
"Bimbing aku menuju jalan hijrahku, karena aku sangat membutuhkanmu."
💞Rozi 💞
🌻Rozi Wijaya POV 🌻
Kalian sudah mengenali aku kan! siapa sih yang tidak kenal dengan diriku. Cowok terpopuler, pemilik sekolahan kakek buyutku, kaya raya dan yang terpenting paling ganteng di antara para siswa di SMA Cendrawasih.
Aku anak tunggal dari keluarga Wijaya, anak paling pendiam, dingin, bermuka datar, kejam, dan berdarah dingin seperti kakek buyutku Wijaya.
Semua orang tau itu, termasuk keluargaku, tidak ada yang bisa menaklukkan hatiku setelah kepergian kekasih tercintaku Putri Candra Dewi.
Kebiasaanku menjadi pembalap, genx motor yang ada di wilayah Jakarta semua aku kuasai, tidak ada yang berani membantahku maupun berani mendekatiku termasuk musuh bebuyutanku Roni Kusuma, penyebab kematian kekasih tercintaku. Namun tenang ajha sekarang dia sudah mendekap di penjara.
Semua itu tak bertahan lama, semenjak kedatangan murid baru di SMA Cendrawasih, bernama Maya, cewek solehah, kalem, lemah lembut, cantik, dan yang paling membuatku terkejut melihat ada tanda lahir yang sama dengan almarhum putri.
Dan bodohnya diriku ketika dia pingsan di hadapanku, aku hanya melihat pemandangan itu dan tak ada niat sama sekali untuk mengangkat dirinya.
Aku hanya melihatnya sekilas di gendong oleh Tama, mantan sahabatku, Tama adalah mantan sahabatku. Mungkin gara-gara itu Maya lebih dekat dengan Tama, sungguh miris! Tama selalu menjadi penghalang untukku mendapatkan apa yang aku mau.
Cih,,,, dia pikir dia seorang malaikat turun dari langit yang mengikhlaskan putri untukku.
"Woy Bos! tadi gue lihat Tama deketin Maya cobak?"
Suara anak buah gue yang paling cempreng dan genit kesemua cewek yang ada di sekolah.
Bruk.... Suara meja Dipukul
__ADS_1
"Sialan! beraninya dia mencoba mendekati bidadariku."
Aku langsung meninggalkan mereka dan langsung menyusul ke tempat Tama berani merayu bidadariku.
"Lo sih, kenapa lo cerita tadi ah?"
"Pasti bos Rozi akan menghajar Tama sekarang."
Mereka berdua ribut tanpa memperdulikan aku yang sudah menjauh dari mereka.
Aku melihat ke sekitar sekolah dan menemukan mereka yang sedang asik berbicara di depan kelas X A.
Hem,,, ucapku ke arah mereka dengan tatapan tajam.
"Lo ada keperluan apa kesini ah??" cetus Tama mengarah kepadaku.
"Terserah guelah, gue mau ke sini gue mau ke sana! ini sekolah kakek gue!"
"Udah kak Tama, Kak Rozi! ini sekolah bukan ring tinju."
Maya memandang ke arah kita berdua yang sibuk ngoceh seperti mak-mak yang lagi nawar ikan di pasar.
"Kalau kalian bertengkar, Maya ngak akan mau lagi bertemu dengan kalian berdua."
Maya berkata seperti itu membuat aku dan Tama saling memandang dengan tajam, bukan malah mendengarkan Maya namun kita berkelahi saling tonjok membuat isi sekolah keluar dari kelasnya masing-masing, termasuk guru BP yang terkenal kejam memisahkan kita berdua yang telah babak belur mengeluarkan darah segar dari hidung masing-masing.
**Prak,,,, Prak,,,,, Suara penggaris kayu di pukul di meja.
Jangan panggil aku Rozi, kalau tidak bisa mendapatkan apa yang aku mau**.
__ADS_1
"Rozi!!!!!!!"
"Sudah berapa kali ibu peringatkan kepadamu jangan mencari keributan lagi di sekolah ini!"
Si gendut itu membentakku, namun aku hanya bersikap cuek, datar, dingin, tak peduli apa yang dia bicarakan.
"Kamu mau jadi apa besok ah??? "
Aku mengangangkat kepalaku, dan mulai berbicara, karena itu pertanyaan yang menantang bagiku.
"Aku akan menikah dengan Maya dan menjadi ayah dari anak-anak kami!
buk endang puas?"
Aku menjawab pertanyaannya dengan santai, tanpa memperdulikan Maya yang terkejut dengan ucapanku, yang baru satu detik aku ucapkan.
"Ha,,, ha,,, emangnya Maya mau menikah sama cowok seperti kamu ah??"
Buk Endang mengejek motto hidupku dan aku tidak terima dengan semua itu, aku langsung mengenggam tangan Maya, yang ada di tengah, di antara aku dan Tama, dan mengajaknya keluar dari ruangan busuk itu.
"Kak Rozi! lepasin aku, kita bukan mahrom, kak Rozi ngak boleh pegang tangan aku."
Aku menggenggam tangan Maya dengan keras dan menuju ke arah gudang, untuk membicarakan semua ini.
"Rozi sialan! Tama mengejarku dengan Maya namun, satu menit wajahnya hilang di hadapanku karena aku mulai memasuki gudang sekolah.
"Tangan aku sakit," Maya menangis, aku langsung melepaskan genggaman tanganku dari tangan lembutnya.
"Maafkan aku May!" Aku duduk di hadapannya sambil meminta ampun.
__ADS_1
Maya sibuk meniup tangannya yang sudah mulai membengkak karena ulahku, aku menyakitinya, aku jahat, aku membuatnya menangis.