HIJRAHKU BERSAMAMU

HIJRAHKU BERSAMAMU
Part 06


__ADS_3

Kini, masa orientasi siswa baru (Mos) telah selesai, siswa sudah mulai memasuki kelas mereka dan memulai pelajaran yang di sampaikan oleh guru mata pelajaran.


"Sepertinya aku mau ke perpustakaan dulu," ucap Maya kepada sahabatnya.


"Mau ngapain May?" tanya Ara.


"Ya mau baca bukulah, masak mau makan, pertanyaan yang tidak berfaedah," ejek Ochy.


"Gue mau nanyaq sama Maya, mungkin ada Pr gitu."


"Hem,,, ngak ada sih, tapi aku mau ke perpustakaan, kalian mau ikut ngak?"


Mereka berdua yang mendengar hal itu langsung berbalik arah, dan ingin kabur kalau mendengar kata membaca.


"He,,, he,,, gue ada urusan, ya ada urusan May, di sana, iya kan Ra?" tanya Ochy sambil menyenggol punggung Ara.


"Iya May, maaf ya! ngak bisa ikut," jawab Ara memelas.


"Iya udah ngak apa-apa kok," ucap Maya tersenyum.


"Maya ngak marah kan sama kita?"


"Ngak kok, Maya ngerti dengan ucapan kalian."


"Maya, memang paling pengertian deh," ucap Ochy cengegesan.


"Iya udah aku pergi ya?"


"Iya May, kalau ada sesuatu kabarin ya!"


"Asiap."


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


Maya langsung pergi keperpustakaan sekolah sendirian dan memasuki ruang itu, terlihat sunyi dan indah di dalamnya yang di hiasi oleh buku kesukaan Maya dari dulu.

__ADS_1


"Masyaallah! perpustakaannya besar sekali, beda banget kayak yang ada waktu di SMP," puji Maya kagum.


Maya mulai menelusuri satu demi satu rak buku yang ada di sana.


"Aku mau pilih yang mana ya? aku bingung jadinya, terlalu banyak buku di sini."


Maya tampak kebingungan untuk memilih buku sampai akhirnya dia menemukan buku yang menjadi Favoritnya yaitu buku tetang islam dan cara penerapannya dalam kehidupan sehari-hari untuk muslimah.


"Alhamdulillah! akhirnya ketemu juga, aku udah rindu dengan buku ini, ternyata ada juga di sini."


Maya mulai mencari tempat duduk di sekitaran buku yang banyak agar bisa lebih mudah, namun ketika dia ingin duduk tiba-tiba Maya tak sengaja menabrak Tama yang waktu itu membawa buku sangat banyak.


Bruk,,,, suara buku berjatuhan.


"Astagfirullah! kak maafin Maya? aku tak sengaja," ucap Maya merasa bersalah dan ikut memungut buku yang jatuh.


"Hem,, ngak apa-apa kok, aku yang salah tadi ngak hati-hati, kamu ngak kenapa-kenapa kan?" tanya Tama memandang Maya.


"Ngak kak, maaf ya? gimana kalau aku bantuin bawain!"


"Ngak sama sekali kak, justru aku senang bisa membantu kakak."


"Iya udah, ini bukunya sebagian kamu bawa, aku yang banyak biar ngak terlalu berat."


Maya mengangguk dan mengambil sebagian dari buku itu, dan mulai berjalan mengikuti Tama.


"Kak! kita mau bawa buku ini kemana?"


"Oh,,, ya, ke ruang guru May!"


Selang beberapa lama, mereka sampai di ruang guru, dan menaruhnya rapi di meja bu Diana.


"Terima kasih," ucap bu Diana kepada mereka berdua.


"Iya sama-sama bu, kalau butuh bantuan panggil Tama ya!" ucap Tama tersenyum lalu meninggalkan bu Diana.

__ADS_1


Maya heran dengan sikap Tama yang begitu akrap dengan bu Diana.


"Kak! aku boleh nanyaq ngak?"


"Boleh, mau nanyaq apa May?"


"Kakak, hebat ya? bisa seakrap itu sama semua guru."


"Ngak juga kok, mungkin karena sering bertanya dan aku kan aktif dalam organisasi , mungkin itu pengaruh utamanya," ucap Tama rendah hati.


"Kak Tama memang hebat, pintar dan baik + ganteng lagi," puji Maya.


"Apa yang terakhir tadi May?"


"Ganteng!" ucap Maya mengulangi perkataannya.


"Hem,,, aku ganteng ya? tapi sampai sekarang aku jomblo tuh," ucap Tama memandang Maya.


"Kak tama terlalu rendah hati, padahal kan banyak cewek yang antri jadian sama kakak, kakak juga ngak kalah populernya sama kak Rozi."


"Iya May, tapi ngak ada yang aku suka di antara cewek yang dekatin aku, aku ngerasa mereka memanfaatkan aku."


"Kita ngak boleh su'uzon kak, mungkin mereka mau belajar bareng sama kak Tama, kita juga ngak bisa menilai penampilan seseorang dari luarnya saja, tanpa melihat isi hatinya."


'May! kalau aku suka sama kamu, gimana?' batin Tama memandang Maya.


"Iya udah kak, aku mau kembali ke kelas dulu, sepertinya udah bel," ucap Maya memandang Tama.


"Oh,,, ya udah, terima kasih ya, buat yang tadi?" ucap Tama tersadar dari lamunannya.


"Iya kak sama-sama."


Maya lalu pergi dari hadapan Tama, sedangkan Tama masih memperhatikan gadis muslimah itu dari kejauhan.


"Ya Allah, sungguh indah ciptaanmu," puji Tama melihat punggung Maya yang semakin menjauh.

__ADS_1


__ADS_2