
"Ih,,, lebay banget tuh anak-anak, tumben lihat cowok ganteng apa?" ketus Ochy melihat para akhwat yang
teriak-teriak ngak jelas.
"Ush,,, ngak boleh ngomong kayak gitu Chy, itu sama ajha kita memakan bangkai saudara kita, membicarakan keburukan mereka," sambung Maya menasehati sahabatnya.
"Maaf May! habisnya gue kesel lihat tingkah laku mereka yang kayak gitu, kan kita sebagai perempuan harus mempunyai harga diri jugak kan?"
"Iya Chy! benar sekali, tapi kita jugak ngak boleh menyalahkan mereka, kita lebih baik berdo'a semoga mereka mendapatkan hidayah dari Allah."
"Lo jugak, ikut-ikutan teriak, lo saudara'an sama mereka ah?" lirik Ochy memarahi Ara yang ada di sampingnya.
"He,,, he,,, maaf! gue ngak tahan lihat kegantengan kak Rozi," balas Ara cengegesan.
"Ketawa lagi lo."
"Udah! kita lebih baik mendengarkan panitia, nanti kita ketinggalan pelajaran lagi," sambung Maya lembut.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
"Mohon perhatiannya adik-adik! saya akan mengasih kalian tugas, mengisi formulir dengan tanda tangan para panitia, dan untuk siswa yang berhasil mengisi dengan penuh formula ini, akan kami kasih hadiah dan sebaliknya apabila di antara kalian yang tanda tangannya kurang dari lima, maka saya akan menghukum kalian, apakah kalian sudah siap?"
"Siap,,, siap,,,, siap,,, Allahhuakbar! terdengar suara para siswa meributkan ruangan auditorium.
"Untuk para panitia silahkan membagikan formulirnya!" perintah kak Tama, salah satu panitia yang mengawasi mereka.
Anak-anak mulai mengambil formulir dan tinggal menunggu aba-aba dari kak Tama.
"Prit,,, prit,,, prit,,,," suara peluit nyaring menandakan di mulainya permainan.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
Anak-anak mulai berlari kesana kemari, untuk meminta tanda tangan kepada masing-masing panitia, ada yang di suruh bernyanyi, joget dan hal-hal menarik seru lainnya.
Maya, Ochy, Ara berhasil mendapatkan tanda tangan hampir dari semua panitia terkecuali kak Rozi dan Widya.
"Alhamdulillah," ucap mereka kompak.
__ADS_1
"May! tinggal dua orang lagi, tapi gue takut pasti mereka mau yang aneh-aneh deh."
"Kita coba ajha dulu! nanti kalau ngak wajar persyaratannya kita lebih baik mundur!"
"Okey! ya udah!"
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
Mereka memberanikan diri meminta tanda tangan ke Rozi dan Widya yang terlihat cuek melihat kedatangan mereka di depannya.
"Kak! boleh minta tanda tangannya?" tanya Ochy mulai berbicara dan menunduk.
"Boleh! tapi kalian harus putar lapangan sekali ajha! dengan cara duduk
jongkok," ucap Widya di dukung oleh anggukan Rozi.
"What?" bisik Ara kaget dan saling memandang.
"Gimana May?"
"Woy! kalian mau tanda tangan atau ngak sih? jangan ngerumpi!" ketus Rozi melirik mereka bertiga yang ngerumpi.
"Iya kak," balas mereka menunduk ketakutan.
Mereka bertiga mulai mengelilingi lapangan yang panas, luas dan tidak ada pohon yang meneduhkan, hanya tiang bendera yang tinggi sebagai hiasan lapangan.
"May! kamu kuat kan?" tanya Ara yang melihat Maya yang semakin pucat.
"Insyaalah! aku kuat Chy, Ra," bales Maya melanjutkan aktivitas mereka.
Di kejauhan terlihat Widya tersenyum puas melihat mereka yang kepanasan dan mengelilingi lapangan.
"Dasar bodoh, mau ajha di suruh keliling lapangan."
"Widya! sekarang kamu ambil formulir mereka dan tanda tangan yang rapi!" perintah Rozi.
"Tapi, Zi."
__ADS_1
"Jangan membantah!"
Sebenarnya Rozi kasihan melihat mereka, namun, iya puas melihat penderitaan orang lain.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
Butuh 30 menit mengelilingi lapangan sekolah.
"Alhamdulillah! akhirnya selesai jugak."
"May! aku khawatir sama kamu, kamu masih kuatkan berdiri?"
"Iya, masih kok, kan ini udah selesai.
mereka langsung berdiri dan mendekat ke arah Rozi dan Widya, yang terlihat menandatangani punya mereka, namun baru Maya ingin mengambilnya kepalanya terasa pusing.
"Ya Allah! kepala aku kenapa? kok sakit gini," keluh Maya memegang kepalanya.
Bruk.........
Maya terkapar pingsan, tidak tahan lagi dengan kondisi tubuhnya yang lemah.
"May! May! bangun!" teriak para sahabatnya menyaksikan Maya pingsan.
"Eleh, hanya akting ajha, biar lo bantuin di tuh Zi," ketus Widya lalu meninggalkan Maya.
Sedangkan Rozi hanya cuek melihat pemandangan itu, menganggap semua itu hanya rekayasa.
"Tolong! tolong!" teriak Ara dan Ochy meminta bantuan.
Para panitia langsung berhamburan menolong Maya, dan menyikap sedikit baju yang ada di pergelangan tangan Maya, untuk mengejek denyut nadinya.
"Nadinya lemah, cepat bawa ke UKS," teriak kak Tama lalu memopong Maya bersama para siswa.
"Perasaan gue kenal dengan tanda matahari di lengan cewek itu? tapi di mana ya?" tanya Rozi kepada dirinya sendiri, tak sengaja melihatnya tadi di tangan kiri Maya.
"Kasihan jugak tuh cewek, kirain dia hanya akting tadi, pokoknya gue harus cari tau tentang tanda matahari itu, kayak ngak asing di pengelihatan gue," sambung Rozi lalu pergi ke UKS untuk melihat keadaan gadis itu.
__ADS_1