi ini gak berhasil gimana?" Tanya Gia,sementara Devan mengernyit heran.
"Kenapa tiba-tiba tanya gini hm." jawab Devan,semenjak Gia sering kambuh Devan menjadi sangat posesif kepada Gia.
"Lo tau sendiri ,sudah satu bulan aku menjalani kemo tapi tetap saja penyakit itu sering kambuh." Seru Gia lirih.
"Lo percaya sama gue kan,kalau lo pasti bisa sembuh kita harus terus berdoa minta sama tuhan semoga penyakit lo cepat sembuh ."
"Tapi gue takut gak bisa liat lo lagi Dev."
"Udah,lo sekarang gak perlu mikirin hal yang tidak penting. Gue akan selalu ada apapun kondisi lo. Inget satu minggu lagi acara pertunangan kita,gue mau lo sehat-sehat terus. Apa lo gak pernah mikir suatu saat nanti kita bareng-bareng rawat anak-anak kita."
"Hmm mau lah,yakali enggak."
"Makanya,stop berfikir yang gajelas lagi okee."
"Siap pak boss." Ujar Gia berlaga memberi hormat kepada Devan,Devan yang gemas langsung menarik hidung Gia yang mancung itu.
Sementara di kantor Raymond.
Gio sedang termenung di dalam ruangannya sambil menatap foto perempuan cantik yang ada di atas meja kerjanya.
"Aku rindu sekali sama kamu sayang." Seru Gio lirih.
Sudah beribu-ribu pesan yang Gio kirim ke nomor hp Zea,tapi tetap saja tidak ada respon dan balasan. Setiap dihubungi,ponsel Zea selalu berada di luar jangkauan membuat Gio sangat frustasi. Apalagi sekarang Rheina semakin gencar mendekatinya baik di kantor maupun di luar kantor.
Satu minggu yang lalu,Rheina keluar dari rumah keluarga Raymond karena malu tentang perjodohan itu. Rheina lebih memilih tinggal di apartemen papinya sendiri,awalnya Rheina tidak diizinkan oleh Gavin tapi Rheina bersikeras untuk hidup sendiri akhirnya mau tidak mau Gavin mengiyakan.
Tok...tok...tok
Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Gio, setelahnya Gio menyuruhnya masuk. Saat tau siapa yang datang Gio memutar matanya malas.
"Selamat siang bang Gio." Seru Rheina dengan rona wajah yang gembira.
"Hm." Jawab Gio seadanya berusaha sok sibuk dengan pekerjaannya.
"Bang,Rhein bawain bang Gio makan siang nih kesukaan bang Gio loh." Seru Rheina.
"Maaf tapi gue udah ada janji makan siang sama klien."
"Yah terus makanan Rhein gimana dong,cicipin dikit lah biar Rhein seneng."
"Pintu keluar ada di belakang."
__ADS_1
"Ish bang Gio,oke Rhein pergi tapi inget Rheina gak akan nyerah dapetin cintanya bang Gio." Seru Rheina dan berlalu pergi meskipun kesal tapi dia sudah bertekad akan berusaha mendapatkan cintanya Gio.
"Sekeras apapun lo berusaha,hati gue udah mati buat Zea dan cume Zea seseorang." Ucap Gio lirih.
Kemudian Gio mencoba menghubungi adiknya Gia untuk datang ke kentornya,karena dia merasa kesepian toh juga hari ini tidak ada pekerjaan yang begitu penting.
*Halo Gi,bisa ke kantor gak.
*Emangnya ada apa bang.
Gapapa lagi butuh temen curhat.
*Ehm yaudah tunggu bentar ya ini masih nunggu Devan selesai mandi,soalnya Gia ada di rumah Devan sekarang.
Oke ditunggu*.
Sementara di Surabaya.
Zea saat ini berada di rumah kontrakannya sendirian,walaupun rumah itu tidak terlalu besar tapi sebisa mungkin Zea berusaha untuk tetap nyaman tinggal di sana.
Zea melamun di kamarnya mengingat Gio dan sahabat-sahabatnya di jakarta.
"Hmm sudah satu bulan jauh dari kalian,rasanya sangat rindu sekali. Gioo apa kamu juga rindu sama aku. Gia,Iffy apa kalian juga merindukan aku." Seru Zea lirih.
Di surabaya,Zea masih harus beradaptasi dengan lingkungan di sekitarnya. Tetapi karena keramah tamahan Zea,dia cepat diterima di sana. Bahkan di sekolahnya pun Zea langsung banyak mempunyai teman apalagi teman sekolah laki-lakinya yang sangat mengagumi sosok Zea.
Saat dalam lamunannya tiba-tiba ada yang mengetuk pintu rumah Zea. Setelah Zea keluar ternyata dia adalah Kevin.
"Hy Ze,nanti malam kamu ada acara gak.?" Tanya Kevin.
"Engga kayaknya Vin,kenapa emang.?"
"Mau bantuin aku gak cari kado buat ulang tahun mama."
"Kenapa harus aku Vin,kan masih banyak teman kamu."
"Emang kamu gak mau ya bantu aku yaudah gak papa kok Ze aku bisa sendiri."
"Eh bukannya gitu Vin,takutnya nanti ada yang gak suka aku jalan sama kamu."
"Santai aja Ze."
"Yaudah aku mau nanti malem kan.?."
"Iya nanti jam tujuh aku jemput oke."
"Iya."
__ADS_1
Setelah itu Kevin pamit pulang,bukan nya tidak mempunyai teman untuk di ajak jalan.Tapi Kevin hanya mau jalan dengan Zea perempuan yang sudah menjadi tambatan hatinya sejak pertama kali bertemu. Kevin juga tidak mau memaksakan perasaannya takutnya nanti Zea akan menjauhinya,tidak apa-apa sekarang hanya berteman siapa tau kedepannya akan lebih dari itu.
Di surabaya Zea lebih menggunakan bahasa aku-kamu dalam kehidupan sehari-harinya karena lingkungan di sana sangat jauh berbeda dibandingkan tempat tinggalnya di jakarta.
Malam harinya.
Sesuai janji Kevin,Kevin menjemput Zea dengan mobilnya yang baru dia beli beberapa hari yang lalu tepat jam tujuh malam. Zea saat itu berpenampilan sederhana namun sangat cantik menurut Kevin,Kevin tidak henti-hentinya menatap Zea dari atas sampai bawah.
Zea merasa risih ditatap seperti itu oleh Kevin.
"Vin jadi gak beli kado mama kamu?." Tanya Zea tiba-tiba.
Kevin yang sadar dari lamunannya berusaha tetap cool didepan Zea dan tersenyum kikuk.
"Eh jadilah Ze masak engga kamunya udah dandan cantik gini."
"Apaan si Vin gak jelas kamu."
"Hahaha yaudah sih gak usah malu-malu gitu,ayo keburu malem nanti."
Setelah itu mereka berdua pergi menuju mall untuk mencari kado mamanya Kevin. Beberapa menit kemudian mereka berdua sampai di sebuah mall yang cukup banyak dikunjungi orang-orang.
"Ehmm ngomong-ngomong mama kamu suka apa Vin, baju atau perhiasan gitu."
"Mama aku sukanya menantu seperti kamu Ze." Goda Kevin.
"Seriusan ih."
"Hahaha oke oke,mama aku sukanya perhiasan Ze."
"Oh yaudah sekarang kita cari toko perhiasan."
Setelah itu mereka berdua pergi ke toko perhiasan dan memilih satu set perhiasan atas pilihan Zea.
"Pilihan kamu sama dengan pilihan mama Ze."
"Ah mungkin hanya kebetulan aja Vin."
Setelah itu Kevin mengajak Zea ke salah satu restoran yang ada di mall tersebut. Saat berjalan bersama Kevin tidak henti-hentinya selalu mencuri pandang ke arah Zea.
Aku siap harus menunggu kamu membalas perasaanku Zea. Batin Kevin.
.
.
.
__ADS_1