HIJRAHKU BERSAMAMU

HIJRAHKU BERSAMAMU
part 09


__ADS_3

Genx Aisar mulai ketakutan melihat kemarahan Rozi.


"B**rak,,, Brukk,,, suara tubuh genx Aisar di gebuk oleh Rozi**.


"Beraninya kalian mencoba menyakiti bidadariku," ketus Rozi memegang kerah baju Aisar.


Genx Aisar berjumblah 5 orang dan itu sangat mudah untuk Rozi melumpuhkan mereka semua termasuk Aisar, karena Rozi sudah biasa berkelahi dari dulu dan juara MMA tahun lalu.


"Ampun Zi! gue ngak tau dia pacar lo?" ucap Aisar ketakutan.


"Berani lo sentuh dia! lo akan langsung mati di hapan gue," ancam Rozi.


Aisar mengetahui Rozi adalah bos dari genx motor terbesar di Jakarta dan komunitasnya sangat banyak.


"Baik bos, gue ngak akan ganggu Maya lagi."


"Sekarang lo pergi dari sini! cepat!!!" teriak Rozi menendang anak buah Aisar yang terkapar di tanah.


Melihat pemandangan itu membuat ochy dan Ara terkagum-kagum melihatnya.


"Kak Rozi keren banget, sumpah gue langsung kelepek-klepek di buatnya," puji Ara terkagum-kagum melihat wibawa Rozi menghajar genx Aisar.


"Ya ampun, mimpi apa gue bisa satu sekolah sama kak Rozi,udah ganteng, jago bela diri lagi, pasti cewek yang jadi pacarnya sangat beruntung deh," sambung Ochy.


Di sisi lain Maya tak menghiraukan hal itu, iya langsung menolong Tama yang babak belur karena ulah Aisar.


"Kakak ngak kenapa-kenapa kan?" tanya Maya mulai memapah Tama untuk berdiri.

__ADS_1


Melihat Tama dan Maya membuat Rozi cemburu dan langsung menggantikan Maya untuk menolong Tama.


"Sini! biar gue yang bantu Tama May! kamu kan masih sakit tadi," ucap Rozi lalu beralih ke Tama.


Nyebelin banget sih ni anak, gue kan mau di bantu sama Maya bukan dia.


"Gue bantu ya Tama," lirik Rozi puas melihat Tama kesal.


kalau bukan karena Maya, gue ngak sudi di tolongin sama dia.


"Lo jangan lihatin gue kayak gitu! di tolongin bukannya terima kasih tapi malah cemberut ngak jelas."


"Iya kak Tama, ini demi kebaikan kak Tama juga," balas Maya lembut.


Yes, Maya belain gue, pasti lo kalah saing sama gue Tam! Tam! " bisik Rozi kepada Tama.


"Lo jangan besar kepala ya! baru di belain dikit udah melayang," ketus Tama.


"Aku ambilin obat ya, kalian tunggu di sini bentar!" perintah Maya lalu masuk ke dalam rumahnya.


"Oh,,, jadi ini rumah Maya, susanannya adem, tenang, bersih seperti penghuninya," puji Tama kagum.


"Hem,,, lo jangan joba-joba rebut Maya dari gue!" ketus Rozi menatap tajam ke arah Tama.


Ochy dan Ara yang melihat pemandangan itu merasa bingung dengan mereka.


"Kak Tama dan Kak Rozi kok dari tadi bertengkar, nanti aku kasih tau Maya loh biar kalian di usir dari sini!" ancam Ara kepada mereka berdua.

__ADS_1


"Jangan ya adik manis!" puji Tama memohon ampun.


"Maya itu ngak suka sama cowok yang ribut dan lebay, apalagi rebutin dia, terus bertengkar, bisa-bisa kalian ngak akan di sapa seumur hidup," jelas Ochy menakuti mereka berdua.


"Masak Maya kayak gitu?" tanya Rozi penasaran.


"Iya lah, Maya paling ngak suka dengan hal merendahkan martabat wanita, kan kalian tau Maya itu seperti apa, wanita alim, kalem."


"Tuh denger!" lirih Tama kepada Rozi yang serius mendengarkan penjelasan mereka.


"Maaf ya! aku lama, tadi aku lupa taruh kotak obatnya di mana," ucap Maya tiba-tiba datang dan menghampiri mereka.


"Iya ngak apa-apa Maya," ucap Rozi dan Tama serempak merebut perhatian Maya.


"May! bunda sama abahmu ke mana? kok sepi?" tanya Ochy yang menengok ke sekeliling rumah.


"Abah pergi kerja dan bunda biasanya lagi istirahat di dalam."


"Oh bunda lagi tidur ya May?" ucap Tama kepada Maya.


"Iya kak,"


"Sok-sok'an kalem lo," lirik Rozi ke Tama.


"Dari tadi aku lihat kak Rozi dan kak Tama begitu kompak ya? seperti seorang sahabat yang saling merindukan," ucap Maya memperhatikan tingkah laku mereka.


Deg,,,, suara jantung mereka berdua saling bersahutan mendengar perkataan Maya.

__ADS_1


"Ngak ada," ucap mereka serempak.


"Tuh kan, Maya bener, kalian memang kompak."


__ADS_2