
Keluarga Gia masih berada dalam perjalanan begitu juga Gio dan Zea.Iya Gio masih ingin menjemput Zea untuk menjenguk Gia di rumah sakit.
Sementara di rumah sakit.
Devan selalu mengusap kepala Gia sayang,Devan tidak mau lagi kejadian ini terulang kembali apalagi kondisi Gia yang sangat lemah karena penyakit itu.Gia tersenyum atas perhatian Devan dengannya.
"Tidur gigi kecil,lo masih lemah." Seru Devan memaksa Gia untuk tidur padahal Gia sudah bosan dan merasa seluruh tubuhnya remuk karena terlalu lama tidur.
"Gue gak mau lo gini lagi,gue mau lo sehat dan bisa marahin gue lagi."Ujar Devan menatap mata Gia.Gia tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
Setelah itu,pintu ruangan Gia terbuka dan muncullah kedua orang tua Gia bersama Rheina dan Iffy.Memang semenjak Gia masuk rumah sakit,Iffy dan mamanya sering menginap menemani Rheina ataupun Dea.
Dea langsung memeluk anak perempuannya itu.Di susul Gavin yang memang sangat memanjakan Gia,Gia tersenyum melihat orang-orang tersayangnya kembali .
"Sayang apa ada yang sakit nak." Tanya Gavin.
"No Dad Gia baik-baik saja,tapi Devan dari tadi cerewet ga ngebolehin Gia ngomong." Seru Gia lancar membuat Devan menatap Gia malas.
"Setelah lo bicara panjang lebar gini,gue yakin lo udah sembuh sesembuhnya." Seru Devan,sementara Gia hanya tersenyum.
"Ya ampun Gia akhirnya lo sadar juga,gue udah capek di ceramahin Zea setiap hari sendirian biasanya juga kan bareng lo." Seru Iffy kesal,memang setiap hari dia selalu mendapat siraman rohani dari Zea.
"Ehm,sepertinya ada yang kangen nih." Goda Zea yang baru datang bersama Gio. Sementara Rheina sedari tadi menatap Gio yang sangat akrab dengan Zea.Zea langsung memeluk Gia dia merasa rindu dengan calon adik iparnya itu.Setelah itu di susul Gio yang memeluk dan mencium Gia dengan gemas sampai Gia mengernyit kesakitan membuat Devan kesal.
"Wuih kalem bang,adek lo masih belum pulih benar lo main peluk dia dengan erat." Seru Devan menarik Gio.
"Sory Gi,abang cuma kangen aja sama kebawelan lo itu." Ujar Gio membuat semua yang ada di sana tertawa.
"Maafin Gia udah bikin kalian semua khawatir,Gia juga sudah menyusahkan kalian semua." Seru Gia menatap semua orang yang ada di sana.
"Kamu bicara apa sayang,kami tidak pernah merasa seperti itu." Ujar Gio yang mengelus kepala Gia.
Tidak berapa lama kemudian,keluarga Iffy datang menjenguk Gia.
"Halo sayang,bagaimana keadaan kamu." Tanya Dena.
"Seperti yang bibi lihat sekarang,Gia udah baik-baik aja." Jawab Gia tersenyum.
__ADS_1
"Syukurlah,setelah ini kamu harus berhati-hati lagi kamu tau Gia,saat kamu di sini Iffy setiap hari seperti orang yang kehilangan separuh jiwanya." Jelas Fano membuat Gia dan yang lainnya tertawa sementara Iffy menatap Papanya dengan kesal.
"Oh iya Mom,Gia sering bermimpi bertemu dengan pria yang sangat tampan tapi dia selalu bilang kalau Gia keponakannya." Seru Gia tiba-tiba membuat Dea dan Dena kaget. Setelah itu Dea mencoba mencari sesuatu di ponselnya dan menunjukkan pada Gia.
"Apa ini yang kamu maksud sayang." Tanya Dea.
"Iya Mom,dia orangnya.Memang dia siapa Mom."
"Dia memang paman kamu Dava ,saudara Mommy dan Bibi Dena." Seru Dea lirih,melihat itu Dena memeluk kakaknya untuk menguatkan Dea.
"Kak Dava ternyata mengetahui anakku Den.Dia bertemu dengan Gia." Seru Dea berusaha tidak menangis.
"Iya kak,kak Dava selalu melihat kita di atas sana." Sambung Dena.
"Jadi dia paman Gia yang waktu itu pernah diceritain sama Mom." Ujar Gia.
"Iya sayang,dia pamanmu."
"Pantas saja wajahnya sama seperti grandpa." Ucap Gia.
"Tidak apa-apa sayang kami hanya merindukannya." Ujar Dena.
"Sudah jangan memikirkan nya lagi." Seru Dea. Sementara Gavin menatap istrinya itu dengan tatapan iba,dia tau bagaimana Dea sangat kehilangan sosok Dava di dalam hidupnya.
"Ehm maaf apa Gia boleh berbicara berdua sama Devan." Seru Gia menatap keluarganya,semuanya yang mengerti akhirnya memberikan ruang untuk Gia dan Devan.Setelah keluarga Gia semua keluar,Devan mendekat dan menggenggam tangan Gia.
"Gue minta maaf soal waktu itu." Ucap Gia.
"Udahlah gak usah lo inget lagi,seharusnya gue yang minta maaf gue terlalu egois.Mulai sekarang gue gak akan pernah ngehindari lo lagi,gue takut kejadian ini akan terulang lagi karena setiap gue acuhin lo,pasti lo akan berakhir dalam bahaya. " Jawab Devan.
"Gue salah karena gak jujur sama lo Dev."
"Gue udah tau semuanya tentang penyakit lo." Seru Devan membuat Gia kaget.
"Apa lo mau ninggalin gue setelah tau itu semua?." Tanya Gia.
"Gue bukan cowok bodoh Gia,gue gak mungkin ninggalin lo dalam keadaan lo sakit.Gue udah ngelabuhin hati gue buat lo dan sejak saat itu juga,gue udah janji mau nerima lo dengan semua yang ada pada diri lo. Gue gak akan ninggalin lo walaupun gue harus ngerawat lo seumur hidup." Jelas Devan sambil mencium pucuk tangan Gia.
__ADS_1
Gia meneteskan air matanya terharu mendengar ucapan Devan.
"Gue takut lo malu punya gue yang penyakitan ini Dev."
"Tatap mata gue.Gue gak pernah ngerasa malu dengan keadaan lo yang sekarang,gue tulus apa adanya sama lo Giana apa lo gak pernah ngerasain hal itu.Setiap hari gue nungguin lo bangun sampai sekarang,gue selalu berdoa supaya Tuhan mengangkat penyakit lo.Udah mulai sekarang yang terpenting lo harus bisa sembuh, lo berobat dan kita berjuang bersama-sama." Jelas Devan.
"Lo yakin Dev."
"Gue gak pernah gak yakin sama ucapan gue sendiri Giana Zafra.Setelah lo pulang dari sini gue akan langsung ngelamar lo meskipun kita masih sekolah,tapi gue gak mau nunggu lagi gue mau lo jadi milik gue sepenuhnya supaya gue bisa menjaga dan merawat kamu."
Deggg.
Gia kaget dengan ucapan Devan yang tiba-tiba akan melamar dirinya.
"Dev lo serius." Tanya Gia memastikan kembali.
"Gue sangat serius,keluarga gue sekarang lagi dalam perjalanan dari Aussie menuju ke sini untuk ngelihat keadaan lo sekaligus pertunangan kita." Jelas Devan ,lagi-lagi Gia menatapnya tidak percaya.
"Lo ngelakuin semua ini bukan karena lo kasihan kan sama gue Dev gara-gara gue sakit."
"Astaga Gianaaa,bisa gak lo gak usah mikir yang buruk-buruk tentang gue.Gue cinta sama lo,gue sayang gue mau lo berjuang ngelawan penyakit lo.Emang lo gak mau nanti punya anak sama gue." Ujar Devan menatap wanitanya jengah.
Blusshhh
Wajah Gia langsung memerah mendengar ucapan terakhir Devan.Apalagi detak jantungnya yang dipastikan sudah tidak normal saat ini.
"Tapi Gue malu ketemu keluarga kamu dengan keadaan seperti ini." Seru Gia lirih.
"Lo tenang aja,gue udah cerita semua tentang ini sama keluarga gue dan mereka tetap mau menerima lo. Asalkan kata mereka lo mau berobat dan berjuang untuk sembuh." Ujar Devan.
"Aaa makasih Ketan." Seru Devan tersenyum.
"Dasar gigi kecil." Ujar Devan mengacak rambut Gia dan mencium kening Gia dengan lembut.
.
.
__ADS_1