Horror Story' S ( Kumpulan Cerita Mistis Dari Kisah Nyata )

Horror Story' S ( Kumpulan Cerita Mistis Dari Kisah Nyata )
40. Arwah korban Santet


__ADS_3

" Pak!! " panggil Bu Nanik.


Pak Darjo yang sedang memotong rumput di sawah segera menoleh, terlihat istrinya setengah berlari menghampirinya.


" Ada apa Bu?" tanya Pak Darjo.


" Bu Romlah Pak, Bu Romlah ".


" Ada apa dengan Bu Lek Romlah?" tanya Pak Darjo.


"'Bu Romlah meninggal ".


Sontak Pak Darjo langsung syok mendengar Bu Romlah meninggal. Bagaimana tidak, tadi pagi sebelum ke sawah cari rumput Bu Romlah masih beli nasi di rumah tetangga depan rumah Pak Darjo dan mereka sempat ngobrol sebentar. Bergegas Pak Darjo berlari menuju rumah Bu Lek nya.


Sampai di rumah Bu Romlah, sudah banyak warga di sana. Terlihat anak- anak, menantu dan cucu Bu Romlah menangis. Pak Darjo menghampiri jenasah Bu Romlah.


" Bu Lek.. ", desis Pak Darjo.


Air mata pria berusia 40 tahun itu meleleh.


" Kang, Ibu kang..", kata Dario.


Pak Darjo memeluk anak sulung Bu Romlah tersebut.


" Bu Lek Romlah kok bisa meninggal Le? Tadi pagi aku masih ngobrol dengan Bu Lek saat Bu Lek membeli nasi di depan rumahku ", kata Pak Darjo.


Dario memandang Wati, adiknya. Wati dan Soleh yang tinggal serumah dengan Bu Romlah sedangkan Dario sejak menikah hidup terpisah dengan ibunya, dia sudah punya rumah sendiri yang jaraknya sekitar 25 kilometer dari rumah Bu Romlah.


" Siang tadi abis dhuhur Ibu tiba tiba kejang-kejang dan muntah darah lalu tak sadarkan diri. Ternyata Ibu sudah meninggal kang ", ujar Dario sambil menangis.


" Sepertinya ada yang tidak beres dengan kematian Bu Lek ", kata Pak Darjo.


Sontak Dario dan kedua adiknya memandang Pa Darjo.


" Maksudnya akang apa?" tanya Soleh.


" Leh, apa Bu Lek punya musuh?" tanya Dario.


Soleh langsung menggelengkan kepalanya, yang dia tau Ibu nya orang baik tidak punya musuh.


" Sepertinya Bu Lek terkena teluh / santet Le ", ucap Pak Dario membuat anak-anak Bu Romlah kaget.


" Bagaiman bisa ibu terkena santet kang sedang ibu sendiri tidak punya musuh?" tanya Wati.


" Lama kelamaan kalian akan tau ", jawab Pak Dario.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bu Nanik menghampiri Pak Darjo yang sedang duduk di atas dipan yang terletak di teras rumah.


" Pak ini kopinya ", kata Bu Nanik sambil meletakkan segelas kopi di depan Pak Darjo.


" Iya Bu makasih ", kata Pak Darjo.


Bu Nanik duduk di samping Pak Darjo.

__ADS_1


" Lagi mikir apa sih Pak?" tanya Bu Nanik.


" Lagi mikir kematian Bu Lek Romlah. Kematiannya sangat mendadak dan ganjil ", kata Bu Darjo.


" Iya Pak, aku merasa kok kematian Bu Romlah ini karena di buat oleh orang yang gak suka sama Bu Romlah ".


" Iya Bu. Siapa ya kira kira yang tega berbuat seperti itu?" tanya Pak Darjo.


Bu Nanik mengangkat kedua bahunya.


" Jam berapa sekarang Bu?"


" Jam delapan malam Pak. Ada apa?"


" Bapak ke rumah Bu Lek Romlah dulu mau lihat Dario sudah pulang belum ".


" Jelas belum lah Pak baru tadi sore Bu Romlah di makamkan masa langsung pulang".


" Ya sudah Bapak ke sana dulu ".


" Iya pak hati hati di jalan ".


Pak Darjo langsung meraih lampu teplok lalu beranjak dari dipan lalu berjalan menjauh.


" Darjo.."


Pak Darjo yang sedang melintasi kebun pisang langsung berhenti. Beliau menoleh kesana kemari tak ada orang, jadi siapa yang memanggilnya?


" Darjo.."


" Siapa ?" tanya Pak Darjo.


Beliau menatap ke kebun pisang dan nampak ada sosok Bu Romlah menatapnya.


" Bu Lek..Bu Lek Romlah ", desis Pak Darjo.


" Tolong Bu Lek Dar.."


" Bu Lek kenapa?"


" Pak Mijan.."


Setelah menyebut nama Pak Mijan sosok Bu Romlah menghilang. Pak Mijan adalah tetangga Bu Romlah yang jualan sembako di pasar sama seperti Bu Romlah. Pelanggan Bu Romlah lebih banyak daripada Pak Mijan karena barang dagangan Bu Romlah lebih murah harganya daripada yang lain. Sampai Bu Romlah mempekerjakan dua orang untuk kios sembakonya di pasar saking banyaknya para pelanggan Bu Romlah dan Bu Romlah merasa kewalahan.


" Apa Pak Mijan yang telah mengirim santet kepada Bu Lek Romlah?" gumam Pak Darjo.


Bergegas Pak Darjo menuju rumah Bu Romlah.


" Eh kang Darjo, sini kang ", ucap Soleh saat melihat Pak Darjo datang.


Pak Darjo langsung duduk di atas tikar.


" Mau ngopi atau ngeteh Kang?" tanya Wati.


" Gak usah Ti. Aku di rumah tadi udah ngopi ", sahut Pak Darjo.

__ADS_1


" Kamu kapan pulang Dar?" tanya Pak Darjo kepada Dario.


" Setelah yasinan 7 hari kematiannya Ibu Kang. Ada apa Kang?"


" Gak apa apa. Lebih lama kamu di sini lebih baik, buat teman adik adikmu ".


" Pengennya di sini lebih lama Kang tapi aku hanya cuti 7 hari saja ", kata Dario.


Pak Darjo manggut-manggut lalu beliau menceritakan kejadian di kebun pisang kepada anak anaknya Bu Romlah.


" Apa Pak Mijan yang telah membuat Ibu meninggal?" tanya Wati.


" Entahlah. Kita cari tau dulu jangan langsung menghakimi ", kata Dario.


Wati dan Soleh hanya mengangguk saja. Lalu mereka pun mengobrol sampai larut malam. Saat jam menunjukkan pukul satu malam, Pak Darjo pamit pulang.


" Gak nginep sini saja Kang?" tanya Dario.


" Enggak Dar kasian Mbak mu di rumah sendirian ", kata Pak Darjo.


Anak anak Bu Romlah pun manggut-manggut.


" Ya Udah aku pulang dulu ".


" Iya kang hati hati di jalan ".


Pak Darjo mengangguk lalu melangkah pulang.


Tok..tok..tok..


" Bu buka pintunya ", kata Pak Darjo sambil mengetuk pintu.


Tak lama kemudian Bu Nanik membuka pintu.


" Kok baru pulang Pak?" tanya Bu Nanik.


" Iya tadi ngobrol ngobrol sama Dario dan kedua adiknya sampai lupa waktu ",ucap Pak Darjo.


Sampai di kamar Pak Darjo menceritakan kejadian tadi di kebun pisang kepada istrinya. Bu Nanik terlihat kaget.


" Apa Pak Mijan yang sudah mengirim santet kepada Bu Romlah Pak?" tanya Bu Nanik.


" Gak tau Bu kalau menurut pemikiran ku sama anak anak Bu Lek sih mungkin pelakunya Pak Mijan ", ucap Pak Darjo.


" Kasihan Bu Romlah ".


" Sekarang kita tidur saja yuk sudah malam ", kata Pak Darjo sambil merebahkan tubuhnya di atas dipan. Bu Nanik mengangguk lalu naik ke atas dipan dan merebahkan badannya di samping Pak Darjo. Tak lama kemudian sepasang suami istri itu pun terlelap.


( BERSAMBUNG )


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


NB : Kejadian ini terjadi pada tahun 70an. Saat itu masih banyak orang percaya dengan adanya dukun, santet dan teluh.


Maaf baru bisa update hari ini, kemarin libur nulisnya. Soalnya jaringannya lagi gak baik efek hujan deras plus petir dari pagi di tambah lagi kemarin sibuk banget beberes ( bersih- bersih ) rumah yang sudah seperti kandang ayam.

__ADS_1


__ADS_2