
"Jangan menangis!!! karena air matamu sebagian dari hidupku."
💞 Rozi Wijaya 💞
"Menjagamu, melindungimu adalah
cita-cita tersendiri di dalam lubuk hatiku." 💞 Aisar Samudra 💞
#Author POV
"Kamu ngak mau pindah sekolah Dek,dan mondok kayak dulu??" tanya ibu memandang anak gadisnya.
Maya sekejab memberhentikan acara makannya, memandang ke arah ibu dan abahnya, pertanyaan itu masih terulang di kepalanya.
"Adek sudah betah di sekolah baru adek abah! ibu! di sana adek sudah dapat teman baru," lirih Maya lembut memandang satu persatu wajah orang tuanya, untuk meyakinkan.
"Tapi adek tidak ada masalah di sekolah kan??"
Maya menggeleng, sembari memastikan semuanya, agar tidak di ketahui oleh orang tuanya.
'Maafkan adek, adek terpaksa berbohong.'
***************
"Lo memegang sudah gila bos, pasti sekarang Maya tidak mau lagi dekat dengan lo lagi," gerutu Rian memandang Rozi dengan nada menyalahkan.
"Agh,,,, gue tidak bermaksud buat sakiti dia, gue hanya_"
__ADS_1
"Hanya apa bos?? lo nggak sadar, kelakuan lo itu bisa membuat lo semakin jauh sama Maya, pasti bakalan susah banget malahan buat dapetin hati dia lagi, karena sudah tau kelakuan lo."
Rozi yang mendengar hal itu, langsung menunduk, memikirkan hal yang akan terjadi selanjutnya.
"Terus gue harus gimana??" tanya Rozi mulai gemetar.
"Lo harus minta maaf!!"
"Baiklah, gue akan minta maaf besok pagi."
"Nah gitu dong, cowok itu harus gentel."
"Tumben lo cerdas, mungkin lo salah minum obat," ejek Rozi memandang
wajah Rian dan Iruan yang sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.
*************
"Abah! Ummi!" sapa Aisar mendekati mereka yang sedang menikmati acara televisi.
Aisar duduk di hadapan mereka, memandang satu persatu wajah orang tuanya.
"Maafkan anakmu, yang telah durhaka," ucap Aisar sedih.
Abah dan umminya terkejut dengan perkataan Aisar, yang belum genap satu detik anak itu ucapkan.
"Aisar telah banyak menyakiti hati ummi dan abah , Aisar minta maaf!! ku mohon maafkan Aisar."
Ummi Aisar langsung tersenyum, memleuk anaknya, tak terasa geningan air mata mengalir deras di wajah putihnya.
"Ummi, dan abah, sudah memaafkan Aisar."
__ADS_1
Ummi memandang ke arah abah, menatapnya lembut dengan keyakinan.
"Terimakasih abah! ummi! Aisar janji tidak akan menyakiti hati kalian lagi," ucap Aisar masih memeluk Umminya dengan lembut.
"Iya nak, kami mengerti dengan perasaan Aisar selama ini, apalagi perasaan Aisar ke Maya."
Aisar melepaskan sejenak pelukan umminya, memandang ke arah wajah umminya sekilas, dan tersipu malu.
"Hem,,, kalau Aisar suka sama Maya, kenapa harus di pendam nak??" tanya ummi lembut sembari mengelus pelan rambut Aisar.
"Mungkin anakmu malu Mi," sambung abah dengan nada sedikit tertawa.
"Aisar tidak mau menyakiti hati Maya, Aisar tidak mau Maya mengetahuinya, kalau Maya tau, pasti Maya tidak mau lagi bersahabat dengan Aisar, Aisar ingin melamar Maya ummi! abah! disaat Aisar sudah sukses dan sudah mampu membahagiakan Maya dengan hasil kerja Aisar sendiri."
Orang tua Aisar tersenyum melihat anaknya, yang telah merencanakan masa depan dengan sahabatnya.
"Abah, bangga denganmu nak, pasti Maya akan sangat beruntung mempunyai suami sepertimu," puji Abah memukul pelan pundak anaknya.
"Iya abah, Aisar akan menjaga Maya dan membahagiakanya, tidak akan membuatnya menyesal menikah dengan Aisar."
"Iya sayang, yang penting Aisar harus terus berdo'a!! pantaskan dirimu nak, untuk bersanding dengan Maya."
"Terima kasih abah! ummi! selalu mendukung Aisar."
Aisar tersenyum bahagia, memeluk kedua orang tuanya.
'Aku akan memilikimu May!!
aku janji itu."
"Percayalah!! aku akan selalu menunggu waktu yang tepat, untuk mengungkapkan semuanya."
__ADS_1
( Tama Angkasa)