
"Jadikan aku sebagai permatamu."
💞 Rozi Wijaya 💞
"Assalammua'laikum!" menyapa Maya.
"Wa'alikumsalam," berhenti dan menoleh ke sumber suara.
"May! aku minta maaf soal kejadian yang kemarin," sedih.
"Iya, aku sudah memafkanmu kak."
"Ya sudah aku masuk ke kelas dulu ya?"
"May! kumohon jangan seperti ini, kalau kau ingin membalasku, balas aku, tapi jangan cuek kepadaku, aku tidak bisa."
Maya memandang ke arah Rozi, tersenyum dan meyakini laki-laki tersebut.
"Sebelum kak Rozi minta maaf, aku sudah memaafkanmu lebih dahulu, tidak baik menyimpan dendam."
Rozi membalas senyuman Maya, sekarang hatinya sudah terasa lebih lega.
Kau memang berhati bidadari, ya Allah kumohon jodohkan aku dengan bidadarimu yang sedang ada di depanku saat ini.
"Ya sudah, aku ke kelas dulu ya?"
Rozi mengangguk, tanda menyetujui permintaan Maya.
Kenapa aku seperti ini? kalau ada di dekatnya pasti aku seperti orang bodoh, agh,,, Rozi! kau memang sudah gila karena Maya, May! kamu pakai apaan sih? aku bisa langsung tunduk seperti anak kecil di depanmu.
Rozi berbalik arah menuju kelasnya, tersenyum layaknya kerasukan cinta.
* * * * * * * * * * *
"Kak Rozi!" panggil Mita adik kelas sebelah, karena bingung dengan sikap seniornya.
__ADS_1
"Iya," datar.
"Kenapa kak Rozi senyum sendiri? kakak kerasukan jin ya?" penasaran.
Mereka semua mengangguk pelan di depan Rozi, adik kelas kecentilan dan kepo itulah yang di hadapi Rozi saat ini.
"Kalian tidak perlu mengetahui hidup saya, saya tersenyum, sedih, terserah saya," cetus Rozi marah.
Mereka semua menunduk, tanpa berani menatap wajah ganteng Rozi.
"Iya kak, maaf atas kelancangan kami!"
"Dan saya ingatkan kepada kalian semua, jangan coba mendekati saya, karena saya tidak suka dengan prempuan yang suka mengejar laki-laki duluan, kecentilan dan lainnya."
Rozi berjalan, menjauh dari kerumunan adik kelas yang melihat pesona kegantengannya.
" Kak Rozi serem banget ya?" ketakutan.
"Cowok idaman gue tuh."
"Woy,,, kak Rozi itu hanya milik gue, kalian jangan mimpi deh!"
"Punya gue!"
"Apaan sih lo? pokoknya kak Rozi hanya untuk gue."
Mereka adu mulut, saling jambak, memperebutkan Rozi yang telah jauh dari pandangan.
* * * * * * * * * * * *
"Dasar perempuan bodoh!" cetus Tama melihat sikap mereka semua.
"Kak Tama bicara apa tadi?" tanya Ara bingung dengan sikap Tama.
"Tidak ada, sejak kapan kamu ada di sini?" terkejut.
__ADS_1
"Oh,,,, tadi aku mau ke kelas, sekalian ketemu sama kak Tama."
"Kamu mau ketemu sama saya?"
Ara mengangguk, memandang ke arah Tama yang terlihat pucat, entah apa yang ada di benak cowok itu sekarang, Ara tidak bisa memastikannya.
Aduh, mati gue, kalau Ara dengar perkataanku yang tadi, pasti anak ini akan cerita ke Maya, terus gue tidak bisa membalaskan dendam gue ke Rozi.
"Kak Tama!" sedikit berteriak.
"Iya," terkejut.
"Aku mau kak Tama ajarin aku Matematika? bolehkan?" tersenyum imut.
"Ahh,,,, aku ajarin kamu?"
"Iya kak, kak Tama kan pintar dan cerdas, bolehkan?"
Gimana aku manfaatin ajha anak ini, agar Maya lebih dekat denganku, aku bisa mendapatkannya terus menyakitinya, agar Rozi terluka, Tama,,, kau memang cerdas.
"Baik, tapi ada persyaratan yang harus kamu penuhi?" tersenyum licik.
"Apa kak?" mengangguk dan memandang ke arah Tama dengan serius.
"Kamu harus bantu saya dekat dengan Maya! bagaimana, kamu setuju?"
Tanpa berpikir panjang, Ara mengangguk, toh itu hal yang mudah, mendekatkan kak Tama dengan Maya.
"Ara setuju," tersenyum gembira.
Semua wanita di sekolah ini rata-rata gampang untuk di bodohi, Maya! tunggu aku, aku akan segera memilikimu, maafkan aku! hanya menjadi pelampiasan untuk membalaskan dendamku ke Rozi.
"Ya sudah, kamu mulai belajar nanti sore!"
"Baik kak."
__ADS_1
Kak Tama auranya beda banget ya? aura ingin membunuh, agh,,, aku tidak boleh berburuk sangka, mungkin kak Tama lagi ada masalah.