
Kisah ini aku alami saat pergi ke Bandung. Oh iya perkenalkan namaku Yeni. Aku dan keluarga suami pergi ke Bandung dalam rangka menghadiri pernikahan adik iparku sebut saja dia Zidni. Adik iparku bekerja di sebuah Bank swasta di daerah Bandung dan akhirnya menemukan tambatan hatinya di Bandung. Karena rumah kontrakan Zidni tidak begitu luas, suamiku berinisiatif mengajak aku dan anakku untuk tidur di hotel sedangkan kedua mertua ku tidur di rumah kontrakan Zidni. Hari H pernikahan Zidni masih empat hari lagi, jadi begitu sampai hotel aku bisa beristirahat sejenak di hotel. Saat pertama masuk ke hotel aku merasa gak nyaman dengan keadaan hotel. Hotel ini tak seperti hotel hotel pada umumnya. Di sini, di hotel ini di mana-mana ada sesajen dan dupa. Tapi aku menepis rasa tak nyamanku.
Malam pertama menginap di hotel tak ada gangguan apa apa. Nah pas malam kedua nih mulai ada gejala-gejala di luar nalar. Jam setengah 12 malam, anakku yang masih berumur 7 tahun seperti sedang bermain dan bersenda gurau di balkon kamar. Bergegas aku membuka mataku.
" Mas..Mas Iqbal ", panggilku sambil menggoyang goyangkan tubuh suamiku.
" Hmmm", sahut Mas Iqbal sambil menggeliat.
" Bangun Mas ", kataku.
" Ada apa sih Yen?" tanya Mas Iqbal.
" Itu si Reno di balkon seperti sedang bermain sambil bersenda gurau ", kataku.
Mas Iqbal membuka matanya lalu turun dari ranjang. Ku ikuti Mas Iqbal yang berjalan ke arah balkon kamar hotel.
" Ren, kamu ngapain di situ?" tanya Mas Iqbal sambil mendekati anakku yang duduk di kursi balkon.
" Lagi mainan Pa. Kebetulan ada Reno ada temennya ", sahut Anakku.
" Mana temennya?" tanya Mas Iqbal.
" Papa kesini temenku langsung pergi ", kata Reno.
" Ini sudah malam Ren yuk tidur. Besok kan kita mesti ke rumah Om Zidni ",kata Mas Iqbal.
Reno mengangguk lalu di gendong Mas Iqbal menuju tempat tidur. Aku bergegas menutup pintu kaca dan menutup tirainya lalu menyusul suami dan anakku di ranjang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Hari ini keluarga suami ku datang ke rumah calon mempelai wanita untuk melaksanakan lamaran dan seserahan. Selepas sholat Dhuhur kami pun langsung menuju ke rumah calon mempelai wanita dengan menggunakan dua mobil. Satu mobil Zidni dan satunya mobil Mas Iqbal. Setelah menempuh perjalanan setengah jam kami sampai juga di rumah Dewi, calon istri Zidni. Kami di sambut oleh pihak keluarga mempelai dengan sangat hangat. Acara pun berjalan dengan sangat khidmat.
Setelah dua jam di rumah Dewi dan acara sudah selesai kami langsung pamit pulang. Mas Iqbal sekalian pamit kepada Zidni untuk langsung pulang ke hotel tak mampir ke rumah Zidni.
" Kamu hati hati ya Iqbal nyetir mobilnya ", kata Ibu mertua.
" Iya Bu ", sahut Mas Iqbal.
Setelah takzim kepada kedua mertua ku, kami pun langsung masuk ke dalam mobil dan meluncur ke hotel tempat kami menginap.
" Mas, kamu merasa ada yang aneh gak sih dengan hotel itu?" tanyaku di tengah perjalanan.
" Enggak, kenapa Yen?" tanya Mas Iqbal.
" Masa hotel di mana-mana ada sesaji dan dupa sih, kan aneh. Terus semalam Reno main dan bercanda sama siapa coba malam- malam di balkon?" ungkap ku.
Mau tak mau aku pun mengangguk.
" Mas sebelum kembali ke hotel kita cari makan dulu yuk sekalian aku mau beli makanan ringan di minimarket ",kataku.
" Loh emang tadi kamu gak makan di rumah Dewi?" tanya Mas Iqbal.
Aku menggelengkan kepala.
" Loh kenapa?"
" Kamu kan tau aku gak doyan daging sapi. Tadi adanya cuma rawon saja tak ada lainnya jadi aku tak makan ", ucapku.
Mas Iqbal mengangguk lalu mencari tempat makan yang berdekatan dengan minimarket.
__ADS_1
Setelah makan kami langsung kembali ke hotel. Begitu lift terbuka aku masuk ke dalam lift dengan menggandeng Reno sedangkan Mas Iqbal di belakangku. Saat lift terbuka di dalam tak ada siapa siapa alias kosong tapi saat lift merangkak naik ke atas aku melirik ke samping seperti ada seseorang berdiri di samping Reno. Aneh!! Kataku dalam hati. Tapi aku tak berani menoleh hanya menunduk saja. Dan aku merasa lega saat pintu lift terbuka, bergegas aku menggandeng Reno keluar lift. Sebelum pintu lift tertutup aku sempat menoleh ke belakang ke arah lift tampak ada seorang wanita menatap ku sampai akhirnya pintu lift tertutup.
" Mas ", panggilku.
" Ada apa? Kamu takut lihat wanita tadi?" tanya Mas Iqbal.
" Loh Mas lihat juga?" tanya ku.
Mas Iqbal hanya mengangguk.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Akhirnya adik iparku sah menjadi seorang suami. Setelah acara selesai aku dan Mas Iqbal pamit untuk kembali ke hotel apalagi jam juga sudah menunjukkan pukul enam sore. Rasanya badanku capek banget. Tapi sebelum langsung ke hotel, Mas Iqbal mengantar papa dan mama mertua ke rumah Zidni dulu.
Setelah mengantar mertua barulah kita kembali ke hotel. Sampai di kamar hotel kami langsung mandi. Selesai mandi kami rebahan di ranjang. Malam ini Reno tidur di rumah Zidni buat teman orang tua Mas Iqbal. Jadi di hotel cuma aku berdua dengan Mas Iqbal. Tak terasa kami pun terlelap hingga saat tengah malam aku terbangun karena ada suara berisik dari kamar sebelah. Terdengar ada suara orang bersenda gurau sambil tertawa tawa keras banget. Tapi yang aku heran kenapa Mas Iqbal tak terbangun dengar suara gaduh begini? Biasanya Mas Iqbal langsung terbangun saat mendengar suara gaduh. Mungkin karena kecapean kali ya jadi tak terbangun. Aku keluar kamar hendak menegur kamar sebelah. Saat aku mengetuk pintu, tiba tiba tak ada suara gaduh lagi. Karena sudah tak ada suara gaduh lagi, aku bergegas masuk kembali ke kamarku. Anehnya saat masuk ke kamarku kembali terdengar suara gaduh, bahkan kali ini ada suara musik jedag jedug kenceng sekali. Karena tak tahan lagi, aku bergegas menelepon resepsionis dari telepon yang ada di kamar hotel.
" Selamat malam ada yang bisa di bantu?" tanya Resepsionis.
" Selamat malam teh. Teh bisa minta tolong gak? Tolong kamar sebelahnya kamar nomor 215 di tegur agar tak membuat gaduh. Apalagi ini sudah tengah malam ", kataku.
" Maaf Bu kamar sebelahnya kamar nomor 215 itu kosong ", ucap Resepsionis.
Apa? Kosong? Aku hanya melongo. Setelah mengucapkan terima kasih aku langsung menutup teleponnya.
Keesokan harinya aku langsung menyuruh suamiku untuk beberes barang barang yang kami bawa. Tak lupa aku menceritakan kejadian semalam kepada Mas Iqbal. Dan kami pun langsung cek out pagi itu juga. Padahal rencana siang nanti baru check out, tapi karena sudah tak sanggup lagi berada di hotel ini, aku tak sabar ingin segera check out.
( SEKIAN ).
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1