
Bagus adalah seorang pemuda berusia 30 tahun yang bekerja di salah satu toko peti dan juga sebagai perias mayat. Toko peti tempatnya bekerja buka 24 jam. Selain dirinya ada lima orang lagi yang menjadi teman bekerjanya. Tapi hanya Bagus saja yang menyambi sebagai perias mayat. Di toko tempat Bagus bekerja juga menyediakan jasa merias jenasah. Dari semua teman Bagus hanya Bagus yang mau menerima pekerjaan itu, kelima temannya takut melakoni pekerjaan merias jenasah. Setelah belajar dari istri pemilik toko selama 6 bulan, Bagus pun sudah bisa merias mayat sendirian tanpa di dampingi istri pemilik toko. Ya hasilnya lumayan sih, buat tambah tambah uang jajan.
Malam ini Bagus masuk shif malam dari jam sepuluh malam sampai jam enam pagi. Seharusnya malam ini Bagus dapat shif berdua dengan Tino tapi hari ini Tino ijin karena sedang sakit jadilah Si Bagus sendirian. Malam semakin larut di tambah sesekali ada kilat dari langit menandakan sebentar lagi akan turun hujan. Dan benar saja jam satu malam hujan turun dengan deras. Saat ini Bagus yang setengah mengantuk sayup sayup mendengar suara di gudang belakang, tempat penyimpanan peti. Suara yang terdengar seperti kayu yang di pukul - pukul. Bagus yang penasaran bergegas ke belakang mengecek suara apa gerangan yang terdengar itu. Tatapan Bagus tertuju pada sebuah peti yang tutupnya terbuka lalu tertutup sendiri. Bagus mengucek matanya tak percaya tapi tutup peti memang benar bisa terbuka dan tertutup sendiri. Bagus yang ketakutan segera berlari ke depan lalu dia menelepon Andi.
" Halo Gus ada apa malam malam begini telpon?" tanya Andi dari seberang.
" Andi aku takut nih ", kata Bagus.
" Takut apa?" tanya Andi.
" Aku tadi di belakang lihat ada peti yang tutupnya terbuka dan tertutup sendiri ", kata Bagus.
Terdengar Andi terkekeh.
" Yaelah aku ketakutan begini kamu malah terkekeh ", kata Bagus.
" Bagus..Bagus... Itu mah udah biasa Gus. Itu pertanda akan ada orang yang membeli peti di toko kita. Nanti kamu tawarkan saja peti yang tertutup dan terbuka sendiri itu. Biasanya jika ada hal begitu berarti peti yang berisik itu akan di beli orang ", kata Andi.
Bagus mengiyakan saja. Lalu dia menutup sambungan teleponnya. Bagus kemudian kembali ke belakang melihat apakah peti itu masih berulah, tapi ternyata peti itu sudah anteng.
Jam setengah dua dini hari, ada seorang sepasang suami istri yang datang ke toko peti. Bagus langsung melayani sepasang suami istri itu.
" Mas, kita mau cari peti untuk kerabat kami yang meninggal. Persediaan peti nya apakah cuma ini saja?" tanya Si Bapak sambil mengedarkan pandangannya memandang peti peti yang terpajang di ruang depan.
" Oh di belakang masih ada peti dengan model lain Pak. Mari silahkan saya antar untuk memilih milih ", kata Bagus ramah.
Sepasang suami istri itu mengikuti Bagus. Lalu keduanya menatap peti yang tadi berisik. Kemudian mereka memilih peti itu.
" Mas di sini juga menyediakan jasa rias mayat gak ?" tanya Si Wanita.
__ADS_1
" Iya Bu menyediakan. Mau pake jasa perias mayat sekalian?" tanya Bagus.
Si wanita itu mengangguk.
" Bayarnya sekalian sama peti ini atau nanti setelah selesai merias mas?" tanya si Bapak.
" Kalau untuk perias nya nanti jika sudah selesai merias Pak".
" Oh oke. Ya sudah mas nanti minta tolong petinya di kirim ke alamat ini ya ", kata Bapak itu sambil menyodorkan sebuah kertas yang bertuliskan sebuah alamat. Bagus menerima alamat tersebut sambil mengangguk.
Setelah sepasang suami istri itu membayar mereka pun berlalu. Bergegas Bagus menghubungi pemilik toko dan memberi tahu jika si konsumen menginginkan rias mayat juga. Tak berapa lama pemilik toko datang ke kios.
" Ya sudah Gus kamu merias sama istri saya ya. Berangkat sekarang saja ", kata Pak Anton si pemilik toko.
Bagus mengangguk. Lalu Bagus naik ke atas motornya menuju alamat yang di tinggalkan sepasang suami istri tadi sedangkan Anggit, istri dari Anton mengikuti Bagus dengan mobil pick up nya yang membawa peti yang sudah laku di beli tadi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
" Sayang sekali masih muda sudah meninggal ", gumam Bagus.
" Namanya juga maut Gus gak ada yang tau ", timpal Anggit yang mendengar gumaman Bagus.
" Iya Mbak ", kata Bagus sambil tersenyum salah tingkah karena saat dia bergumam ternyata Anggit mendengarnya.
" Ini mending Gus kamu dapat wajah yang sempurna. Aku pernah dapat jenasah yang wajahnya tak sempurna lagi karena kecelakaan ", kata Anggit.
Lalu Anggit bercerita setahun yang lalu ada yang memintanya untuk merias jenasah. Ternyata saat sampai di rumah duka, jenasah yang di rias Anggit wajahnya sudah rusak karena kecelakaan. Awalnya Anggit merasa kesulitan tapi setelah di cobanya, dia pun berhasil juga merias jenasah itu.
" Sudah berapa kali Mbak merias jenasah yang wajahnya rusak?" tanya Bagus kepo.
__ADS_1
" Sudah dua kali. Yang pertama yang aku ceritakan tadi dan yang kedua belum lama, baru beberapa bulan lalu. Dia korban pembunuhan, tubuhnya di bakar sampai tak di kenali lagi. Pokoknya ngeri Gus ", ucap Anggit.
" Oiya Mbak kalau kapan kapan ada job merias jenasah yang wajahnya rusak, Mbak Anggit temani saya ya ".
" Iya tenang saja ".
Lalu mereka menyelesaikan pekerjaannya.
Jam lima pagi pekerjaan mereka sudah selesai. Bagus berpamitan kepada Anggit untuk pulang ke toko duluan. Anggit mengangguk, lalu Bagus keluar dari rumah duka menuju sepeda motornya yang terparkir di samping rumah yang lumayan besar itu. Saat menuju ke arah sepeda motornya yang terparkir, Bagus melihat ada seorang wanita yang sedang berdiri menatapnya tak jauh dari tempat motornya terparkir. Wanita itu mengenakan gaun putih, terlihat cantik.
" Permisi Mbak numpang lewat ", kata Bagus sambil membungkukkan badannya.
" Terima kasih Mas ", ucap Wanita itu. Bagus memandangnya lalu wanita bergaun putih itu menghilang. Dan Bagus baru tersadar jika gaun yang di kenakan wanita tadi sama seperti gaun yang di kenakan si jenasah yang di riasnya. Wajahnya pun sama.
" Alamak!!" kata Bagus.
Bergegas Bagus menghidupkan motor maticnya dan pergi dari situ.
" Nasib nasib.. selesai merias malah ketemu sama yang di rias ", kata Bagus sambil bergidik.
" Mending kalau manusia lah ini arwah ".
Sampai di toko peti Bagus langsung memarkir motornya di depan toko.
" Anggit mana Gus?" tanya Mas Anton.
" Masih di sana Mas. Masih ada urusan ",sahut Bagus.
Mas Anton hanya manggut-manggut lalu mempersilahkan Bagus untuk pulang istirahat. Dengan senang hati Bagus langsung mengangguk. Setelah berpamitan dia pun langsung melenggang meninggalkan toko.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...