Horror Story' S ( Kumpulan Cerita Mistis Dari Kisah Nyata )

Horror Story' S ( Kumpulan Cerita Mistis Dari Kisah Nyata )
30. Si tukang ketuk pintu kamar kos.


__ADS_3

Karena merasa ketakutan akhirnya Cici pun keluar kamar. Tampak Hana juga sedang di luar kamar.


" Mbak Hana ", panggil Cici.


Hana yang sedang duduk sambil bermain ponsel di teras kamarnya menoleh menatap Cici yang menghampirinya.


" Mbak Cici kok kedengarannya kamar Mbak Cici berisik sekali?" tanya Hana.


Cici duduk di samping Hana lalu menceritakan kejadian yang barusan dia alami.


" Mungkin maksud dari tulisan itu Mbak Hana jangan takut sama dia ", ucap Hana.


" Tapi aku takut Mbak Hana ", kata Cici.


" Ya udah kalo Mbak Cici takut nanti malam tidur kamar ku saja ".


Cici dengan cepat langsung menggelengkan kepalanya. Dia merasa tak enak hati jika harus tidur di kamar Hana apalagi dia baru saja kenal.


" Terus Mbak Cici gimana? Katanya takut?"


" Entahlah Mbak Hana semoga nanti Dia tidak mengganggu ku lagi ".


" Ya semoga saja ".


Hana pun kemudian mengajak Cici untuk cari makan dan Cici pun setuju.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


" Hai nama kamu siapa?" tanya seorang cewek kepada Cici.


" Aku Cici kamu sendiri siapa ?"


" Kenalkan aku Sania ", sahut cewek itu sambil mengulurkan tangan. Cici menerima uluran tangan Sania.


" Kamu anak kos baru ya di sini?"tanya Cici.


" Aku sudah lama kos di sini, sudah sepuluh tahunan ".


" Kok aku gak pernah lihat kamu?"


" Karena kamu takut sama aku ", ucap Sania sambil menunduk sedih.


" Padahal aku cuma pengen kenal sama kamu. Tapi kamu malah ketakutan sama aku. Aku cuma ingin minta tolong saja sama kamu", lanjut Sania.


" Loh emang aku pernah ketemu kamu? Kok kamu bisa bilang aku takut sama kamu?" tanya Cici bingung. Dia belum pernah ketemu Sania sama sekali kenapa Sania bisa bilang kalau Cici takut padanya.


Sania yang semula menunduk kemudian mendongakkan kepalanya menatap Cici. Wajah Sania yang semula terlihat cantik menjadi sangat pucat bahkan sebagian kulit wajah Sania mengelupas,sungguh menyeramkan.

__ADS_1


" Aaagggghhhh", pekik Cici ketakutan sambil menutup wajahnya.


"Cici jangan takut sama aku. Aku cuma ingin minta tolong sama kamu. Ku mohon jangan takut ", tangis Sania pecah.


Pelan pelan Cici membuka tangannya. Dia memberanikan diri menatap Sania meski wajahnya menyeramkan.


" Kamu kamu yang suka mengetuk pintu kamar kos di sini?" tanya Cici.


Sania menganggukkan kepalanya.


" Kenapa?"


" Karena aku ingin berteman dan aku ingin meminta tolong pada mereka tapi mereka tak merespon aku. Makanya aku ingin minta tolong sama kamu ", ucap Sania lirih.


" Kamu mau minta tolong apa?" tanya Cici.


" Di atas meja itu ada uang sejumlah sepuluh juta. Tolong berikan kepada orang tuaku sebesar delapan juta untuk biaya sekolah adikku. Sisanya dua juta kamu bayarkan kekurangan uang kos ku yang belum aku bayar sebelum aku meninggal ", ucap Sania.


" Dari mana kamu dapat uang itu?" tanya Cici.


" Itu uang ku yang di pinjam temanku. Sebelum kejadian naas yang membuatku meninggal, aku menagih hutang itu kepada temanku karena aku sangat butuh uang itu untuk biaya sekolah adikku dan bayar uang kos. Dia pun memberi kan uang itu dengan marah sehingga saat aku pulang dari rumahnya dia menyuruh orang untuk membunuhku kemudian membuang jasadku perkebunan jagung yang tak jauh dari rumahku. Jasadku di temukan pemilik jagung tapi uangku raib. Aku ingin uang ku kembali dan aku menghantui teman ku. Karena ketakutan temanku pun mengembalikan uang itu dengan cara meletakkan uang itu di atas mejamu.Temanku tadi masuk ke sini meletakkan uang itu di atas meja ini ", cerita Sania.


" Di mana alamat rumahmu?" tanya Cici.


Sania pun menyebutkan sebuah alamat kemudian menghilang.


Cici membuka matanya, ternyata hanya mimpi saja. Cici bangun dari ranjangnya kemudian duduk di kursi yang ada di depan meja rias. Betapa terkejutnya Cici saat melihat setumpuk uang di atas mejanya. Uang itu sebesar sepuluh juta dan ada sepotong kertas bertuliskan " TOLONG!" di bawah tumpukan uang itu.


Jam menunjukkan pukul empat sore saat Cici memacu motornya menuju alamat rumah orang tua Sani.


Tepat di sebuah rumah mungil bercat putih Cici menghentikan motornya. Dia kemudian menghampiri seorang gadis wanita paruh baya yang sedang menyiram bunga di depan rumah.


" Assalamualaikum Bu ", ucap Cici.


Ibu itu menghentikan aktifitasnya lalu menatap Cici.


" Waalaikumsalam maaf cari siapa Nak?" tanya Ibu itu.


" Apa benar ini rumah Sania ?"


Wanita itu menatap Cici dengan tatapan sedih .


" Mari Nak silahkan masuk ".


Cici mengangguk kemudian mengikuti wanita itu.


" Perkenalkan saya Ibu Ina, ibunya Sania. Maaf kalau boleh tau ada apa nak.."

__ADS_1


" Cici Bu ".


" Oh iya Nak Cici ada perlu apa ya?"


" Jadi begini Bu.."


Cici pun menceritakan semua yang di alaminya.Bu Ina mendengarkan Cici, hingga akhirnya air mata Bu Ina tak terbendung lagi. Air mata itu jatuh membasahi pipi yang sudah mulai nampak keriput itu.


" Ya Allah Sania..Kamu sudah meninggal saja masih ingat dengan Ibu dan adikmu ", ucap Bu Ina di sela sela tangisnya. Cici memeluk Bu Ina.


" Bu, terima ya uangnya biar Sania tenang di sana ", ucap Cici sambil menyerahkan uang sebesar delapan juta rupiah kepada Bu Ina.


Bu Ina mengangguk lalu menerima uang itu.


" Terima kasih banyak Nak Cici. Semoga Gusti Allah membalas kebaikanmu ", ucap Bu Ina.


" Amiin kalau begitu saya pamit dulu Bu takut keburu malam ", pamit Cici.


" Iya Nak hati hati di jalan ya. Sekali lagi terima kasih banyak ".


" Iya Bu sama sama kalo begitu saya permisi dulu assalamualaikum".


" Waalaikumsalam ", sahut Bu Ina sambil mengantarkan Cici sampai teras.


Cici pun bergegas memacu motornya meninggalkan rumah Bu Ina.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Keesokan harinya Cici datang ke rumah Bu Sukar.


" Ada apa Mbak Cici?" tanya Bu Sukar.


" Jadi begini Bu saya kemari ingin menyerahkan uang kos yang belum di bayar oleh Sania ", kata Cici mengutarakan maksud kedatangannya.


" Ya Allah Ibu udah ikhlas Mbak Cici ".


" Tapi ini amanah Bu. Saya mohon Ibu mau menerima uangnya agar Sania bisa tenang di sana ", kata Cici sambil menyerahkan uang sebesar dua juta rupiah kepada Bu Sukar.


" Baiklah semoga dengan ibu menerima uang ini Sania bisa tenang di Sana dan tak menganggu penghuni kos di sini ", kata Bu Sukar sambil menerima uang itu.


" Iya Bu ", ucap Cici.


Setelah selesai menjalankan amanah dari Sania, Cici pun pamit kepada Bu Sukar.


" Akhirnya selesai juga tugasku. Semoga kamu bisa tenang di sana San ", gumam Cici saat sudah sampai di kamar kosnya.


Cici pun bersiap memoles wajahnya dengan bedak karena akan berangkat kerja. Tiba tiba di kaca rias muncul bayangan Sania.Dia tersenyum kepada Cici lalu bibirnya bergerak mengucapkan terima kasih kemudian menghilang.

__ADS_1


( SEKIAN )


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2