
Sani menatap jam yang melingkar di pergelangan tangan,jam delapan malam. Bergegas di menutup toko kelontong tempat dia bekerja.
" Mbak Sani jangan lupa pembukuan hari ini ya ", ujar Sonia pemilik toko kelontong.
" Siap Mbak Bos ", sahut Sani sambil terkekeh.
Setelah rolling door sudah setengah menutup, Sani bergegas duduk di meja kasir menulis uang yang masuk dan keluar untuk hari ini. Setelah selesai mencatat pengeluaran dan pemasukan Sani pun menutup buku catatan pemasukan. Kemudian menghitung uang yang ada di laci kasir.
" Ini Mbak uangnya. Totalnya ada sepuluh juta empat ratus ribu ", ucap Sani sambil menyerahkan sejumlah uang kepada Sonia.
Sonia menerima uang itu lalu mengambil selembar uang berwarna biru lalu di serahkan kepada Sani.
" Ini Mbak bonus buat kamu ".
" Wah makasih Mbak Bos ", ucap Sani girang. Kemudian memasukkan uang pemberian Sonia ke saku celana jeans nya.
" Kalau begitu saya pamit dulu Mbak".
" Iya Mbak hati hati ".
Sani pun keluar dari toko dan berjalan meninggalkan tempat kerja nya itu. Jarak rumah dari toko tak terlalu jauh cuma sekitar 700 meter dan Sani hanya berjalan kaki.
" Lewat kuburan atau lewat jalan raya ya? Kalau cepat nya sih cepat lewat kuburan ", gumam Sani. Akhirnya dia memilih untuk lewat kuburan saja,siapa tau ketemu Ani teman satu kampung Sani yang rumahnya persis berada di depan kuburan jadi dia bisa mampir. Dan benar saja Ani sedang duduk di belakang rumahnya yang menjadi satu dengan kuburan. Sani langsung menghampiri Ani.
" Hai Mbak Ani ", sapa Sani.
Ani yang sedang asik menatap layar ponselnya langsung mendongak menatap Sani.
" Baru pulang kamu?" tanya Ani.
Sani mengangguk lalu duduk di samping Ani.
" Mau minum gak? Jika mau aku ambilkan ", tawar Ani.
" Boleh tapi air putih saja ", sahut Sani.
" Oke ".
Ani pun bergegas masuk ke dalam mengambil air putih untuk Sani.
* Kuburan yang di maksud di sini adalah kuburan yang sudah lebih dari 25 tahun tidak di pakai lagi dan biasanya buat nongkrong anak anak sekolah yang terletak di samping kuburan itu *.
" Nih minumnya ", ucap Ani.
" Makasih Mbak ", ucap Sani lalu meminum minumnya sampai ludes. Ani hanya geleng geleng melihat Sani.
" Eh kamu tau gak.."
" Enggak ", potong Sani.
Ani langsung menampol temannya itu.
" Dengerin dulu atuh ", ucap Ani.
" Iya iya aku dengerin silahkan lanjutkan ", ucap Sani sambil terkekeh.
" Pak Karso kemarin malam lewat sini katanya lihat hantu ".
__ADS_1
" Di mana?"
" Itu di belakang cungkup ( rumah kecil yang ada di kuburan tempat menyimpan keranda )".
" Hah beneran?" tanya Sani.
" Beneran Pak Karso sendiri yang cerita ke aku tadi sore saat aku beli di warungnya".
" Emang lihat hantu apa?" Tanya Sani penasaran.
" Katanya sih poci ".
" Padahal kita selalu duduk di sini tiap malam aman aman saja ya gak pernah ada penampakan ", sahut Sani.
" Iya awalnya aku tak percaya karena kita selalu nongkrong di sini aman saja tapi si Budi juga pernah ngalamin kejadian serupa di belakang cungkup. Tadi kebetulan ada Budi juga di warung nya Pak Karso dan Budi membenarkan cerita Pak Karso ",ungkap Ani.
Budi adalah tukang parkir sebuah warung makan yang ada di depan Kuburan dan dia sering numpang ke toilet umum yang ada di kuburan persis di samping cungkup.
" Udah ah pulang aja ", ucap Sani.
" Takut ya..takut ", ledek Ani.
Sani hanya nyengir saja lalu pamit pulang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Seminggu kemudian..
Gerimis turun dari jam lima sore tadi sampai jam setengah delapan malam belum juga reda. Toko kelontong milik Sonia pun sepi pembeli.
" Mbak Sani tutup saja yuk ", ucap Sonia.
" He em udah sepi banget tokonya. Apalagi gerimis seperti ini ".
Sani pun mengangguk kemudian mulai beres beres toko.
Selesai beberes toko dan menulis pengeluaran hari ini Sani pun langsung menutup dan mengunci rolling door toko kemudian kuncinya di serahkan Sonia.
" Mbak Sani bawa payung gak?" tanya Sonia.
" Bawa Mbak ", jawab Dani sambil mengambil payung lipatnya dari dalam tas.
" Oh ya udah ".
" Aku pulang ya Mbak Sonia ".
" Iya San hati hati ".
Sani pun membuka payungnya dan berjalan meninggalkan toko.
" Lewat kuburan atau lewat jalan raya ya?" gumam Sani.
" Lewat kuburan saja deh biar Deket ".
Akhirnya Sani pun melewati kuburan. Saat hampir melewati belakang rumah Ani, Sani melihat ada putih putih seperti kain melayang di belakang rumah Ani.
" Mbak Ani tau hujan gini kok bajunya gak di angkat sih ", gumam Sani.
__ADS_1
Sani mendekati kain putih itu hendak mengangkat jemuran Ani dan meletakkan di kursi yang ada di belakang rumah Ani. Tapi saat Sani sudah mendekat betapa terkejutnya dia. Kain putih itu bukan jemuran tapi...POCONG!
Tanpa pikir panjang Sani pun langsung berlari kencang meninggalkan tempat itu. Saat sudah jauh dari kuburan dia pun berhenti,nafasnya tersengal sengal seperti mau putus.
" Loh Sani, kamu kenapa?" tanya Bu Warni tetangga Ani.
" Eh Bu Warni..Gak apa apa Bu ", jawab Sani dengan nafas terengah-engah.
" Kok seperti habis lari nafasnya sampai tersengal-sengal gitu?"
" Iya Bu latihan lari ", jawab Sani sambil terkekeh padahal dalam hati dia masih merasa ketakutan.
" Hem Mbak Sani ini ada ada saja ", kata Bu Warni.
" Ya udah Bu saya permisi ",pamit Sani saat nafasnya sudah mulai normal kembali.
" Iya Mbak hati hati. Jalan aja mbak jangan lari jalanan licin takut nya jatuh ",ledek Bu Warni sambil tertawa Sani pun ikut tertawa lalu Sani pun melanjutkan perjalanannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hari ini Sani libur kerja. Dia mengambil ponselnya dan membuka aplikasi hijau lalu mengirim pesan untuk Ani.
[ Mbak di rumah gak?"] tanya Sani.
[ Iya,kenapa?] balas Ani.
[ Mau main ke rumahmu ]
[ Kamu libur?] tanya Ani.
[ Iya aku libur ]
[ Ya udah main sini aja ].
[ Oke aku otw sekarang ]
Lalu Sani pun bergegas ganti pakaian dan pergi ke rumah Ani.
" Mbak Ani, semalam aku lihat pocong di situ ", ucap Sani saat sudah sampai di rumah Ani.
"Serius?" tanya Ani sambil meletakkan segelas air es dan satu toples kacang tanah di atas meja.
"Iya aku kira jemuran mu yang lupa di angkat eh ternyata pocong ".
" Tuh kan benar apa yang di bilang Pak Karso ".
" Gak lagi lagi deh pulang kerja lewat sini ".
" Takut ya?"
" Ya iyalah suatu saat giliran Mbak Ani yang di kasih lihat bentukan pocong itu ", kata Sani sambil tertawa.
" Kurang asem kamu ", ucap Ani sambil melempar Sani dengan kacang tanah dan yang di lempar hanya tertawa.
Semenjak itu Sani pun tak berani lewat kuburan, padahal kuburan itu jalan pintas agar cepat sampai rumah.
( SEKIAN )
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...