
Assalamualaikum
*Selamat Membaca
Bukkk. Bukkk
"Ini semua pasti ulah lo kan??" tegas Rozi dengan penuh amarah menghajar cowok yang ada di depannya.
Cowok itu tersenyum sinis. Tatapan mengejek. "Kalau ulah gue, emangnya lo bisa apa ahh?? rencana gue jugak udah berhasil."
Buk. Buk.Buk
"Udah Zi!! Lo jangan ladenin anak ini. Anak orang bisa mati lo tonjok habis-habisan kayak gini," Rian dan Iruan langsung memisahkan Rozi. Rozi memberontak. Namun Rian dan Iruan langsung menenangkan Rozi. Bisa mati anak orang kalau Rozi tidak di hentikan.
"Gue peringatkan ke lo. Jangan ganggu Maya. Atau lo dan keluarga lo akan tahu akibatnya," ancam Rozi lalu pergi dari hadapan cowok itu.
"Inget tuh. Lo dan keluarga lo," ancam Rian dan Iruan membiarkan cowok itu tergeletak di atas lantai, dengan sudut bibir yang berdarah dan hidung yang bercak merah.
"Gue ngak akan berhenti sampai Maya lo menderita. Ha...ha...ha..."
"Gue ngak nyangka Tama bisa senekat itu," ucap Rian bingung.
"Gue kira tuh anak suka juga sama Maya. Tapi malah jadiin Maya korbannya. Jahat banget tuh anak."
"Brisik!!" cetus Rozi menatap tajam ke arah kedua sahabat nya.
Mereka berdua hanya menunduk patuh setelah Rozi pergi meninggalkan nya. "Bos!! lo mau kemana?"
"Rumah Maya."
"Kita ikut ya?" mohon Rian dan Iruan.
Tidak ada jawaban dari Rozi. Tujuan utamanya sekarang hanya rumah Maya. Memastikan bidadari nya dalam keadaan baik. "Gue rindu May."
__ADS_1
"Dasar tuh bos. Kalau soal Maya ajha. Cepet nya kayak mobil blong. Kalau ketabrak baru tahu rasa."
Plak.
"Lo nyumpahin bos lo sendiri mati *****," cetus Rian memukul keras kepala Iruan.
Iruan meringis memegang kepalanya. "Sakit *****."
Sedangkan di kediman Maya. Maya sudah sadar dari beberapa menit yang lalu. Maya merasa tenggorokan nya kering. efek dari pingsannya selama seharian. Belum jugak wajah nya yang pucat menambah kekhawatiran seseorang yang ada di depannya.
"May!! kamu kenapa bisa pingsan kayak gini?"
Maya tersenyum manis. Maya tidak ingin semua orang khawatir kepadanya termasuk Aisar. "Aku ngak apa-apa kok Sar. Mungkin besok atau nanti jugak sehat."
"Ngak apa-apa katamu May?? Kamu pingsan dari semalam dan sadar udah tengah hari May. Kamu sakit apa??" tanya Aisar khawatir. Umi dan Abi Maya sengaja tidak menceritakan apapun kepada Aisar. Langsung menyuruh Aisar menjenguk Maya dengan di dampingi umi.
"Kemarin aku hampir tertabrak setelah belajar kelompok sama teman-teman. Terus ada mobil yang lajunya sangat kencang, kebetulan aku paling pinggir. Dan aku di selamat oleh kak Rozi. Terus aku ngak ingat lagi."
"Iya Sar. Kakak senior di sekolah Maya."
"Anaknya baik sama Maya. Kemarin dia anterin Maya ke rumah, terus dia jugak yang jagain Maya sampai pagi," sambung Umi masuk ke dalam kamar Maya dengan membawa bubur untuk putrinya.
"Ini di makan ya sayang. Pasti kamu lapar."
Maya mengangguk dan tersenyum kepada uminya. Sedangkan Aisar yang mendengar pujian dari umi Maya merasa hatinya memanas mendengar nama itu. "Terus kak Rozi mana umi?? Maya mau berterima kasih ke kak Rozi karena udah nolongin Maya."
"Oh," singkat Aisar tidak suka Maya dekat dengan cowok senior itu.
"Sar!! gimana sekolah kamu sekarang??" tanya Maya penasaran.
"Alhamdulillah baik. Ya seperti biasa. Aku ngak usil lagi dan aku udah Minta maaf ke umi dan abi. Oh iya, ada salam dari umi. Katanya kapan-kapan Maya main ke rumah ya??" kata Aisar penuh harap.
"Waalaikum salam. Bilang sama umi, Maya besok hari minggu mau silahturahmi ke sana bersama umi dan abi."
__ADS_1
"Baiklah," rencana Aisar selalu dekat dengan Maya berhasil, pokoknya Aisar tidak menyukai cowok yang bernama Rozi itu. Aisar tidak ingin Maya dimiliki oleh Rozi. Apalagi di sakiti. Kalau itu terjadi. Aisar yang akan pertama kali kasih perhitungan ke cowok itu.
"Sar!! Kak Rozi baik ya sama Maya?? Padahal Maya kan baru kenal sama dia. Tapi baik baget."
'Dia itu suka sama kamu Maya. Dia baik karena dia ingin misahin kita,' batin Aisar kesal dengan senior genit itu.
Karena tidak ada jawaban dari Aisar. Maya langsung sedikit meninggikan suaranya.
"Aisar!! kamu ngelamun ya?? Hayo, ngelamunin apa?"
"Ahh?? Maya!! jangan tinggi dong suaranya, kamu masih sakit, kalau keselek gimana??"
"Kan aku ngak makan apa-apa, ngak keselek kok. Uhuk, uhuk," belum beberapa detik Maya merasa tenggorokan nya mengering dan gatal.
Aisar langsung menyodorkan Maya air putih yang ada di samping meja. "Aku bilang apa Maya, jangan banyak tingkah deh."
"Maaf!!" kata Maya menunduk.
"May!!"
"Iya."
"Aku sayang kamu."
"Aku jugak sayang sama Aisar sebagai kakak aku," balas Maya tersenyum.
"Yah pupus deh harapan aku."
"Pupus kenapa Sar??" tanya Maya penasaran.
"Ngak ada," jawab Aisar lesu.
Wasalam!!
__ADS_1