
"Jujur! aku sangat merindukan kehadiranmu, maafkan aku yang selalu membuatmu ketakutan dengan ke'egosianku."
Terlihat seorang pria memandang photo sahabatnya dari kecil, memakai gamis merah muda, berjilbab syar'i, tersenyum manis sehingga terlihat gigi gingsul di balik bibirnya yang imut.
"Maafkan aku May? aku bersalah, tak seharusnya aku kayak gini, seharusnya aku menjagamu bukan malah menyakitimu."
Penyesalan terdengar di mulut seorang remaja, yang dulu baik hati namun sekarang sifatnya berubah drastis karena dendam dan pergaulan.
Di taruhnya photo sahabatnya, pria itu mulai berbaring di kasurnya yang penuh dengan segala macam barang terlarang.
Di lihatnya sisi dari semua kamarnya, tergantung piala penghargaan tilawah, tafizh, dan piala penghargaan lainnya.
"Woy! bos Aisar kenapa lo bengong dari tadi?" tanya Riki memandang aneh bosnya.
"Bisa ngak lo jangan nyosor kayak cewek ah?" ketus Aisar kaget.
"Maaf bos, gue ngak sengaja," lirih Riki ketakutan.
"Bos! ngomong-ngomong Maya itu siapa lo?" sambung Rudi memandang photo Maya yang di pajang oleh Aisar, dan tidak ada orang yang boleh menyentuh photo itu.
"Dia sahabat gue dari kecil dan teman pondok gue, gue sayang banget sama dia, dan untuk lo semua jangan berani lo sentuh dia! atau lo semua akan mati dengan tragis di tangan gue."
__ADS_1
"Gila lo bos, itu cewek muslimah kayak ngak ada cewek yang lebih cantik ajha," ejek Riki mendengar perkataan Aisar yang tadi.
"Lo, jangan berani menghina Maya di hadapan gue!" ancam Aisar.
Semua anak buah Aisar langsung ketakutan dan memilih untuk diam sejenak.
"Ampun bos Aisar, gue ngak maksud menghina Maya."
"Lo sih, ngeyel di bilangin," bisik Rudi menyenggol punggung Riki.
"Ya, maaf gue ngak tau bos Aisar seram kayak moster."
"He,,, he,,, ngak ada bos."
Anak buah Aisar juga heran dengan bosnya, katanya sayang tapi malah sering nakutin orang yang dia sayang dengan cara gangguin Maya setiap pulang sekolah.
Aisar dan Maya bersekolah di sekolah yang berbeda namun berdekatan. Maya sekolah di SMA Cendrawasih dan Aisar sekolah di SMA Kasuari.
"Bos! sepertinya lo bakalan kalah saing deh sama anak Cendrawasih yang nolongin Maya kemarin."
"Maksud lo Rozi, bos genx motor itu?" tanya Aisar kepada anak buahnya.
__ADS_1
"Iya bos, lawan lo ngak enteng sekarang kayak yang dulu dulu itu."
Dari dulu memang Aisar selalu memukul cowok yang berani mendekati sahabatnya, dan mereka itu tipe cowok yang tidak bisa bela diri seperti Aisar, namun sekarang saingannya Rozi juara MMA minggu lalu, pasti akan sulit mengalahkannya.
"Bos! lo nyerah ajha deh! buat dapetin Maya, Maya jugak kayaknya udah terlanjur takut sama lo."
"Bener tuh bos, yang di katakan sama Riki, mungkin sekarang lo harua bisa move on dari Maya."
Prak,,,, prak,,,, suara meja di pukul oleh Aisar.
"Sampai kapanpun, gue ngak rela biarin Maya dekat sama pria manapun selain gue!" tersenyum licik.
"Kok gue takut ya? lihat bos Aisar kayak gitu," bisik Riki lagi ke Rudi yang ada di sampingnya.
"Diem lo! lo mau mati ah?"
Aisar kembali mengambil photo Maya yang iya pajang di tengah kamarnya, dan mulai memandangi setiap inci wajah Maya yang tersenyum kepadanya.
"Hanya aku yang berhak memilikimu! siapapun laki-laki yang mencoba merebutmu akan aku musnahkan dari dunia ini termasuk Rozi," tersenyum licik.
__ADS_1