Hyperia

Hyperia
Bom Itu! Jangan Sampai Meledak!


__ADS_3

Lauriel hanya terdiam membeku ketika menyadari situasinya semakin sulit,dia memperhatikan sekitar,mencari aura yang berbeda daripada yang lain,namun percuma,aura seluruh orang di Gerrartoria sama semuanya,dipenuhi kebencian,rasa dengki,dan kejahatan menyelimuti mereka semua


"Geez..."


Kemudian dia mematikan mode Hyperia miliknya,dan ketika sedang di dalam kewaspadaan tinggi,Hiki mengirim pesan kepada Lauriel,pesan itu mengambang di pandangan Lauriel, namun tidak dapat dilihat oleh orang lain selain dirinya.


"Hiki? Kenapa sekarang sih?"


"Cepat pergi ke gerbang masuk Gerrartoria,kita harus pergi sekarang dan menuju Asgard"


"Tapi,pengecut itu masih ada disini! manusia yang dapat menghilang itu-"


Ketika sedang berbicara, tiba-tiba pria itu kembali menyerang dan hendak memukul Hiki,beruntung Lauriel telah memprediksi hal itu dan membuat barrier untik melindunginya sehingga pria itu memantul dan kembali pergi tanpa memperlihatkan wujudnya


"Okedeh! aku rasa juga gak guna bertarung dengannya sekarang,aku tidak diuntungkan dalam keadaan ini"


Lauriel kemudian berlari kearah gerbang utama Gerrartoria,sedangkan pria yang dapat menghilang itu,dia memutuskan untuk tidak mengejar Lauriel dan hanya melihatnya berlari dari kejauhan, sampainya di gerbang utama Gerrartoria,dia dapat melihat Hiki dan Vera yang sedang duduk di dalam mobil,Vera duduk di bangku mengemudi,sementara Hiki duduk di kursi penumpang belakang,Lauriel langsung menghampiri dan membuka pintu mobil dan duduk disebelah Hiki


"Kamu baik-baik saja Lauriel?"


Tanya Vera yang menatap Laurel melalui pantulan cermin mobil


"Makasih,aku baik-baik saja...kamu sendiri gimana? gimana luka kamu?"


Hiki hanya terdiam memandangi kota Gerrartoria yang dimana informan mereka telah berhasil dibunuh, padahal dia bisa saja mendapat petunjuk detail dari Holmes,namun mereka belum dapat menemukannya sekarang,tidak lama kemudian Vera menginjak pedal gas dan mereka pergi meninggalkan Gerrartoria menuju Asgard untuk menemui Max,Alvin,dan Lucia


"Hei Lauriel,kamu tidak apa-apa?"


Saat diperjalanan Hiki tiba-tiba bertanya kepada Lauriel,padahal Lauriel telah duduk disebelahnya sedari tadi,namun kenapa dia baru bertanya sekarang? Vera hanya melihat mereka berdua melalui pantulan cermin


"Eh..iya aku baik-baik saja,kenapa?"


"Apakah kamu tidak menyadarinya kenapa pria itu melepaskan kamu begitu saja?"


"Pria?...maksudmu orang yang dapat menghilang itu?"


"Benar,dia memasang bom ditubuhmu,di punggung mu"


Lauriel langsung meraba-raba punggungnya,tidak nampak apapun,namun ketika dia memegang punggungnya,dia menyadari bahwa ada bom yang tertempel di punggungnya,bom itu transparan,karena bom itu sebelumnya dipegang terlebih dahulu oleh pria yang dapat menghilang tadi


"Hah?!! JANGAN BERCANDA AH! AKU HARUS BAGAIMANA?!!"


Lauriel mulai panik,namun Hiki masih dalam keadaan tenang,dia hanya menatap jalanan yang mereka lalui di jendela


"HI-"


Ketika hendak menyebut namanya lagi,Vera membuka pintu dan Hiki menendang Lauriel,sebelum menyentuh tanah,terdapat sebuah portal yang tiba-tiba muncul,portal itu adalah portal teleport milik Ruby,Hiki sengaja menendang Lauriel untuk mengirim dirinya kepada Ruby

__ADS_1


"Eh? Dimana nih?"


Lauriel menyadari bahwa dirinya berada di tempat yang berbeda,dia berada di sebuah ruangan yang sesak dengan barang,dan ia melihat seorang wanita dengan menggunakan topeng Kitsune


"H-hai..."


Wanita itu adalah Ruby,dia baru pertama kali bertemu dengan Laurel secara langsung


"Kamu...siapa?..."


"Itu tidak penting! Yang lebih penting adalah bom dipunggung mu!"


Ruby berjala ke belakang tubuh Lauriel dan mulai memindai bom itu menggunakan eye hologram miliknya,setelah ia memakai eye hologram dia dapat melihat bom itu dan memindai keseluruhannya ini pertama kali Ruby diperintahkan untuk menjinakkan bom


"Lauriel jika aku salah dan kamu meledak tolong maafkan aku!"


"Kenapa kamu ngomong gitu seakan aku akan meledak?!!"


"Karena ini adalah pertama kalinya aku menjinakkan bom!"


Ruby memegang bom itu dengan perlahan,khawatir jika salah langkah,maka bom itu akan meledak,bom itu tidak dapat dilepaskan dari tubu Lauriel,dan terus menempel sampai waktu meledaknya tiba


"Umm...banyak sekali kabelnya! Aku tidak mengerti! Bagaimana caranya aku mematikannya!!!!!?"


"Cari kabel aliran listrik!"


Karena tidak tahu apa yang harus dilakukan


Dia memotong sebuah kabel berwarna biru tanpa ragu,seketika waktu seperti berhenti,mereka berdua bersiap jika bom itu tiba-tiba meledak,dan benar saja,bom itu dapat dijinakkan dengan baik oleh Ruby


"Apakah...berhenti? Waktunya berhenti.."


Ruby masih terdiam dan memperhatikan waktu dari bom itu, sementara Lauriel mulai merasa lega


"Kamu...kamu berhasil!"


Lauriel kemudian berbalik kepada Ruby dan memeluknya dengan senyuman


"Terimakasih! Entah siapapun kamu! Terimakasih banyak!"


"B-baiklah! Sudah cukup! Hentikan ini! Ini memalukan!"


Ketika Ruby mengatakan itu,senyuman Lauriel hilang dan dia malah menatap Ruby dengan serius


"Kamu...kayanya suara mu ga asing...kamu..Ruby kan? Iya kan!!??"


"Heh?! I-iya... benar.."

__ADS_1


"Woaah!! Kenapa kamu harus pake topeng rubah aneh ini?! Malu ya??


"Aneh katamu?! Asal kamu tau ya topeng ini tuh sangat berharga bagiku!"


"Kalo gitu kenapa ga lepas aja? Aku mau liat muka kamu dong!"


"T-tidak!"


"Eh?!! Kenapa sih? Kamu selalu menghindar dariku?"


"Itu..itu tidak penting! Yang penting sekarang kamu telah aman!"


Lauriel menghiraukan perkataan Ruby dan berjalan mendekatinya,dia hendak melepaskan topeng yang dikenakan oleh Ruby


"Heheh kasih liat dong~"


Ketika Lauriel mendekat Ruby langsung membuat portal dan menendang Lauriel kedalamnya


"W-woi! Kenapa harus pake cara yang sama?!!"


Perlahan suaranya hilang kedalam lubang itu,portal itu menuju kembali kedalam mobil tempat dimana Vera dan Hiki berada


"Aduh!"


Portal terbuka diatap mobil dan Hiki jatuh dari dalamnya


"Lauriel! Kamu kembali,bagaimana bom itu?"


Vera bertanya sembari mengemudikan mobil,sementara Hiki masih duduk disebelahnya dan meliriknya


"Ah makasih,bomnya berhasil di matiin,tadi sama Ruby..."


"Syukurlah kamu selamat"


"Selamat sih selamat,tapi hatiku masih sakit nih! Hiki kenapa kamu melakukannya dengan menendangku?!! Kan kamu bisa mendorong atau menyuruhku saja kan!??"


"Itu cara yang lebih cepat bukan?"


"Ya tapi kan!-"


"Sudahlah Lauriel,kamu sudah aman sekarang,itu yang terpenting!"


Ucap Vera berusaha menenangkan Lauriel yang sedang mengoceh kepada Hiki,namun Hiki hanya terus menghiraukannya


"Kamu benar...yaudah sih... terimakasih Hiki karena telah menyelamatkan nyawaku"


".... tentu...kapanpun..."

__ADS_1


Setelah perjalanan cukup lama, akhirnya mereka sampai di Asgard dan langsung menuju rumah sakit tempat Max dirawat,kecuali Vera,Vera diminta Hiki untuk menemani Lucia berjalan-jalan di kota Asgard,dan juga Hiki telah meminta Ruby untuk meretas sistem keamanan Great Shackles untuk menghapus nama mereka semua dari daftar buronan


__ADS_2