
" Maafkan aku yang selalu berhianat terhadap hatiku, tubuhku menginginkan taat namun masih tak mampu untukku menggapainya. " ( 💞 Aisar 💞 )
"Akhirnya aku menemukanmu," ucap Widya mendekati Rozi.
"Hai Widya!" sapa Rian senyum jatuh cinta melihat Widya yang ada di depannya.
"Apa'an sih lo, lihatin gue kayak gitu?" cetus Widya menatap tajam ke arah Rian.
"Cantik cantik kok galak, nanti cantiknya hilang loh!" sindir Iruan cengegesan.
"Minggir! gue mau bicara sama Rozi," lalu Widya memegang tangan Rozi yang sebelah Kiri.
Rozi yang melihat itu semua langsung geram dan bersikap kasar ke Widya.
"Apa'an sih lo, lepasin gue!" lalu Rozi melepaskan tangan Widya dan pergi ke dalam kelas.
"Uh,,, kasihan deh lo, makanya jangan genit jadi cewek," ejek Rian dan Iruan membuntuti bosnya dari belakang.
"Awas lo ya!" ancam Widya kesal.
Gue mau pakai baju apa ya ? ke rumah Maya.
"Rian! Iruan! kesini kalian?" panggil Rozi menyuruh mereka duduk di depannya.
Rian dan Iruan sibuk merayu para akhwat yang ada di kelasnya.
"Iya bos, ada apa?"
__ADS_1
"Kalau kita ke pengajian, biasanya kita pakai baju apa ya? soalnya gue tumben pergi ke pengajian," tanya Rozi menyembunyikan rasa malunya.
"Biasanya kita pakai baju formal bos," jawab Rian dengan di dukung anggukan Iruan yang ada di dekatnya.
"Maksud gue baju formal yang kayak gimana?" cetus Rozi menatap tajam ke arah mereka.
"Kayak pakai baju kokoh itu bos, yang di pakai para Ustadz yang ada di tv itu
bos."
"Oh, gitu ya," ucap Rozi mengangguk.
"Tapi gue dapat bajunya dari mana?" tanya Rozi kembali.
"Bos! bos... Bos kan anak orang kaya tinggal beli ajha di mall itu ajha repot."
"Tumben lo cerdas," ucap Rozi memukul pundak mereka."
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
"Gimana, lo udah selidiki Maya kan?" bisik Widya ke para genx ciwi ciwinya.
"Udah Wid, bahkan Rozi tadi ada di sana nyamperin Maya ke kelasnya."
"Kurang ajar, cewek muslimah itu ngak ada takutnya sama gue, udah gue peringati untuk menjauh dari Rozi, tapi masih ajha dia genit, awas ajha gue akan kasih pelajaran berharga
untuk dia," cetus Widya menggepalkan tangannya kesal.
"Kita kerjain dia ajha bos, biar dia kapok dan ngak berani gangguin Rozi lagi?" saran dari genx Widya.
__ADS_1
Widya yang mendengar hal itu tersenyum licik, entah apa yang ia pikirkan untuk mengerjai Maya.
"Tunggu pembalasan gue," ucap Widya lalu pergi dan di ikuti genxnya.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
"Gimana ya? gue kasih tau abah atau ngak ya?" ucap Aisar menuju kediamannya yang baru pulang sekolah.
"Kalau gue ngak kasih tau, nanti Maya marah sama gue, gue kasih tau ajha abah sama ummi.
Aisar lalu mulai membuka pintu rumahnya, sudah terbisa Aisar membuka pintu tanpa salam dan tak pernah menyapa orang tuanya.
Kini terlihat abah Aisar duduk di sofa sambil meminum teh buatan umminya, Aisar memberanikan dirinya mendekati mereka.
"Hem,,, Abah! ummi!" panggil Aisar cuek.
Abah dan Umminya langsung terkejut mendengar anaknya yang memanggil, karena sudah lama Aisar cuek kepada mereka.
"Iya nak," ucap ummi lembut memandang sedih ke arah anaknya.
"Abah! ummi! di undang Maya, nanti sehabis shalat maghrib ada acara yasinan di rumahnya," cetus Aisar tak memandang mereka sedikitpun.
"Aisar! sini duduk di dekat ummi!" perintah ibunya lembut.
"Ngak, Aisar banyak tugas sekolah," ucap Aisar lalu pergi ke atas meninggalkan orang tuanya.
"Dasar anak ngak tau di untung," ucap Abah melihat perilaku Aisar.
"Sudah abah, Aisar mungkin masih marah sama kita," ucap ummi lembut.
__ADS_1
Sebenarnya hati Aisar sangat sakit melihat perilaku dirinya kepada orang tuanya, dan membuat mereka sedih.