High School Love Story

High School Love Story
S2#44


__ADS_3

Gia mengahmpiri Devan di taman dengan wajah kesal,marah,kecewa dan juga sedih. Gia tidak habis pikir dengan Zea,bisa-bisa nya Zea mengambil keputusan seperti ini padahal yang Gia tau Zea mempunyai fikiran yang lebih dewasa daripada dirinya.


Melihat Gia seperti itu,Devan mengernyit heran.


"Ada apa Gi? mana Zea." Tanya Devan.


"Lebih baik sekarang kita pergi dari sini." Ujar Gia dan berlalu meninggalkan Devan.


Setelah di dalam mobil,Gia menangis rasa kecewa dan sedih bercampur menjadi satu. Gia kecewa karena keputusan Zea kali ini secara tidak langsung akan membuat Gio hancur,dan Gia sedih karena sahabatnya akan pergi.


Devan menarik Gia kedalam pelukannya.


"Lo tenang dulu,sekarang cerita pelan-pelan sama gue ada apa." Seru Devan.


"Zea mutusin buat balik ke surabaya nerusin sekolahnya di sana dan itu tanpa sepengetahuan bang Gio. Gue bingung harus bilang apa sama bang Gio." Ujar Gia lirih sambil menatap Devan,Devan menenangkan Gia sambil mengelus kepala Gia.


"Mungkin Zea mempunyai alasan yang kuat kenapa dia membuat keputusan seperti ini."


"Tapi kenapa dia harus pergi,kan semua masalah bisa dibicarain baik-baik tidak dengan cara seperti ini."


"Hey,liat gue semua orang mempunyai cara sudut pandang berbeda sayang jadi apa yang ada dipikiran lo ga akan sama dengan apa yang ada di pikiran Zea."


"Tapi Dev,lo tau kan seberapa berharganya Zea dalam hidup gue dan bang Gio." Seru Gia,Devan mengangguk paham. Devan juga tau seberapa sayangnya Gia terhadap Zea meskipun cuma sahabat tapi Gia begitu menyayangi Zea seperti saudara,Devan juga tau bagaiamana nurutnya seorang Gia dengan Zea.


"Yaudah lo sekarang tenang,sekarang kita kembali ke rumah sakit ngomong baik-baik dengan bang Gio." Gia pun mengiyakan.


Sementara Zea.


Zea bersiap ingin pergi ke rumah sakit melihat Gio,walaupun dia tidak ingin menemuinya secara langsung. Zea kembali memikirkan masalah Gia ,"Baru kali ini liat Gia semarah ini sama gue,semoga ini keputusan yang terbaik" Ucap Zea lirih.


Kemudian Zea mencari taksi menuju rumah sakit tempat Gio di rawat. Saat sampai di sana,Zea melihat Gia dan Devan yang baru sampai Zea bersembunyi agar tidak terlihat oleh mereka setelah itu Zea mengikutinya dari belakang.


Akhirnya Zea melihat keadaan Gio dari jendela,dia tersenyum melihat kekasihnya yang sudah sehat. Saat akan pergi tiba-tiba Zea dikagetkan dengan kedatangan Iffy dan Ansel.


"Woy Ze,ngapain lo diem aja di sini." Tanya Iffy.


"Iya udah kayak patung aja." Sambung Ansel.

__ADS_1


"Gue pulang dulu." Jawab Zea.


"Lah gak masuk dulu?." Tanya Iffy.


"Udah kok tadi,udah masuk sekarang gue buru-buru."


"Hmm yaudah hati-hati Zeaaku" Teriak Iffy meskipun tidak digubris oleh Zea.


*Ane*h.Batin Ansel.


Setelah kepergian Zea ,Iffy dan Ansel masuk ke ruang rawat Gio.


"Hallo bang Gio,gimana udah baikan?." Tanya Iffy.


"Iya Fy,alhamdulillah."


"Ah syukurlah kalau begitu." Seru Iffy,tapi Iffy melihat Gia yang bungkam dari tadi. Biasanya saat dirinya datang,Gia sudah mengibarkan bendera perang.


"Eh lo ngapa diem-diem gini,sakit gigi lo?." Goda Iffy,tetapi tidak dihiraukan oleh Gia.


"Iyanih tumben ibu negaramu diem bro." Sambung Ansel tanya kepada Devan,sementara Devan juga diem.


"Lah bukannya Zea barusan habis dari sini ya." Ucap Iffy ,membuat semua yang ada disana langsung menatap Iffy kecuali Gia . Iffy yang ditatap seperti itu tersenyum kikuk.


"Santai guys,kenapa kalian menatap gadis gue seperti ini." Ucap Ansel mencoba bertanya.


"Zea hari ini mau balik ke surabaya nerusin sekolahnya di sana." Ucap Gia tiba-tiba. Membuat semua yang ada di sana kaget.


Degg..


Gio mematung di tempat tidurnya mencoba mencerna semua ucapan Gia.


"Lo gak lagi bercanda kan Giana." Tanya Gio mencoba memastikan.


"Kalau gak percaya kalian tanya aja sama Zea langsung." Seru Gia datar,Gia masih sangat kecewa terhadap Zea.


"Gak,ini Zea pasti ngeprank kita kan Gi gak mungkin dia tega ninggalin gue." Kali ini Iffy bersuara.

__ADS_1


"Kenyataannya seperti itu." Balas Gia.


Setelah itu Gio mencoba menghubungi Zea tapi nihil nomor Zea sudah diluar jangkauan,pesan yang dikirim Gio juga tidak ada balasan dari Zea.


Shittt!!!!


Gio frustasi membanting hp nya. Gio berusaha membuka selang infusnya untuk mencari Zea tapi ditahan oleh Devan.


"Bang,lo baru sadar kesehatan lo masih belum sepenuhnya pulih." Ujar Devan.


"Tapi lo tau sendiri kan Dev,gadis gue pergi gadis gue ninggalin gue." Teriak Gio,membuat Gia prihatin dengan keadaannya tapi disisi lain Gia juga marah dengan Zea.


"Stop bang,kalau abang masih mau cari perempuan jahat itu abang tandanya mau Gia pergi dari rumah." Teriak Gia membuat Semuanya menatap Gia termasuk Devan.


"Gi lo kenapa ngomong gitu." Tanya Devan berusaha meredam emosi Gia.


"Gue tau lo cinta mati sama Zea,tapi Zea sudah memilih mundur dan dia tidak pantas mempunyai hati abang lagi. Gia emang sayang sama abang dan juga Zea,tapi Gia gak mau abang sebodoh ini mencari Zea yang jelas-jelas tidak mau bang Gio perjuangkan." Ujar Gia menangis. Memang kalau Gia sudah kecewa dengan seseorang sulit membujuk dia untuk kembali seperti biasa.


"Tapi Gi,dia perempuan yang selama ini bang Gio cari." Seru Gio berusaha menyembunyikan rasa kecewanya,walau bagaimanapun rasa cintanya lebih besar kepada Zea daripada rasa kecewanya.


"Gia tau,tapi biarin Zea dengan keputusannya. Kalau kita sekarang mencari Zea yang ada Zea akan terus menjauh dan sembunyi dari kita semua. Akan ada saatnya Zea merindukan lo bang dan menyesal dengan apa yang dia lakukan sekarang." Ucap Gia.


Devan terkagum dengan gadisnya,walaupun kecewa dengan sahabatnya tapi dia masih bisa berpikiran dewasa. Devan pikir Gia benci dengan Zea,tapi tidak ternyata Gia masih memberikan waktu agar Zea menyadari kesalahannya.


"Nanti kalau sudah waktunya Gia akan izinin bang Gio jemput Zea lagi." Sambung Gia kemudian menarik Devan keluar dari kamar itu.


Sepeninggalan Gia dan Devan.


"Gue gak nyangka Zea membuat keputusan seperti ini. Padahal gue udah anggep dia saudara gue sendiri,siapa lagi yang akan nasehatin gue sama Gia kalo salah,siapa lagi yang mau ngomelin gue." Ujar Iffy. Ansel kemudian memeluk kekasihnya itu,tidak menutup kemungkinan Iffy juga kecewa terhadap keputusan Zea.


Setelah itu Ansel dan Iffy pamit pulang,karena tidak mau mengganggu waktu istirahat Gio.


Saat ini Gio sendirian di kamarnya,dia termenung mengingat semua kenangannya bersama Zea. Tidak terasa Gio meneteskan air matanya.


"Sefatal ini kesalahanku sama kamu sayang. Apa kamu tidak akan kembali,apa aku harus kesepian lagi." Ujar Gio lirih,sambil melihat foto Zea yang menjadi wallpaper di ponselnya.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2