
***Assalamualaikum****
"Jika kau hadirkan dia dalam hidupku. Maka aku berjanji akan selalu menjaganya."
****Rozi Wijaya****
"May!! bangun!! aku kangen May," Rozi masih duduk setia melihat wajah pucat itu menutup mata. "Aku ngak mau kehilangan orang yang aku cinta untuk kedua kalinya."
Rozi menunduk, dia memang bersalah, andai waktu itu Rozi memaksa Maya pulang bersama, pasti semua ini tidak akan terjadi. "Aghhh. Jangan May, kumohon."
"Seperti nya nak Rozi sayang sekali sama Maya Bi," ungkap umi yang dari tadi mengintip di balik pintu kamar Maya, menyaksikan anak muda itu sangat terpuruk dan bersedih.
Abi melihat ke arah Rozi, tidak ada kebohongan di sana, Abi sengaja mencari celahnya, namun nihil, anak itu tulus menyayangi Maya. "Semoga nak Rozi bisa
menjaga Maya untuk kedepannya.
Umi melongok mendengar perkataan suaminya. "Maksud abi apa?" tanya umi penasaran.
"Abi restuin mereka berdua umiku sayang."
__ADS_1
"Abi ini ada-ada ajha, Maya itu masih terlalu muda untuk menikah," tidak akan mungkin suaminya membolehkan anaknya pacaran yang akan mendekatkan anaknya kepada zina, dosa yang paling Allah benci. Itu pasti kode untuk menikah muda.
"Maya sudah besar umi, lebih baik nikah muda kan, dari padi pacaran."
"Udah abi, umi sayang sama Maya, umi ngak akan pernah setuju Maya nikah muda, umi masih ingin bahagiain Maya," setelah berkata seperti itu, umi langsung masuk melihat Maya, dan Rozi yang sudah mulai terlelap di samping Maya.
"Nak Rozi!! sebaiknya nak Rozi istirahat di ruang tamu ya?" bujuk umi dan sesekali membangunkan Rozi dari tidur nya. 'Kalau saya usir, saya juga tidak tega, biar bagaimana pun anak ini yang menyelamatkan Maya,' batin umi memandang Maya.
Rozi membuka matanya, sesekali mengucek matanya yang tidur beberapa menit yang lalu.
"Ini sudah jam berapa umi?" tanya Rozi masih melihat ke arah Maya. Namun, gadisnya masih terlelap.
Rozi mengangguk. "Makasih umi!! umi!! bolehkah saya tidur menemani Maya di sini, setelah shalat Isya, menunggu nya sadar, saya tidak akan macam-macam."
Umi membelai rambut halus Rozi dan sesekali tersenyum ramah. "Kalian bukan mahrom, jadi ngak baik berdua-dua'an, apalagi di dalam kamar," ungkap umi memperingati dengan halus.
Rozi mengangguk, Rozi masih baru dalam bidang agama, dia masih tidak mengetahui hal itu dan apa hukumnya. "Maafkan saya umi!! saya tidak bermaksud."
"Iya tidak apa-apa, remaja seperti kalian harus banyak-banyak belajar agama, mumpung masih muda."
__ADS_1
"Iya umi, iya udah Rozi pamit dulu, ingin shalat Isya, Assalamualaikum," Rozi melangkah keluar kamar, dan menundukkan pandangan nya . Walaupun ingin sekali dirinya memandang Maya, namun dia sadar hal itu tidak baik, sebelum mereka halal.
"Waalaikumsalam."
"Nak Rozi!! kamar tamunya ada di sebelah barat ya," kata abi melihat Rozi keluar dari kamar Maya.
"Iya abi, makasih abi, sudah membolehkan saya menginap."
"Iya nak, abi tahu perasaan kamu ke Maya, berdo'a lah kepada Allah, agar Allah mempermudah semuanya."
"Baik abi. Terima kasih."
****
"Ya Allah, jika memang kau takdir kan dia menjadi milikku, maka satukan kami di atas rahmat dan ridho-Mu. Dan apabila dia bukan jodoh hamba ya Allah, maka ikhlaskan hatiku ini untuk menerimanya. Ikhlaskan ya Allah, hamba menyayangi nya. Gantikan dengan seseorang yang jauh lebih baik darinya. Kau lebih tahu yang terbaik untuk hambamu, hamba ikhlas ya Allah."
Setelah selesai berdo'a, Rozi menghapus sisa-sisa air matanya, pertama kali dia berdo'a sampai menangis. "May!! ajari aku, ajari aku untuk lebih dekat dengan-Nya. Terima kasih telah datang di kehidupan aku, kamu merubah segalanya May."
***Wasalam***
__ADS_1