
"Mungkin hanya perasaanmu ajha May," mereka berdua saling pandang seperti tampak seorang sahabat yang saling merindukan.
"Iya udah, aku minta maaf kalau aku salah!" lirih gadis itu mulai menundukkan pandangannya ke arah mereka.
"Ngak kok May, kamu ngak salah yang salah itu Tama," sambung Rozi melirik Tama yang ada di dekatnya.
"Dari pada rebutin Maya, mending kalian sama kita ajha," pekik Ara dan Ochy tersenyum genit memandang mereka berdua.
Kedua laki-laki tersebut saling pandang dan membuang muka untuk sesaat ke belakang badannya.
"May!" panggil Rozi tampak serius memandang bidadarinya.
"Iya kak, ada apa?" suara lembut itu langsung keluar dari balik bibir munggil Maya yang imut.
sumpah gue klepek klepek lihatnya
"Hem,, gue boleh nanyak sesuatu ngak?"
"Boleh!" ucap gadis itu mulai memperhatikan Rozi yang agak jauh darinya dan di batasi oleh meja bundar terbuat dari kayu.
"Kamu kenal sama Aisar May?"
Gadis itu mulai terkejut untuk kesekian kalinya mendengar nama orang yang dari dulu iya takuti karena selalu mengganggunya.
"Aku sama Aisar sebenarnya sahabatan dari kecil."
Seketika mereka yang ada di sana ikut terkejut dengan perkataan Maya.
"Sahabat kok kayak gitu," sahut Ara mulai penasaran.
"Sebenarnya Aisar dulu ngak kayak gitu, bahkan kita satu pondok waktu smp."
"Gaiz! ternyata Aisar seorang anak pondok ya? tapi ngak mencerminkan lulusan pondok sama sekali," jelas Tama mengeluarkan kata-kata sok bijaknya.
__ADS_1
"Diem ngak lo! nyosornya nanti ajha, gue mau dengar penjelasan dari Maya,"ketus Rozi menatap tajam ke arah Tama.
"Lo biasa ajha kalek."
Maya mulai melanjutkan ceritanya tentang masa lalunya dengan Aisar sahabatnya.
"Sebenarnya Aisar dulu bahkan seorang penghafal Al-Qur'an dan banyak di kagumi oleh para akhwat di pondok, namun sekarang hafalan itu sirna dan wajah yang dulu kalem dan tampak cahaya telah musnah dengan pergaulannya."
Maya menundukkan pandangannya sedih melihat keadaan sahabatnya yang sekarang.
"Terus ceritanya gimana May? sehingga Aisar bisa nakal seperti sekarang?" tanya Ochy penasaran.
* Plash black
"Selamat ya Sar! atas juara pertamanya," ucap Maya memberikan selamat kepada sahabatnya yang mendapatkan juara unggulan tilawah.
"May! tapi kamu ngak marah kan sama aku?" tanya Aisar merasa bersalah kepada Maya.
Perlombaan Tilawah biasanya di adakan setiap tahun di ponpes Nurul Hakim dan di juara oleh Aisar juara pertamanya dan Maya juara ke duanya.
"Gimana piala ini buat Maya ajha!" lalu mencoba menjangkau tangan Maya untuk menukarnya dengan piala milik Maya.
PRAK,,,,, PRAK,,,,, Terdengar suara piala mereka berdua jatuh di tendang oleh seseorang.
"Punya piala murahan kayak gitu ajha bangga," ejek Irfan bersama genxnya mengolok-olok mereka berdua yang sedang ngobrol di balik panggung pondok.
Maya mengambil pialanya yang terjatuh ketanah dan mulai memungutinya.
"Udah May! jangan di punggut!" ucap Aisar memapah Maya yang dari tadi duduk sedih melihat pialanya yang hancur.
"Apa? lo berani sama gue ah? anak mami ajha bangga,"
"Ha,,, ha,,, dasar cowok lemah."
__ADS_1
"Lo itu pantes main sama cewek ajha! dasar banci."
"Lo hanya di jadikan dayang-dayang Maya ajha, buntuti dia kesana kemari."
Ejekan demi ejekan di tangkap oleh indra pendengaran Aisar.
Aisar mulai geram dengan perkataan mereka dan mencoba untuk memukul mereka.
"Berani lo hina Maya lagi, gue ngak akan segan-segan buat sobek bibir lo!" ancam Aisar mulai geram.
"Oh,,, takut!" ejek mereka.
"Udah Sar! jangan di ladenin! kita pergi ajha dari sini!" ajak Maya lembut kepada Aisar yang mulai marah.
"Dasa cewek murahan," ucap salah satu genx Irfan. Namun belum ucapan itu di sambung.
"BRUK...... BRUK...... Suara tonjokkan menghadap ke hidung orang itu.
Dengan gemas sampai mengeluarkan darah dari hidungnya, Aisar tidak mau melepaskannya maupun memberikannya bergerak satu detik pun.
"Astagfirullah! Aisar udah!" perintah Maya yang terkejut melihat Aisar memukul anak buah Irfan.
Sedangkan irfan mematung menyaksikan hal itu, Aisar yang di kira lemah bisa marah sampai hampir membunuh temannya.
"Abah benar-benar kecewa dengan sikapmu yang kayak gini, abah malu punya anak seperti preman kayak
kamu," teriak abah Aisar menatap tajam ke arah Aisar.
Aisar tak pernah ngelawan hanya menunduk mendengar abahnya yang marah, namun di balik semua itu iya mempunyai dendam kepada mereka.
* Flash on
"Oh,,, jadi gitu ceritanya." Ucap mereka serempak mendengar cerita dari Maya.
__ADS_1
"Jadi, intinya Aisar itu sebenarnya orang jahat yang tersakiti, makanya dia kayak gitu sekarang, karena ingin balas dendam, bener kan May?" tanya Ara ceplas ceplos.
"Itu semua gara-gara aku! Aisar berani memukul mereka karena belain aku," lirih Maya sedih.