
Aiden yang berada di ruang kerja disibukkan dengan berkas-berkas yang lumayan numpuk karena dia tinggal libur hari ini. Sesibuk apapun Aiden, jika menyangkut keluarga dia akan meluangkan waktunya.
"Aiden !" Mama Neli masuk dengan membawa cake yang dia buat tadi.
"Iya ma ! Kenapa ?"
"Boleh mama bicara ?"
"Silahkan ma ! Kenapa harus tanya ?" Dengan lembut Aiden menggenggam tangan mamanya yang duduk disamping.
"Apa kamu belum ada rencana untuk mencarikan mama untuk Elle ?"
"Ya seperti yang mama ketahui ! Aiden belum bisa menemukan perempuan yang bisa menyayangi Elle dengan tulus, setiap yang mendekati Aiden pasti hanya uang !" Keluh Aiden pasrah.
"Sebenarnya mama sangat kasian padamu ! Kamu harus mengurus perusahaan juga Elle ! Pasti sangat capek untuk mengurus keduanya, jam istirahat mu juga tidak teratur !" Dengan meneteskan air mata mama Neli memandang putra semata wayangnya dengan sedih. Sungguh takdir apa yang diberikan pada Aiden,
"Mama jangan sedih ! mama percaya sama Aiden, Aiden bisa melewati ini semua !"
Setelah menyelesaikan pekerjaan sekitar pukul 3 sore, Aiden berjalan menuju kamar putrinya yang sedari siang belum bangun dari tidurnya. Namun, saat masuk ternyata Elle sudah duduk dengan tangan memegang iPad nya,
__ADS_1
"Daddy !"
"Elle udah bangun! Kenapa nggak langsung cari Daddy tadi ?" Aiden berjalan menuju kasur yang ditempati Elle. Sedangkan Elle yang ditanya hanya menunjukkan gigi susunya.
"Daddy ! Dimana cali yang namanya bunda ! Tadi Elle lihat pidio dia bilang talau dia punya bunda ! Telus dia bilang juda talau bundanya, selalu ada untuk na ! Apa itu telmasuk boneta balbie yang terlalu Daddy belitan untuk Elle ?"
Mendengar pertanyaan anaknya, hati Aiden sungguh sakit harusnya dulu dia tidak menyiakan Nisa yang masih mengandung Elle, hingga dia harus menyesal setelah semua terjadi.
Jika waktu itu dia mau mengantar nya ke rumah sakit untuk memeriksakan kandungannya, mungkin kecelakaan itu tidak akan terjadi. Hanya karena perjodohan dia tidak bisa menerima kehadiran Nisa.
"Maafkan Daddy sayang !" Dengan merengkuh tubuh mungil anaknya, diam-diam Aiden meneteskan air matanya dan segera dia hapus agar tidak terlihat oleh Elle.
"Sekarang kita turun yuk ! tadi Oma membuat cake kesukaan Elle ! Mau nggak ?" Sengaja dia mengalihkan pembicaraan Elle.
Dengan lahap mereka memakan cake yang ada di kulkas, mereka memang memiliki kesamaan dengan makanan kesukaan mereka.
Sedangkan di cafe, Dinda disibukkan dengan pengunjung yang kebetulan memboking cafe itu. Dibooking untuk acara syukuran 7 bulanan, orang berpunya memang bebas ! hihihi😁😁
"Kak ini diantar kemeja yang mana ? yang dalam atau yang di samping sana ?"
__ADS_1
"Itu kemeja yang di samping! Soalnya tadi yang dibooking hanya ruangan dalam aja !"
"Oke !"
Masih dengan kesibukan, Dinda sampai melupakan makan siangnya. Kebetulan Ririn dan Rendi hari ini nggak masuk, karena Ririn yang tiba-tiba tidak enak badan.
"Kak Dinda sedari tadi belum makan ! Sekarang Kakak makan dulu biar aku gantiin kakak !" Anis yang melihat kesibukan Dinda merasa kasian, Dinda terlalu disibukkan dengan kesibukan cafe.
Meski bagian Dinda berada di kasir, dia masih sempat membantu pelayan lain mengantar pesanan kemeja pengunjung.
"Baiklah Kakak makan dulu ! Tapi kamu apa sudah makan ?"
"Kakak nggak perlu pertanyakan tentang makan kalau sama aku, soalnya tanpa disuruh pasti aku akan makan !" Seperti itulah Anis, banyak makan tapi badan nggak bisa gendut.
"Dasar ! Ya sudah kakak makan dulu ya !"
"Oke Kak !"
Bersambung
__ADS_1
Sampai jumpa di episode selanjutnya 🤗 🍃💚🌺
Jangan lupa kasih Like dan votenya ♥️