HIJRAHKU BERSAMAMU

HIJRAHKU BERSAMAMU
Part 13


__ADS_3

Mentari pagi bersinar dengan terang, suara burung bersahutan menyambut waktu subuh, di saat para malaikat turun membawa rahmat dan mendo'akan manusia yang senantia melaksanakan perintah Allah.


Maya sudah bersiap dengan baju putih abunya dan manset di balik tanganya begitu pula masker yang telah iya siapkan untuk menutupi wajahnya untuk sementara waktu di perjalanan ke sekolah.


"Alhamdulillah, abah! bunda! Maya berangkat sekolah ya?" lirih Maya lembut.


Sedangkan abah dan bundanya sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing.


"Iya nak, maaf ya? bunda sama abah lagi sibuk!"


"Iya ngak apa-apa bun, gimana nanti Maya undang Ochy dan Ara buat yasinan nanti malam, pasti mereka seneng deh bun!" ucap Maya tersenyum.


"Iya udah boleh, sekalian ajakin Aisar juga ya! Bunda dan Abah kangen sama dia."


Ya Allah gimana ini? ngak mungkin kan aku nolak permintaan Bunda, ya sudahlah nanti aku kasih tau Aisar kalau ketemu di jalan.


"Maya sama Aisar ada masalah ya? kok bengong nak?"


"Insyaalah bun! Maya dan Aisar ngak ada masalah bun."


Setelah selesai ngobrol dengan bundanya Maya langsung berangkat ke sekolah.

__ADS_1


Di perjalan Maya kebetulan bertemu dengan Aisar, namun Aisar tak menengok sama sekali, Biasanya kalau lihat Maya lewat pasti dia gangguin namun hari ini sikap Aisar cukup berbeda dari sebelumnya.


"Aisar! Aisar!" Maya memanggil lembut ke arah Aisar.


"Bos! lo di panggil tuh sama Maya!"


"Mungkin ada sesuatu bos yang penting, makanya dia tumben manggil lo, biasanya kan lo yang ganggu dia


duluan," ucap Riki memberhentikan motor mereka berlima.


"Ah,,, gue males, gue ngak tahan lihat pandangannya ke gue," ucap Aisar tak mau menenggok Maya sedikitpun.


"Kita jalan ajha yuk!" perintah Aisar lemas.


"Mungkin Aisar ngak mau di panggil sama aku, makanya dia ngak nenggok sedikipun, padahal aku hanya mau meneruskan amanah dari bunda," ucap Maya sedih lalu berbalik arah dan menunduk untuk melanjutkan perjalanannya ke sekolah.


Walaupun Aisar selalu menganggu Maya, namun gadis itu tak sedikitpun dendam kepadanya.


Maya berhenti memanggil Aisar, entah apa yang membuat Aisar cuek kepadanya.


"Tuh kan bos, Maya jadi sedih kan, gue ngak tega apa lihat cewek sedih kayak gitu."

__ADS_1


"Maya itu kayaknya beda banget sama cewek yang lain, kita itu adem banget lihatnya dan apabila dia sedih, kita kayak ngak tega buat nyakitin dia," lirih Rudi melihat Maya sekilas.


Aisar melihat kepergian Maya jujur hati kecilnya merasa sedih melihat sahabatnya pergi.


Brem.... brem..... Suara motor Aisar yang langsung iya gas dan mendekat ke arah gadis muslimah itu.


"Tuh kan, bener yang gue bilang mana bisa si bos Aisar tega lihat pujaan hatinya sedih, pasti dia akan langsung bertindak, ya kayak gitu, hampir membuat jantung kita berempat hampir copot."


Suara tawa terdengar dengan lelucon dari Riki, anak buah Aisar yang paling cerewet kaya mak mak arisan.


"Apa sekarang Aisar sudah melupakan aku sebagai sahabatnya," ucap Maya sedih lalu menghapus air matanya.


"May! May!" suara panggilan itu berasal dari Aisar yang berdiri tersenyum di belakang Maya.


"Aisar? kau kah itu?" ucap Maya sedih dan berbalik badan.


"Iya ini aku, Aisar sahabat Maya."


Maya lalu mendekati sahabatnya dengan senyuman haru dan mulai menghapus percikan air mata yang ada di balik maskernya.


__ADS_1



__ADS_2