
Jaman dulu tahun 70an sampai tahun 80an yang namanya bidan belum begitu populer hanya dari kalangan orang-orang kaya saja yang persalinannya di bantu bidan / ke rumah sakit. Bagi yang ekonominya menengah ke bawah persalinannya hanya di bantu dukun beranak karena biaya yang di keluarkan seiklas nya atau semampunya. Kisah ini di ceritakan oleh Mbah Giat tahun 70an. Saat itu Mbah Giat yang berprofesi sebagai dukun bayi masih berumur 30an. Awalnya yang menjalani profesi sebagai dukun beranak adalah Mbah Mus ( Ibunda Mbah Giat ). Karena Mbah Mus yang sudah sepuh ( tua ) jadi profesi ini di teruskan Mbah Giat. Langsung saja ke ceritanya Mbah Giat.
Mbah Giat adalah seorang Ibu rumah tangga berumur 30 tahun yang mempunyai seorang anak berumur 10 tahun. Mbah Pawiro, suami Mbah Giat bekerja sebagai petani. Mbah Giat pun membantu perekonomian suaminya sebagai dukun beranak yang ilmunya di turunkan oleh Mbah Mus. Mbah Giat tidak mematok harga khusus saat menolong Ibu Ibu yang akan melahirkan. Dia di bayar berapa pun akan di terimanya. Bahkan tak di kasih upah pun Mbah Giat tak masalah karena Mbah Giat mempunyai sifat suka menolong sesama.
" Mak aku berangkat ke sawah dulu ya ", pamit Mbah Pawiro.
" Iya Pak hati hati nanti siang aku ke sawah ngirim makan siang ", ujar Mbah Giat.
Mbah Pawiro mengambil pacul nya lalu keluar dari rumah. Sepeninggalan Mbah Pawiro, Mbah Giat melakukan aktifitasnya yaitu memasak dan beberes rumah.
" Mak..Mak.. ", Inem memanggil ibunya.
" Apa Nem?" tanya Mbah Giat.
" Di cariin simbok ", sahut Inem.
Mbah Giat bergegas ke depan. Di lihatnya Mbah Sukar, Ibunya Mbah Pawiro duduk di di dipan depan rumah.
" Eh simbok ", kata Mbah Giat.
" Lagi apa kamu Gi?" tanya Mbah Sukar.
" Ini mbok lagi masak di dapur ", kata Mbah Giat.
" Aku kangen sama Inem jadi aku ke sini. Kenapa udah dua Minggu kalian tak datang ke rumah?" tanya Mbah Sukar.
" Kerjaan sawah lagi banyak Mbok. Pulang pulang sudah capek jadi belum sempat ke rumah simbok ", ucap Mbah Giat.
" Emang sawah lagi apa sekarang?"
" Lagi tandur ( menanam padi ) Mbok. Giat tinggal dulu ke dapur dulu ya mbok ", kata Mbah Giat.
" Iya iya kami selesaikan dulu masaknya nanti gosong ".
" Inem kamu temani simbok dulu ya ", kata Mbah Giat pada anaknya.
" Siap Mak ", sahut Inem.
Mbah Giat bergegas masuk menyelesaikan memasaknya.
" Mbok di minum dulu teh nya ", ucap Mbah Giat sambil meletakkan secangkir teh di samping Mbah Sukar.
Mbah Sukar mengangguk lalu menyesap teh nya.
__ADS_1
" Pawiro udah di sawah Gi?" tanya Mbah Sukar.
" Sudah Mbok ".
" Syukurlah sekarang dia sudah rajin bekerja. Gak kayak dulu waktu masih bujang di suruh bantu almarhum bapaknya susahnya minta ampun ", kata Mbah Sukar.
" Sejak Inem lahir, Kang Pawiro jadi rajin ke sawah Mbok. Udah punya tanggungan soalnya ".
" Semoga anakmu besok jadi orang sukses Gi biar bisa ngangkat derajatmu dan Pawiro ".
" Iya Mbok doakan saja ".
Setelah dua jam Mbah Sukar bertandang di rumah anak dan menantunya, Mbah Sukar pun pamit pulang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Selepas magrib hujan turun dengan derasnya. Mbah Pawiro yang biasanya duduk di dipan teras rumah, memilih duduk di dapur di temani Mbah Giat dan anaknya.
Dok dok dok..
" Mbah..Mbah Giat.."
Terdengar suara pintu di ketuk oleh seseorang sambil memanggil nama Mbah Giat.
Mbah Pawiro bergegas membukakan pintu. Terlihat seorang laki laki bertubuh tinggi besar berdiri di depan pintu.
" Ada kisanak. Ada perlu apa ya ?" tanya Mbah Pawiro.
" Anu Mbah saya mau minta bantuan Mbah Giat untuk membantu istri saya melahirkan ", sahut Laki laki itu. Tanpa bertanya tanya lagi Mbah Pawiro pun memanggil istrinya. Mendengar ada yang ingin melahirkan Mbah Giat bergegas berganti pakaian. Lalu ke depan.
" Pak, simbok keluar dulu ya ", pamit Mbah Giat.
" Iya Mak hati hati ".
Mbah Giat membuka payungnya lalu membonceng sepeda laki laki itu. Laki laki itu mengayuh sepedanya dengan cepat.
" Maaf kisanak rumahnya di mana ya?" tanya Mbah Giat. Perasaan jauh banget rumah laki laki itu.
" Sebentar lagi sampai Mbah ".
Benar saja tak berapa lama sampai juga di rumah laki laki itu. Mbah Giat sempat takjub dengan rumah itu, rumah besar sudah lengkap dengan lampu terang benderang dan ada televisinya ( Jaman dulu masih jarang orang memakai listrik dan mempunyai televisi. Hanya orang kaya saja yang mempunyai televisi ).
" Mari Mbok saya antar ke kamar istri saya ", kata Laki laki itu.
__ADS_1
Mbah Giat mengangguk lalu mengikuti pria itu. Sampai di sebuah kamar Mbah Giat melihat ada seorang wanita cantik sedang merintih rintih kesakitan. Mbah Giat bergegas menghampiri wanita itu dan membantu persalinan wanita cantik itu.
" Ooee oooeee ", terdengar suara bayi menangis. Mbah Giat membersihkan bayi yang baru lahir itu. Selesai di bersihkan di berikannya bayi itu kepada ibunya.
" Makasih ya Mbok ", ujar wanita itu. Mbah Giat mengangguk lalu tersenyum.
" Mari Mbok saya antar pulang ", ucap Laki laki yang ke rumahnya tadi.
Setelah berpamitan kepada wanita yang baru saja melahirkan itu Mbah Giat langsung keluar dan membonceng sepeda si suami wanita itu. Sampai di depan rumah, Mbah Giat langsung turun.
" Mbah maaf saya tidak punya apa apa untuk ngasih upah simbok. Tapi saya janji besok pagi saya antar beras ke sini ".
" Udah gak usah di pikirkan kisanak. Yang penting istri kisanak melahirkan dengan selamat saja Simbok sudah seneng ", kata Mbah Giat tulus.
Laki laki itu pun pamit pulang. Mbah Giat bergegas masuk ke dalam rumah dan membersihkan seluruh badannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
" Mak.. Mak.." seru Mbah Pawiro memanggil Mbah Giat.
Mbah Giat yang sedang merebus air di dapur bergegas menghampiri suaminya.
" Ada apa sih Pak pagi pagi kok teriak teriak?" tanya Mbah Giat.
" Sini deh Mak, lihat ini !" titah Mbah Pawiro.
Mbah Giat langsung keluar melihat ada apa di teras rumahnya. Mata Mbah Giat langsung terbelalak melihat ada dua karung beras dan berbagai macam sayuran di atas dipan teras rumahnya.
" Ini pasti dari orang yang minta tolong semalam Pak ", kata Mbah Giat.
" Ayo Mak kamu ganti pakaian kita ke rumahnya sekarang untuk mengucapkan terima kasih ", ucap Mbah Pawiro.
Mbah Giat mengangguk lalu masuk ke dalam dan berganti pakaian. Setelah pamit kepada Inem, sepasang suami istri langsung pergi menuju rumah laki laki semalam dengan berboncengan sepeda.
Tapi sesampainya di sana, Mbah Giat maupun Mbah Pawiro langsung terkejut. Yang di lihatnya bukan rumah megah tapi sebuah kuburan.
" Benar kamu semalam kesini?" tanya Mbah Pawiro.
" Benar Pak. Aku masih ingat betul jalannya dan aku kesini. Tapi kok bukan rumah megah yang nampak tapi sebuah kuburan?" tanya Mbah Giat bingung.
" Berarti yang kamu tolong semalam bukan manusia Mak. Mending sekarang kita doakan mereka tenang di sana ", ucap Mbah Pawiro.
Mbah Giat pun mengangguk.
__ADS_1
( SEKIAN ).
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...