
"Kita tunggu di sini ajha!!" ucap Ara membersihkan dedaunan kering yang ada di bangku taman.
"Iya, kak Tama kok belum datang ya?" tanya Maya melihat ke arah sekitaran taman dengan ekor matanya.
"Assalamualikum cantik!" sapa Rozi tiba-tiba datang, membawa beberapa buku pelajaran, karena Rozi juga salah satu bintang kelas, bukan hanya pemilik yayasan, ganteng tapi juga pintar.
"Waalaikumsalam," balas Ochy tersenyum di belakang Rozi, lalu duduk berdekatan dengan Maya dan Ara.
Beberapa menit kemudian!
"Kak! aku ngak ngerti yang ini, coba dijelasin!" ucap Ara mencondongkan punggungnya menghadap Tama, sedangkan Maya sibuk memperhatiakan buku pelajarannya, dan sekali melirik ke arah Tama yang menjelaskan, dengan anggukkan kepala."
'Masyaallah! kamu indah banget May,' batin Rozi diam-diam melirik ke arah Maya yang dari tadi tidak mengetahui dirinya di perhatikan.
"Oh, oke, aku ngerti," sambung Ara dan Ochy mengangguk mendengar penjelasan dari Tama, Tama memperhatikan Rozi yang dari tadi melirik ke arah Maya dengan tersenyum.
"Hem, kita mau belajar ya? bukan ngelirik cewek," sindir Tama melirik sinis ke Arah Rozi, yang sudah sadar dengan persembunyiaannya.
"Cye! cye! ada yang ngelirik Maya nih diam-diam, hem hem," ejek Ochy tersenyum menyenggol bahu Maya yang ada di sampingnya.
"Ochy! mungkin kak Rozi lagi memperhatikan kak Tama, makanya melihat ke arah kita, iya kan kak?"
"Ah, iya aku lihat kalian semua kok, bukan Maya ajha."
"Mana ada maling ngaku!" balas Ara mengejek.
"Iya udah kita lanjutin, pembahasan kita, karena bentar lagi sore," perintah Tama lalu membalik buku berikutnya.
Selang beberapa jam, matahari masih menampakkan dirinya, namun dengan cahayanya yang sedikit redup, karena sebentar lagi, waktu maghrib akan segera tiba.
"Iya udah besok kita lanjutkan lagi," ucap membereskan bukunya ke dalam.tas, begitu juga dengan yang lainnya.
"May! aku antar kamu pulang ya?" tawar Rozi tersenyum dengan tas punggung berwarna hitam yang ada di belakangnya.
"Aku pulang sama Ara dan Ochy, lain waktu ya kak, maaf ya!"
"Kasihan, di tolak," ejek Tama melirik sinis ke arah Rozi.
"Ya udah, aku pulang duluan dulu, assalamualikum!" ucap Rozi lalu pergi, namun Rozi hanya pura-pura, karena ia akan memastikan Maya pulang dengan selamat terlebih dahulu.
"Waalikumsalam!" balas mereka serempak, mereka semua mulai melangkah pergi menuju jalan raya, yang lumayan ramai dengan lalu lalang kendaraan, karena jam segini, waktu sebagian orang pulang dari aktivitas mereka di luar rumah.
"May! aku boleh nanyaq sesuatu?" tanya Tama yang ada di samping Maya."
"Iya, kak Tama mau nanyaq tentang apa?" lembut.
"Kamu suka sama Rozi?"
"Tidak kak, Maya hanya menganggap kak Rozi teman Maya, begitupun kak Tama dan yang lainnya."
__ADS_1
"Oh gitu ya."
Mereka menyusuri jalan raya, dengan masih menggunakan seragam sekolah, Maya sudah mengabari orang tuanya, ada belajar bareng bersama
teman-temannya di sekolah, dan mereka mengizinkannya.
Maya melihat ke arah belakang jalan raya, sepertinya ada mobil dengan kecepatan tinggi, mengarah kepadanya, kebetulan Maya berada paling pinggir di antara mereka.
"Maya awas!" teriak Rozi dari kejauhan dan langsung memeluk Maya menghindari mobil hitam tersebut, yang sedikit lagi akan menyerepet Maya.
Bruk, bruk, ( suara dari arah aspal)
"Maya!" teriak Ara dan Ochy menyadari hal tersebut terjadi.
"Kamu tidak kenapa-kenapa?" tanya Rozi menatap bola mata Maya dengan sendu, sekarang mereka tidak sengaja berpelukan, Rozi sengaja melakukannya agar Maya selamat dan tidak berbentur aspal, namun sayangnya, aspal berhasil menggoreskan luka di kepala Maya, yang sekarang mulai mengeluarkan darah.
"Maya! jawab aku! mana yang sakit?" tanya Rozi panik, karena Maya tidak mengeluarkan suara, hanya tatapan kosong yang ia lihat ke arah wajah Rozi.
"May! kamu tidak kenapa-kenapa?" tanya Ochy dan Ara panik bukan main, melihat tubuh gadis itu lemah di dekapan Rozi.
"Kembalillah! tuntun ia ke jalan yang di Ridhoi Allah, aku menitipnya May, kumohon jangan menolak," suara dari bayangan Maya, gadis itu langsung tersadar dan mulai duduk.
"Aduh! kepala aku," ucap Maya Memegang kepalanya yang sedikit mengeluatkan darah.
"Mana yang sakit May? yang ini ya?" tanya Rozi memgang tangan Maya yang memegang kepalanya.
Maya menggeleng, dan melihat ke arah Rozi, yang khawatir dan sangat takut dirinya terluka, ada bekas goresan di lengan cowok itu karena menyelamatkan dirinya.
"Aku khawatir sama kamu May, jangan senyum seperti ini! kita ke rumah sakit ya? ayok aku antar."
"Tidak! aku ingin istirahat dan pulang ke rumah."
"Ya udah aku antar kamu ke rumah!"
"Aku ngak mau ngerepotin kakak."
Ochy dan Ara saling memandang, dan menyuruh Maya, agar tidak menolak ajakan Rozi, karena Maya benar-benar lemah untuk saat ini.
"May! kamu mau ya diantar sama kak Rozi, kak Rozi udah nolongin kamu, masak kamu ngak mau di anterin sama dia."
Maya berpikir sejenak, mencoba berdiri namun kepalanya benar-benar pusing, sepertinya tubuhnya terlalu lemas, sehingga tidak mampu untuk bergerak sedikitpun.
"Iya, aku mau di antar sama kak Rozi," jawab Maya memegang kepalanya.
"Kepalamu sakit May?" tanya Rozi khawatir, Maya terlihat sangat pucat, menambah kecemasannya.
"Aku ngak apa-apa kak, hanya sedikit lemas ajha," tersenyum lembut.
'Di tengah situasi seperti ini, kau masih bisa tersenyum May, aku kagum dengan prempuan seperti dirimu,' batin Rozi memandang Maya yang kini sudah berada di dalam mobilnya.
__ADS_1
"Terima kasih kak, udah nolongin aku," lirik Maya tersenyum ke arah Rozi yang menyetir mobil, menuju rumah Maya.
Beberapa menit kemudian
Rozi memapah Maya untuk keluar mobilnya, sedangkan orang tua Maya sudah cemas menunggu di luar rumah, menanti putrinya, karena sekarang sudah mulai beranjak waktu shalat maghrib.
"Abah! Maya kemana? Bunda khawatir bah," ucap wanita paruh baya itu cemas.
"Iya bun, kita tunggu Maya bentar lagi!"
"Assalamualikum!"
"Itu siapa? seperti suara laki-laki, wa'alikumsalam," orang tua Maya terkejut dengan kehadiran dua orang yang berdiri di rumahnya.
"Astagfirullah! kamu kenapa nak?" tanya bunda langsung memeluk putrinya yang sudah terlihat pucat."
"Duduk dulu nak," ucap abah menyuruh Rozi duduk, Rozi pun mengangguk dan duduk di sofa dengan di ikuti Maya dan keluarganya.
"Tad_tadi."
"Sudah May! biar aku yang menjelaskannya," sambung Rozi memotong perkataan Maya yang lemah.
"Iya sayang," balas bunda meyakinkan.
"Tadi pas kita mau pulang ke rumah masing-masing, Maya hampir tertabrak mobil, dan saya yang melihat hal itu langsung mendorong Maya ke pinggir agar tidak ketabrak, alhamdulillah selamat, namun kepala Maya sedikit terbentur aspal, saya mohon maaf bunda abah!" menunduk.
"Tidak nak, kamu tidak salah, justru kami berterima kasih, karena kamu mau menyelamatkan putri kamu, itu bisa di obati, namun kalau Maya tertabrak pasti akan parah lagi dari yang sekarang," ucap abah menenagkan.
"Iya abah," menunduk sopan.
"Kamu pusing nak?" tanya bunda khawatir.
"Kepala Maya, sakit bun," balas Maya memegang kepalanya, membuat Rozi khawatir melihat kondisi Maya, tidak biasanya gadis itu mengungkapkan sejujurnya apa yang ia rasakan, pasti itu sangat sakit."
"Bun_bunda!" lirih Maya lalu pingsan di dekapan bundanya, entah kepalanya terasa begitu berat dan tubuhnya
lemah."
"Maya! bangun nak!" tangis bunda histeris.
"Biar abah yang bawa ke kamar."
"Tidak abah! abah tidak akan kuat mengendong Maya, biar nak Rozi yang bantu, boleh kan nak Rozi?"
"Boleh bunda! abah! biar saya yang gendong Maya, kamarnya di mana?" tanya Rozi mulai panik.
"Di sana."
Rozi memapah Maya dan menggendongnya, terasa sakit dan sesak di hati Rozi, melihat pujaan hatinya kini di dekapnya dengan lembut, namun dalam keadaan pingsan.
__ADS_1
'Aku ngak boleh menangis! aku harus kuat melihat Maya seperti ini, ya Allah mengapa hati ini sakit melihat wajah itu menutup mata, kumohon jangan ambil dia ya Allah, hamba menyayanginya," batin Rozi berdo'a di dalam hati.