
" Mencintai karena dendam itu unik."
*** Tama ***
"Lo dari mana ajha? hilang ngak ada permisi, datang ngak di undang."
"Jadi gue jelangkung dong," ucap Ara cemberut.
"Emang, mirip sih," balas Ochy santai.
Maya diam mendengarkan pertengkaran kecil sahabatnya dan melanjutkan membaca buku matematika.
"May! gue mirip ya?" memandang ke arah Maya.
Maya menutup sejenak bukunya, lalu memandang Ara yang ketakutan karena ulah Ochy.
"Tidak Ra, Ara cantik dan imut lagi," puji Maya memcubit pipi sahabatnya.
"Lo bohongin gue ya?" melotot ke arah Ochy.
"Siapa suruh percaya, ha,,, ha,,," tertawa mengejek.
"Udah! kalian ini, dari tadi bertengkar ajha, belajar yuk! kita kan sebentar lagi mau ulangan."
"Okey May."
Gimana gue ajak Maya ya, buat belajar bareng sama gue dan kak Tama, kalau gue ajak dia di sini, pasti Ochy ikut juga.
* * * * * * * * * * *
"May!" panggil Ara yang sedang ada di kamar mandi.
"Iya Ra," lembut.
"Aku mau ajak kamu belajar bareng, kamu mau ngak?"
"Mau Ra, sama siapa juga?"
"Kita bertiga, aku, Maya, dan kak Tama."
__ADS_1
"Ochy tidak di ajak?"
"Kata kak Tama dia ngak mau
banyak-banyak," berbisik.
"Di mana kita belajarnya?"
"Nanti sore, di taman."
"Baiklah, nanti aku ke sana."
Yes,,, berhasil, pasti kak Tama seneng banget aku ajakin Maya, semoga ajha kak Tama suka!
* * * * * * * * * * * *
Di sisi lain Tama tengah menyusun rencana untuk menyakiti Maya, membalaskan dendamnya ke Rozi, mantan sahabatnya.
"Aku harus bagaimana ya? buat nyakitin Maya, aghh,,, kok aku kasihan lihat gadis itu, Tama,,, sadar! Maya itu hanya pelampiasan, jangan jatuh cinta."
Drttt,,, drttt,,,,
"Baiklah, nanti aku kasih kode."
"Siap bos, saya dan teman-teman menunggu kode dari bos."
"Bagus, laksanakan!"
Tut,,, tut* ,,,,,
Tama mematikan Hp, tersenyum licik penuh kemenangan.
"Ha,,, ha,,, tunggu pembalasanku Zi, apapun yang lo suka, akan menjadi milik gue, gue akan hancurin semuanya."
"Kok perasaan gue ngak enak ya? apa yang terjadi? kenapa gue keinget Maya terus dari tadi, apakah dia terluka?"
"Bos! lo kenapa? kayak orang galau ajha, lo keringat dingin bos, parah lo, lo sakit ya?" terkejut melihat Rozi yang terlihat gelisah.
"Lo lagi omongin apa sih Ra? bisik-bisik tetangga lagi, gue tersinggung nih."
__ADS_1
"Kepo lo, gue ada bisnis sama Maya, lo ngak boleh tau," menatap tajam.
"Alah,,, sok-sok'an lo, yuk kita ke kelas gerah gue di sini, ada makhluk Mars selalu ngikutin gue," melirik ke arah Wina.
Wina sibuk dengan lipstik yang ia kenakan, sengaja memanasi Ochy dengan lipstik barunya.
"Apa lo lihat-lihat!" sinis Wina.
"Eleh,,, siapa juga yang lihatin lo, jangan kege'eran deh lo."
* * * * * * * *
"May! kamu ada acara ngak nanti sore?" sapa Rozi di depan kelas Maya.
"Aku, Ara, dan kak Tama mau belajar bareng nanti Zi."
Aduh! ketahuan deh, rencana gue jadi gagal buat deketin Maya dan Kak Tama.
"Kamu mau belajar bareng kan?" ucap Rozi tersenyum.
"Iya kak," lembut.
"Tapi itu berlaku untuk kita bertiga, bukan berempat ya!" jawab Ara sinis.
"Gue ngak ngomong sama lo ya! gue ngomong sama bidadari gue."
"May! aku boleh ikut ngak?" mulai memandang Maya lembut.
Maya menatap ke arah Ara dan Ochy, secara bergantian.
"Ra! gimana? kak Rozi mau ikut, kita ajak ajha ya?"
"Kalau kak Rozi ikut, gue juga ikut," balas Ochy perotes.
"Sok lo, tumben lo mau di ajak belajar bareng?" sinis Ara.
"Gue ikut ya? nanti kita ketemu oke! bye gue ke kelas dulu, bidadari aku ke kelas ya?" ucap Rozi bahagia, siapa sih yang ingin menolak Rozi termasuk mereka bertiga untuk bergabung, karena Rozi tipe cowok yang dingin dan keras kepala.
"Baiklah," jawab Maya lembut melihat punggung Rozi yang semakin menjauh.
__ADS_1