
π₯
πΊ
π
Saat ini Aiden, Elle dan Febi berada di ruang rawat Dinda, Febi sedari tadi terus menggerutu pada Aiden yang masih menunggu sadarnya Dinda. Namun, Aiden masih kekeh menunggunya sadar untuk mengucap kata maaf.
"Sudah Ai ! Ayo kita pulang, biar dia di tunggu sama teman atau saudaranya gitu !" Ajak Febi yang terus merengek mengajak pulang, bukan hanya karena tidak suka bau rumah sakit tapi juga Febi merasa tidak suka saat Aiden begitu khawatir dengan kondisi Dinda.
"Tunggu sebentar Bi ! Nunggu dia sadar, lalu aku minta maaf !" Sahut Aiden yang memangku Elle di pangkuannya.
"Hishhhh ! Aku capek tahu nggak ? Sedari datang aku belum istirahat sama sekali !" Rengeknya lagi.
"Biar aku telfon Vano dulu, biar dia jemput kamu lalu diantar pulang !"
"No no no ! Aku nggak mau diantar sama dia ! Ya udah lah, aku tunggu kamu diluar !" Karena kesal, Febi langsung pergi keluar menunggu di depan ruangan.
Perlahan Dinda mengerjapkan mata, ia memandang ke sekeliling ruang rawatnya. Saat pandangannya sudah jelas, Dinda melihat ada Aiden dan Elle disana.
"Tuan !" Ujar Dinda berusaha untuk duduk.
"Kamu sudah sadar ? Kamu rebahan saja ! Tidak usah duduk !" Aiden dan Elle berjalan menuju kesamping brankar Dinda.
"Oh ya ! Saya mau minta maaf, karena tidak sengaja menabrak kamu tadi !" Ucap Aiden dengan tulus.
__ADS_1
"Iya tidak apa ! Kan memang anda selalu membuat saya kesulitan !" Sahut Dinda mengingat perilaku Aiden yang datar, keras dan juga menjengkelkan terhadapnya selama ketemu. Namun Dinda tidak suka saat Aiden marah-marah pada Elle karenanya dan yang membuat Dinda kesal saat Aiden bersikap datar saat ditanya.
"Ha,. Saya tidak melakukan apapun pada kamu setiap bertemu, tapi memang orang seperti kamu itu pantas digituin !" Aiden yang mulanya tulus meminta maaf sekarang malah kesal mendengar sahutan dari Dinda.
"Memang saya seperti apa ? Hingga anda selalu bersikap menjengkelkan pada saya ! Hemhh, orang kalau tidak mau mengakui kejelekannya ya seperti itu !" Cibir Dinda.
"Kamu .... !" Ucapan Aiden menggantung saat namanya dipanggil oleh Febi dari pintu ruangan.
"Ai ayo pulang ! Mama ku sudah telpon terus dari tadi !" Ucap Febi dengan memasukkan kepalanya kedalam.
"Ya !"
"Saya mau pulang ! Jangan banyak tingkah, nanti jahitan di luka mu bisa robek ! Saya tidak mau membayar biaya perawatan kamu lagi jika itu beneran terjadi !"
"Hemmhh ! Saya bisa bayar sendiri tanpa anda membayarkan tuan !" Sahut Dinda penuh penekanan.
"Dadyyyy ! Telus talau kita pulang sekalang ! Tante Dindanya sama siapa disini ?" Tanya Elle menarik-narik kerah kemejanya.
"Sudah biarin dia sendirian ! Kita pulang !" Sahut Aiden yang terus berjalan.
π
Sepeninggal Aiden, Dinda masih mengomel-ngomel tidak jelas tentang Aiden. Dinda kesal karena merasa kurang beruntung jika bertemu dengan Aiden.
"Dasar duda jelek ! Kelamaan ngejomblo dia, hingga perilakunya juga jadi jelek !"
__ADS_1
"Dasarrrrrr.... Awassss kamu !"
"Dia itu bukan hanya menjengkelkan tapi juga galak, jelek, kulkas ! Ahhhh, pokonya yang jelek-jelek ada pada dia ! Hemmhhhh !"
"Untung anaknya nggak seperti dia perilakunya !"
Gerutuan Dinda bisa didengar oleh Vano, yang ditugaskan untuk menjaganya sementara dan dia tidak jadi masuk saat mendengar ocehan Dinda dari pintu yang sudah dia buka sedikit. Vano menunggu di luar ruangan dan setelah Ririn sahabat Dinda datang Vano baru akan kembali dari rumah sakit.
"Permisi tuan ! Anda sekertarisnya tuan Aiden kan ya ?" Tanya seorang perempuan menghampirinya.
"Iya ! Anda sahabatnya nona Dinda ?" Tanya Vano memandang Anis dari atas hingga bawah, yang dilihat-lihat usianya seperti anak sekolah.
"Iya ! Apa kak Dinda apa di ruangan ini ?" Tanya Anis menunjuk ruangan yang didepannya.
"Iya ! Nona Dinda ada didalam, kalau begitu saya kembali dulu !" Tanpa menunggu jawaban dari Anis, Vano berlalu begitu saja.
"Ehh ! Buru-buru amat tuh om-om !" Gumam Anis melihat punggung Vano yang mulai jauh.
"Tapi ganteng juga sihh !" π€
Bersambung
happy reading bestie ku π₯°
Jangan lupa kasih Like and votenya okee ππ₯°
__ADS_1
See u ππ₯πΊπ