
Kisah ini terjadi tahun 1990an ( Entah 90 berapa persisnya si Narasumber lupa ). Sebut saja Narasumber kali ini Yani. Yani seorang wanita yang bekerja di Billiar. Sudah dua tahun Yani bekerja sebagai pemandu billiar.
" Mbak Yani di tunggu Mas Fauzan tuh di suruh menemani main billiar", ucap Lia.
" Mana Fauzi?" tanya Yani.
" Tuh di meja billiar pojok ", tunjuk Lia.
Yani langsung menghampiri Fauzi dan kedua temannya.
" Baru datang Yan?" tanya Fauzi.
" He em ", sahut Yani.
" Ya udah yuk langsung main saja ", ajak Fauzi.Yani mengangguk lalu mulai memainkan tongkat billiar nya.
" Fauzi, udah jam 10 malam pulang yuk !" ajak Denis.
" Oke.. Yan nih buat kamu ", Fauzi memanggil Yani lalu memberikan beberapa lembar uang seribuan kepada Yani sebagai tip karena sudah menemani bermain billiar.
" Makasih ya ", ucap Yani senang menerima tip dari Fauzi. Tentu saja Yani senang karena jaman tahun 90an uang seribu udah seperti uang seratus ribu sekarang.
Fauzi dan teman temannya pun langsung pergi dari tempat itu.
" Udah dapat pelanggan belum ?" tanya Yani pada Lia yang sedang duduk di sofa dekat bar.
" Udah tadi tapi baru dua ", sahut Lia.
Lia adalah teman kerja Yani di situ. Tapi Lia selain menemani bermain billiar pelanggan dia juga menservis lelaki hidung belang yang kebetulan sedang main billiar juga ingin di puaskan nafsunya. Jadi tak heran jika pegawai wanita di billiar itu di cap wanita penggoda atau wanita kupu kupu malam walau tidak semua pekerja billiar seperti itu contohnya Yani. Dia hanya menemani bermain billiar saja tanpa mau pakai plus plus. Padahal banyak yang bilang jika dia mau melayani lelaki hidung belang, bayarannya lumayan melebihi bayarannya selama seminggu di Billiar. Tapi Yani tetap kekeh tidak mau.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Singkat cerita, jam sudah menunjukkan pukul setengah dua malam. Sudah waktunya Yani pulang. Di parkiran dia pun mengambil sepedanya.
" Lia, Nani kalian mau bareng gak?" tanya Lia dan Nani. Kebetulan Lia dan Nani tetangga kampung dengan Yani.
" Bentar Mbak kita masih ada urusan. Kalau mbak Yani mau duluan gak apa apa ", sahut Nani. Yani mengangguk kemudian menaiki sepedanya keluar dari Billiar.
Rumah Yani dengan tempat kerja tidak terlalu jauh hanya berjarak sekitar sekilo saja. Saat sudah melewati lampu merah, Yani merasakan sepedanya terasa berat tidak seperti biasanya. Akhirnya Yani turun dari sepeda dan mengecek ban sepedanya siapa tau ban nya gembos.
" Ban nya tidak kempis, tapi kok rasanya berat ya ", gumam Yani.
Yani pun menaiki sepedanya dan melanjutkan perjalanan. Jalanan nampak sudah sepi banget,maklum sudah setengah dua malam.
__ADS_1
" Mbak..Mbak Yani.." teriak Nani memanggil Yani.
Yani yang di panggil langsung berhenti dan menoleh ke belakang nampak sepeda Nani dan Lia mendekatinya.
" Kamu memboncengkan siapa Mbak?" tanya Lia sambil menunjuk ke arah boncengan sepeda Yani.
" Aku gak memboncengkan siapa siapa ", jawab Yani.
" Berarti.." Lia tak meneruskan kata katanya lalu dia mengayuh sepedanya dengan cepat meninggalkan Yani.
" Mbak, Mbak Yani berdoa aja biar yang di boncengan sepedamu pergi ", kata Nani lalu wanita itu pun ngacir sama seperti Lia.
Yani hanya menggelengkan kepalanya dan melanjutkan perjalanannya.
" Mereka kenapa sih?" gumam Yani.
Yani nampak belum sadar dengan apa yang di bilang Lia dan Nani.
" Yani!!" panggil Mbak Nunuk.
Mbak Nunuk adalah kakak Yani. Dia bekerja di kafe yang jaraknya tak jauh dari tempat kerja Yani dan pulangnya juga malam seperti Yani.
" Apa?" sahut Yani tanpa menoleh.
" Kamu memboncengkan siapa?" tanya Mbak Nunuk sambil melihat ke arah boncengan sepeda Yani.
Tadi Lia dan Nani yang tanya,sekarang kakaknya.
" Hii takut..Aku duluan ya ", kata Nunuk sambil bergidik lalu pergi meninggalkan Yani.
Yani hanya melongo melihat orang orang yang di kenalnya ngacir setelah melihat boncengan sepedanya.
' Sebenarnya ada apa sih di boncengan sepedaku?' tanya Yani dalam hati.
Dia pun berdoa sebisanya sambil tetap mengayuh sepeda. Selesai berdoa, sepeda Yani pun terasa enteng seperti biasanya. Yani pun mengayuh sepedanya dengan kencang agar sampai rumah dan menanyakan pada kakaknya apa yang di lihat di boncengan sepedanya.
Sampai di rumah,Yani bergegas meletakkan sepedanya di parkiran rumah dan langsung menuju kamar kakaknya.
" Mbak..Mbak Nunuk !" panggil Yani.
" Hem kenapa Yan?" tanya Mbak Nunuk sambil membuka pintu kamar.
" Tadi Mbak lihat apa sih di boncengan sepedaku? Lia dan Nani juga ngacir setelah melihat boncengan sepedaku ", kata Yani penasaran.
__ADS_1
" Emang kamu gak ngerasa memboncengkan siapa siapa?" tanya Mbak Nunuk.
" Aku cuma merasa sepedaku terasa berat tapi aku tak melihat siapapun di atas boncengan ", jawab Yani.
" Ya jelas berat lah kamu memboncengkan dua anak kecil ", sahut Mbak Nunuk.
" Hah? Serius Mbak?" tanya Yani.
" Serius lah. Kalau gak percaya besok tanya deh sama Lia dan Nani ", kata Mbak Nunuk.
Tanpa pamit Yani pun bergegas pergi dari hadapan kakaknya dan masuk ke kamarnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Besoknya saat berada di Billiar Yani langsung menemui Nani dan Lia yang sedang duduk di pojok.
" Kemaren kalian lihat apa sih di boncengan sepedaku?" tanya Yani penasaran. Benar tidak apa yang di bilang Mbak Nunuk.
Nani dan Lia saling berpandangan.
" Kita lihat Mbak Yani boncengin dua anak kecil ", sahut Lia dan Nani pun mengangguk membenarkan Lia.
" Emang Mbak gak merasa ada yang aneh?" tanya Nani.
" Aku ngerasain aneh sih. Sepedaku terasa lebih berat daripada biasanya setelah melewati lampu merah sana ", kata Yani.
" Mbak Yani harus hati hati lagi kalau lewat lampu merah itu. Udah gak aneh lagi sih secara perempatan lampu merah itu angker. Sudah banyak orang yang di boncengin anak kecil itu ", ucap Nani.
" Emang iya Nan?" tanya Lia.
Nani mengangguk.
" Dulu ada dua anak kecil mereka itu anak kembar yang tertabrak Bus pariwisata di situ dan mereka semuanya meninggal di tempat. Setelah kejadian itu arwah mereka sering minta bonceng kepada pengguna jalan yang naik sepeda tengah malam ", cerita Nani.
" Tetangga ku ada yang pernah mengalami kejadian seperti yang Mbak Yani alami. Semenjak itu beliau tak berani lagi lewat perempatan itu ", imbuh Nani.
Lia hanya manggut manggut.
" Kamu bikin takut aja Nan ", kata Yani.
" Bukan maksudku buat Mbak takut tapi aku kasih tau hal yang sebenarnya. Maka kalau Mbak lewat lampu merah lebih baik Mbak Yani berdoa agar tak mengalami kejadian itu lagi ", pungkas Nani.
Ya, semenjak kejadian itu Yani tak berani lewat jalan itu sendirian jika pulang kerja. Dia lebih memilih menunggu Lia dan Nani.
__ADS_1
( SEKIAN ).
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...