
Devi yang mendengar kabar ibunya drop langsung bergegas menghubungi suaminya yang sedang bekerja.
" Assalamualaikum Sayang ", ucap Toni dari telepon.
" Waalaikumsalam Mas. Mas aku barusan mendapat kabar dari Rani jika ibu drop. Aku minta ijin sama Mas mau pulang ke rumah Ibu ", ucap Devi.
"Oke Sayang kamu hati hati ya pulangnya. Nanti pulang kerja aku langsung nyusul kamu ke rumah Ibu ", kata Toni.
" Makasih ya Mas kalau begitu aku tutup dulu teleponnya mau siap siap ke rumah ibu assalamualaikum ".
" Waalaikumsalam ".
Devi pun bergegas mematikan sambungan teleponnya lalu bersiap siap ke rumah ibunya.
" Ran gimana keadaan ibu?" tanya Devi.
" Ibu drop lagi Mbak. Darah tingginya kambuh di bawa ke rumah sakit gak mau ", ucap Rani.
Semenjak Pak Harno meninggal, Bu Harun pun hanya tinggal berdua dengan anak bungsunya si Rani. Sedangkan Devi anak pertamanya tinggal di kota ikut suaminya.
Devi langsung masuk ke kamar Bu Harun di ikuti Rani. Tampak Bu Harun sedang tiduran di atas ranjang. Saat melihat anak sulungnya Bu Harun pun langsung tersenyum.
" Bu.." panggil Devi.
" Kapan kamu datang Dev?" tanya Bu Harun.
Bu Harun bangun dari tidurnya lalu duduk di atas ranjang dengan di ganjal bantal punggungnya. Devi langsung mencium tangan Ibunya.
" Barusan Bu. Ibu kenapa kok darah tingginya bisa kambuh? Ibu mikirin apa?" tanya Devi.
" Ibu gak mikirin apa apa Dev. Ibu gak apa apa kok kamu gak usah kuatir. Nanti juga sembuh sendiri. Mana suamimu?"
" Mas Toni masih kerja Bu nanti sore baru ke sini. Sekarang kita ke rumah sakit yuk Bu ", ajak Devi.
Bu Harun langsung menggelengkan kepalanya.
" Tak perlu Dev, ibu gak apa apa ".
" Ibu sayang gak sama Devi dan Rani?" tanya Devi.
" Pertanyaan macam apa ini? Ya jelas sayang toh Nduk. Kalian itu anak anak Ibu bagaimana bisa ibu tidak sayang sama kalian".
" Kalau Ibu sayang sama aku dan Rani ibu harus mau ke rumah sakit buat berobat. Apalagi sekarang aku sedang hamil cucu Ibu. Aku mau kelak saat melahirkan Ibu sehat dan bisa menemani aku ", ucap Devi.
"Kamu hamil Dev?"
__ADS_1
Devi mengangguk nampak Bu Harun begitu bahagia mendengar anak sulungnya hamil.
" Ibu mau ya ke rumah sakit", ajak Rani.
"Iya Ibu mau ".
Akhirnya Rani dan Devi pun membawa Bu Harun ke rumah sakit.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setelah sampai di rumah sakit, Bu Harun pun di haruskan rawat inap karena selain darah tinggi gula darah Bu Harun pun agak tinggi. Devi dan Rani setuju saat Dokter mengatakan jika Bu Harun harus di rawat inap agar Bu Harun dapat pengawasan dari Dokter lebih intensif.
" Ibu mau pulang saja Dev ", pinta Bu Harun.
" Tidak Bu. Ibu harus dirawat di sini dulu. Penyakit Ibu itu penyakit serius dan butuh penanganan dokter yang lebih intensif ", ujar Devi.
" Ibu pokoknya harus nurut sama Mbak Devi. Itu demi kebaikan Ibu ", timpal Rani. Bu Harun pun hanya bisa pasrah jika kedua anaknya bersikukuh seperti ini.
Saat memasuki waktu magrib, Rani ijin sama Devi untuk pulang mengambil keperluan Bu Harun. Devi pun mengangguk lalu Rani keluar dari ruangan Bu Harun di rawat.
Ting..
Ponsel Devi berbunyi, ada pesan dari suaminya.
[ Setelah mendapat penanganan dari dokter sudah lebih baik Mas. Oh iya aku pulangnya nanti nunggu Rani dulu ya Mas, Rani baru ambil keperluan Ibu di rumah ] Balas Devi.
[ Iya Sayang gak apa apa. Nanti kamu pulangnya hati hati ya].
[ Iya Mas ].
Devi menyimpan ponselnya kembali ke dalam tas.
Tak lama kemudian Rani datang, lalu Devi pun berpamitan kepada Ibu dan adiknya itu untuk pulang dahulu. Besok pagi dia kembali lagi ke rumah sakit.Bu Harun dan Rani pun mengangguk lalu Devi pergi meninggalkan Ibu dan adiknya itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jam menunjukkan pukul satu malam. Bu Harun membuka matanya saat merasakan ada yang menyuntik tangannya.
" Eh Ibu bangun ya. Maaf ya Bu kita menyuntik tangan Ibu ", kata satu perawat sambil tersenyum.
" Iya gak apa apa Mbak ", sahut Bu Harun.
" Oh iya Bu ini obatnya di minum dulu ya ".
Perawat yang satunya memberikan obat kepada Bu Harun sedang yang satunya membantu Bu Harun untuk duduk di tempat tidur. Bu Harun menerima obat itu dan meminumnya.
__ADS_1
" Ini Bu air putihnya ".
Bu Harun langsung meminum air putih yang di sodorkan perawat cantik itu.
" Kalau begitu kami keluar dulu ya Bu ", ujar kedua perawat itu.
" Tunggu, maaf nama kalian siapa?" Tanya Bu Harun.
" Saya Nindi dan teman saya ini Anggraini ", ujar perawat bernama Nindi itu lalu mereka pun berpamitan kepada Bu Harun dan Rani untuk keluar dari ruangan itu.
Begitu malam kedua, kedua perawat itu setiap jam satu malam selalu datang memberi obat dan suntikan kepada Bu Harun. Dokter Samsul yang menangani Bu Harun sempat merasa heran karena baru dua tiga hari di rawat Bu Harun sudah benar benar
sembuh dan sudah nampak segar. Dokter pun sudah memperbolehkan Bu Harun pulang.
" Terima kasih ya dokter. Oh iya Dok boleh saya tanya sesuatu?" tanya Bu Harun.
" Silahkan Bu ", sahut Dokter Samsul.
" Setiap malam jam satu ada dua perawat yang memberi obat dan suntikan kepada saya yang membuat saya bisa segera sembuh seperti ini, apa dokter bisa menyampaikan terima kasih saya kepada kedua perawat itu?"
Dokter Samsul menatap heran kepada Bu Harun.
" Maaf Bu tapi di rumah sakit ini tidak ada perawat yang memberikan obat atau menyuntik pasien jam satu malam. Paling malam mereka memberikan obat jam tujuh malam ", kata Dokter Samsul.
" Tapi beneran dok apa yang di bilang Ibu saya. Setiap jam satu malam ada dua perawat ke sini ", kata Rani.
" Siapa nama perawat itu?"
" Nindi dan Anggraini Dok ".
Wajah Dokter Samsul seketika berubah mendengar nama tersebut. Kedua perawat itu sudah meninggal beberapa tahun yang lalu.
" Maaf Mbak, perawat itu selalu muncul dan kembali lagi ke arah timur?" tanya Dokter kepada Rani dan Rani pun mengangguk. Dokter Samsul tersenyum lalu menjelaskan kepada Rani dan Ibunya bahwa sudah biasa kedua perawat itu menyuntik dan memberi obat kepada pasien yang ada di ruangan ini.
" Kedua perawat itu sebenarnya sudah meninggal beberapa tahun yang lalu. Dan jasad perawat itu pernah berada di kamar mayat beberapa hari dan letak kamar mayat itu persis di timur ruangan ini ", ucap Dokter Samsul.
Bu Harun dan Rani pun tersentak kaget. Rani yang masih tak percaya pun langsung keluar lalu berjalan ke timur. Benar saja hanya ada ruang kamar mayat dan ruangan Ibunya di rawat. Tidak ada ruangan lain selain itu. Rani pun kembali masuk ke ruangan Ibunya.
" Benar yang di bilang dokter Ran?" tanya Bu Harun.
Rani hanya mengangguk. Jadi yang menyuntik dan memberi obat pada Bu Harun selama dua malam di rumah sakit adalah....
( SEKIAN )
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1